Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 75 Luka Setelah Pertarungan


__ADS_3

Chapt 75


Walaupun Nindiya bahagia, karena bisa bertemu lagi dengan ayahnya. Tetapi ia tetap merasa sedih. Karena keberadaan suaminya tidak tahu ada di mana. Ia masih terisak di pelukan Daniswara.


"Kau tenanglah, Diya. Ayah pasti akan menemukan suamimu." Janji Daniswara pada Nindiya.


Meskipun Daniswara tidak tahu seperti apa wajah Nehan, tetapi ia harus meyakinkan Nindiya. Jika ia mampu untuk menemukan seseorang yang telah menjadi kebahagiannya. Daniswara tahu, Nindiya adalah seorang pendekar wanita yang hebat. Ia mendengar dari Wardana, kalau burung-burung, telah memberitahu Wardana, kalau Nindiya memiliki ajian yang sangat hebat.


"Ayah ...," hanya saja, Nindiya tidak tahu harus bahagia atau sebaliknya.


Satu sisi, ia tidak ingin melihat ayahnya merasakan kesedihannya. Tetapi sisi lainnya, ia masih belum terima, Nehan yang baru bertemu dengan singkat. Dan langsung menikah dengannya. Awalnya ia adalah seorang gadis bodoh. Ia tidak banyak tahu tentang dunia. Tetapi semenjak ada Nehan, pengetahuannya kini semakin banyak. Disetiap waktu senggang atau saat berjalan berdua, Nehan lah yang senantiasa memberikan ilmu ilmunya. Memberikan pengetahuannya. Bukan hanya sebagai seorang suami. Peran Nehan dalam hidupnya, adalah seorang guru. Dilihat dari pertama kali bertemu, hingga saat ini, ia dengan mudah, menyerap apa saja yang diajarkan Nehan. Apa saja yang Nehan berikan.


Wardana yang terlihat putus asa, hanya bisa memandang pohon yang kini sudah tumbang. Ia terus saja menebas pohon pohon yang tidak bersalah itu. Sekarang, sudah ada puluhan pohon yang telah roboh oleh pedang yang digunakannya.


"Hei, Wardana! kau tenanglah lah dirimu!" meskipun Daniswara berkata demikian, tetapi ia yakin. Kata kata itu, tidak ada gunanya. Tetapi dengan kata kata itu, akan membuat Wardana berpikir. Bahwa yang dilakukannya hanya sia sia.


"Apa kau tahu, Daniswara? Berapa lama, aku tidak bisa bertemu dengan isteri dan anaku?! Pertama Lokahita, dia isteriku yang sangat kucintai. Dia meninggal karena dibunuh oleh saudara perguruannya sendiri. Dan sekarang Nehan. Anaku satu-satunya dengan Lokahita. Bahkan melihat mereka saat saat terakhir pun tidak bisa." Wardana terdiam sejenak. Ia menarik nafasnya dalam dalam.


Dalam posisi tersebut, nampak Wardana kehilangan semangat hidupnya. Ia berharap, Nehan akan kembali, jika tidak, ia hanya bisa berharap kepada Nindiya. Dan sekarang, ia mendekati Nindiya. Dilihatnya perempuan yang telah menjadi menantunya tersebut.


"Satu satunya harapanku. Adalah dirimu, Nindiya!" Wardana memandang Nindiya dengan penuh harap.


"Apa maksudmu?" tanya Daniswara. Ia tidak mengerti, apa yang ada di pikiran Wardana saat ini. Ia hanya berharap, Wardana tidak gila karena kehilangan Nehan.


"Dengarkan Nindiya ...," ia berkata dengan nada mengintimidasi. Membuat Nindiya kebingungan. Apa yang akan dilakukan Wardana pada dirinya.


"Kau katakan! Apa maumu? Kuharap kau tidak berbuat apa apa terhadap puteriku!" ucapan Daniswara dengan lantang. Karena ia tidak tahu, bagaimana perasaan Wardana saat ini.

__ADS_1


Mungkin saat ini, Wardana adalah seorang pria yang kesepian. Seperti dirinya, Daniswara mungkin telah kehilangan isterinya. Tetapi ia masih bersyukur, puterinya sekarang masih hidup. Walau dalam keadaan yang tidak diinginkan.


"Nindiya. Kuharap kau telah mengandung anak dari Nehan." ucapnya penuh harap. Setidaknya itu adalah harapan terakhirnya. Setidaknya, ia harus memiliki keturunan.


"Diya?" kini Daniswara tahu maksud Wardana. Ia pun berharap demikian.


"Tidak ...," jawab Nindiya lalu kembali meneteskan air matanya.


"Sudah, sudah. Jangan sedih lagi."


"Iya." Nindiya mencoba untuk tidak bersedih. Tetapi ia harus tegar. Tidak mungkin ia terus-terusan dalam kesedihan.


