
Chapt 19
"Kalian semua meremehkan ku? Hahh... Sebelum membuktikannya,. Kalian seakan sudah menang. Majulah!" Raditya menghunus pedangnya kearah para ninja.
"Biar aku yang hadapi." Salah satu ninja maju.
Ia memperagakan gerakan kecepatan tangannya. Lalu sebuah senjata yang teramat besar. Seperti pedang dengan dua sisi. Yang digabungkan dengan tongkat besi ditengahnya sebagai gagang pedang itu. Senjata itu memiliki panjang dua setengah meter. Dengan mata pedang yang terlihat seperti celurit.
"Senjatanya? Tapi dia tidak terlihat berat. Senjata yang aneh." Pikir Raditya.
"Majulah." Senjata besar itu diayunkannya.
Raditya melompat. Ia memberikan balasan dari udara. Namun dapat ditangkis dengan senjata yang sama yang menyerangnya. Dan kini Raditya berada di atas. Mereka saling menyerang dan saling menghantamkan senjata mereka.
Sementara dari luar tembok tanah, putri Padmasari telah terduduk di pohon tumbang. Ia menerima air yang dibawa indera dan Bayu. Mereka tengah istirahat sejenak.
"Terimakasih kalian menolongku. Tetapi kalian yakin. Teman kalian dapat mengatasi mereka?"
"Tuan Puteri tenang saja. Dia teman kami yang paling hebat. Dia murid emas perguruan kami. Tentu saja tidak mudah membuatnya terpojok. Kami yakin dia menang." Bayu dengan bangganya.
__ADS_1
"Baiklah. Sepertinya kita istirahat sebentar. Setelah itu, jika diperlukan, kami akan masuk ke dalam." Indera menambahi.
"Hmmm... Sepertinya kalian pendekar baik. Juga hebat."
Kedua pemuda tersebut tersenyum. Mereka masih berdiri dan mengamati tembok tanah yang tetap berdiri kokoh didepannya. Tembok berukuran 10×10 meter itu lumayan luas untuk sebuah pertarungan. Tapi makin lama pertarungan belum ada tanda tanda akan selesai.
"Lama sekali. Sebaiknya aku masuk. Bayu, kamu disini menjaga Puteri!"
"Baiklah. Kau hati hati."
"Iya. Aku masuk."
Raditya mengalami kesulitan karena nafasnya sudah tidak beraturan. Beberapa luka ia dapat di punggung tangan kirinya dan bahu kirinya. Dengan luka lebam di pelipis kanan. Ia masih bertarung. Sementara lawannya masih belum habis tenaganya. Sementara empat ninja lainnya tengah santai.
"Sepertinya nafasmu sudah mulai habis. memiliki lawan lemah sepertimu membuatku muak. Mungkin kau bisa menghadapi ninja ninja sebelumnya. Tapi kau tidak tahu. Kami ninja juga memiliki tingkatan sendiri. Mereka yang kau bunuh adalah ninja pemula. Sedangkan kami adalah ninja master. Cukup mudah mengalahkan seratus ninja pemula, menengah atau diatasnya. Tetapi kami di kelas master, satu orang, dapat mengalahkan seratus orang sepertimu. Ini benar benar buang waktu. Huhhh..." Ninja tersebut duduk.
"Sial. Kau meremehkan ku. Akan kutunjukan siapa diriku. Hyaaatttt!" Raditya maju menyerang.
Ninja tersebut tersenyum. Ia tidak bergerak sema sekali. Sehingga dengan mudah, Raditya menebas ninja itu dan membuat tubuh itu terbelah.
__ADS_1
"Hahaha... Kau terlalu percaya diri." Raditya puas karena pikirnya sudah menang.
"Memang aku terlalu percaya diri." Tiba tiba dari arah belakang, ninja yang terbelah tadi menusukan senjatanya dan menembus perut Raditya.
"Aahkkkk..." Raditya teriak kesakitan. Ia tidak dapat bertahan.
Kilatan cahaya terang dari atas langit. Terangnya cahaya itu, siapapun tidak dapat melihat. Dalam hitungan detik, tiba tiba Raditya tidak ada di tempat itu. Ninja tersebut tersenyum lebar.
"Dasar merepotkan. Tetapi untuk kali ini, akan kulepaskan saja. Lihat apa kau masih bisa bernafas esok hari." Ninja itu menghampiri teman temannya.
"Sepertinya lawanmu lumayan juga"
"Yah hanya serangga kecil. Tapi lumayan bisa olahraga malam hari. Sebaiknya kita pergi dari sini. Hampir pagi. Kita istirahat."
"Yah dari tadi, kami sudah istirahat. Kami tidak melakukan apapun."
Mereka pun meninggalkan tempat tersebut. Mereka terbang dengan menaiki burung rajawali yang berukuran besar. Namun burung itu sangat aneh, karena memiliki warna putih dan bentuknya yang tidak terlalu mirip dengan burung asli.
***
__ADS_1