***


Sementara di tempat lain, Jumantara dan keempat rekannya tengah merasakan sakit di tubuh mereka. Karena serangan pendekar aliran yang tiba-tiba. Selain itu, mereka sedang dalam keadaan terluka akibat pertarungan sebelumnya. Tubuh mereka saat ini terasa lemas.


"Apa yang harus kukatakan pada kak Nehan?" Kirana sudah lelah. Dan ia harus menjelaskan apa? Karena ia tidak bisa menjaga pedang milik Nehan.


Keadaan mereka saat ini sangat memprihatinkan. Tubuh mereka tidak bisa bergerak dengan leluasa. Seakan tidak memiliki tenaga, walau hanya untuk menggerakkan tangan mereka.


"Bersyukur kita masih bisa bicara." Ucap Gemani, ia masih bersyukur. Setidaknya ia tahu, keadaan mereka masih tetap baik.


"Kau bisa mengatakan itu?" Jumantara tidak tahu jalan pikiran Gemani. Tetapi perkataannya memang benar. Akan tetapi, itu percuma saja. Karena meskipun mereka berteriak keras, mereka belum tentu ditolong seseorang.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku?" Bayu yang tidak tahu menahu, ia mengingat saat mereka diserang tiba tiba. Ia baru tersadar saat ia tidak bisa mengerakan tubuhnya.


Sementara Indera, ia hanya terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia saat ini hanya menatap langit biru. Hanya beberapa ranting dan dedaunan yang menghalangi. Ia juga menatap awan- awan putih yang bergerak ke arah sayang sama. Ia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan mereka.

__ADS_1


"Mungkin kita akan menjadi santapan hewan buas disini?" Gemani bergumam lirih, yang bisa didengar Kirana dan Jumantara.


"Apakah aku sudah mati sekarang?" tiba tiba, Indera mengatakan itu.


"Sungguh kematian ini tidak menyenangkan. Jadi begini rasanya kematian? Bahkan untuk menggerakkan tanganku pun tidak bisa. Rasanya kakiku terasa gatal. Aku ingin menggaruk kakiku ini."


"Ayah, ibu. Maafkan anakmu ini. Aku tidak bisa pulang menemui kalian. Aku sudah mati saat ini." Giliran Bayu yang berpikir, kalau dia sudah mati. Ia tidak tahu dan tidak mendengar apapun. Bergerak pun ia tidak bisa.


Jumantara, Kirana dan Gemani, masih bisa mendengar, melihat dan masih bisa bernafas. Tetapi mereka tidak bisa menggerakkan tubuh mereka. Sementara Bayu dan Indera yang tidak bisa mendengar, mereka berpikir, kalau mereka sudah mati.


Dari kejauhan, terlihat Nindiya bersama Daniswara dan Wardana. Mereka berjalan mendekati empat pemuda pemudi yang tergeletak di tanah. Mereka tidak menyadari kedatangan Nindiya. Hingga Nindiya sudah berada di dekat mereka.


"Apa yang terjadi di sini?" Nindiya menatap keadaan mereka. Nampak pakaian mereka yang terkoyak. Dan terlihat tubuh mereka dipenuhi dengan luka lebam.


"Kak Nindiya? Maafkan kami," Kirana tidak tahu harus berkata apa lagi. Saat ini, ia tidak ingin berpikiran yang tidak perlu. Tetapi ia menyadari. Nindiya bersama dengan dua orang asing.


"Dimana kak Nehan? dan siapa mereka?" tanya Kirana.


Namun Nindiya tidak mengatakan apapun. Ia nampak semakin sedih karena ucapan Kirana, kembali membuka lukanya. Ia meneteskan air matanya kembali.


"Kau tidak perlu mengatakannya." Kirana sadar, dan ia harus berbuat apa. Karena ia tahu, Nehan dalam keadaan yang tidak baik.


Karena tidak adanya Nehan, Kirana pikir, Nehan mengalami luka yang parah. Tetapi ia tidak berpikir kalau Nehan telah hilang dan telah tiada.


"Aku adalah ayahnya Nindiya. Dan orang di sampingku, adalah ayahnya Nehan." Daniswara mengatakan hal itu, untuk memperjelas hubungan mereka.


Setidaknya, dengan mengatakan itu, membuat batin Kirana bertanya tanya. Tetapi ia tidak berpikir lebih jauh. Benar atau tidaknya itu, yang terpenting, mereka harus menyembuhkan diri mereka dahulu. Mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka bisa bergerak lagi. Karena Nindiya dan Daniswara menyalurkan tenaga dalamnya pada mereka yang tergeletak di tanah.

__ADS_1


Luka akibat pertarungan, mereka rasakan kesakitan. Dan memang setiap pertarungan, resiko harus mereka hadapi. Seperti resiko luka yang mereka dapat. Mereka masih beruntung. Mereka hanya mendapatkan luka yang kemungkinan masih bisa disembuhkan. Setidaknya mereka tidak kehilangan anggota tubuh mereka. Ataupun kehilangan nyawa mereka.


***


__ADS_2