Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 92 Akhir Dari Tengkorak Abadi


__ADS_3

Chapt 92


Kini hanya tinggal pemimpin Tengkorak Abadi seorang. Ia tidak menyangka, akan kedatangan tamu yang tidak diundang. Apalagi ia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Kecepatan pergerakan Nindiya yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.


Selama sebulan terakhir, ia memang telah memerintahkan anak buahnya untuk menculik Puteri Padmasari. Akan tetapi, bukan hanya anak buahnya saja. Ia juga dibantu oleh para ninja, yang entah mengapa mau membantunya. Sampai saat ini pun ia tidak tahu menahu tentang para ninja tersebut.


Kini ninja-ninja tersebut sudah tidak diketahui keberadaannya. Pemimpin Tengkorak Abadi kini harus berusaha untuk menyelesaikan rencananya seorang diri. Namun sebelum itu, ia harus menyingkirkan kedua perempuan yang siap bertarung.


"Kalian bersiaplah untuk tinggal di neraka!" umpat pemimpin Tengkorak Abadi tersebut. Ia mengeluarkan kalung berbentuk tengkorak hitam. Ia memanggil makhluk penghuni kalung tersebut.


"Apa itu?" Nindiya kaget, karena ia baru pertama kali melihat asap hitam yang menyembur keluar. Asap hitam tersebut menyerang Nindiya yang masih diselimuti keterkejutannya.


Kemarin Nindiya tidak sadar telah melawan asap hitam tersebut. Karena ia tengah dirasuki iblis yang mendiami tubuhnya. Kini ia harus menghadapi sesuatu yang ia sendiri tidak tahu menahu.


"Kenapa kau tampak kaget?" selidik Gemani yang berada di sampingnya. Ia masih bingung. Kenapa Nindiya terlihat kaget, setelah melihat asap hitam itu.


Nindiya berusaha menghindar. Sementara pemimpin Tengkorak Abadi telah berada di depan Gemani dengan menghunuskan tongkatnya.


Asap hitam tersebut merasuki tubuh Nindiya. Perempuan itu merasakan perbedaan setelahnya. Dalam dirinya terdapat dua iblis yang sedang bertarung. Sementara Nindiya hampir kehilangan kesadaran. Ia berusaha untuk tetap sadar, tetapi ia kini hanya bisa tertunduk. Kepala terasa pusing dan badan panas dingin. Ia memegangi kepalanya, dan berteriak kesakitan.


"Si*l!" umpat Gemani yang tidak mengerti. Ia sedang terpojok. Ia harus menghadapi pemimpin Tengkorak Abadi itu. Sementara perhatiannya tertuju pada Nindiya.


"Lebih baik kau menyerah saja! Percuma saja kamu melawanku." Pemimpin Tengkorak Abadi melayangkan tongkatnya dan mengenai perut Gemani.


Gemani tersungkur ke tanah. Sementara lelaki itu kembali menyerangnya dengan membabi buta. Gadis itu menghindari serangan yang terus-terusan dilancarkan. Ia mundur dengan melompat ke belakang.


"Heh ...." Gemani bernafas tersenggal. Ia berhasil keluar dari situasi sulit tersebut.


Melihat lawan yang berhenti menyerang, dimanfaatkan Gemani untuk menarik nafasnya dalam. Gadis itu memasang kuda-kuda. Ia menggunakan jurus cakaran harimau. Ia mengalirkan tenaga dalamnya di jari tangan dan kakinya.


"Heh ... jurus cakaran harimaumu sudah terbaca olehku ... gadis manis ..." ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Lihat saja siapa nanti!" Gemani berlari dengan kecepatan tinggi. Ia kini menyerang lawannya yang mampu bertahan dengan tongkatnya.


'Tongkat itu yang menghalangiku,' pikir Gemani.


Saat lawan menangkis serangan dengan tongkat, Gemani mundur ke belakang. Pemimpin Tengkorak Abadi berniat menyerang dengan tongkat itu. Namun Gemani yang sudah memperkirakannya, kemudian menendang tongkat itu dengan kakinya. Tongkat yang ditendang itu terlempar ke atas. Gemani tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk menyerang pemimpin Tengkorak Abadi.


"Ini ... ti- tidak!" teriaknya karena tangan Gemani telah menembus perutnya.


Darah mengalir dari perut pria tersebut. Ia mengerang kesakitan. Sampai akhirnya ia menemui ajalnya. Setelah membunuh pemimpin Tengkorak Abadi, Gemani melihat keadaan Nindiya yang diam mematung. Satu matanya berwarna hitam, dan satunya lagi berwarna hijau.


"Ada apa denganmu? Bangunlah!" Namun percuma. Gemani tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Namun Nindiya malah mencengkram leher Gemani.


Gemani yang tidak tahu apapun, hanya bisa menahan sakit. Tubuhnya lemah dan kehilangan seluruh kekuatannya. Ia menjadi lemas, kemudian Nindiya melempar Gemani.


"Gemani!" teriak Jumantara. Ia segera menyusul Gemani dan Nindiya ketika menyadari, pemimpin Tengkorak Abadi tidak turut serta dalam pengejaran Bayu dan Indera. "Apa yang kau lakukan padanya!" maki Jumantara kepada Nindiya.


Nindiya yang dirasuki dua iblis dalam tubuhnya, tidak memiliki kesadarannya. Ia menyerap kekuatan Gemani. Setelahnya, ia menatap Jumantara dengan bengisnya.


"Jangan ... dia sedang kerasukan ..." lirih Gemani dengan sisa-sisa tenaganya.


"Tidak! Apa yang terjadi denganmu?" tanyanya dengan panik. Ia menggenggam tangan Gemani.


"Dia kerasukan ... sepertinya kekuatanku diserap olehnya." Gemani menatap wajah lelaki itu. Lelaki yang telah membawanya ke perguruan Macan Putih. Selama ini, ia merasa bahagia, setiap hari bisa bercengkrama dengan Jumantara. Ia membayangkan kenangan-kenangan itu.


"Si*lan! Apa dia juga memiliki ajian Waringin Sungsang?" gumamnya. Ia menatap Nindiya dalam kondisi dikendalikan dua iblis sekaligus.


Jumantara harus berpikir cepat. Karena Nindiya semakin mendekat. Tetapi karena ada dua sosok iblis yang menguasai kesadarannya, mereka saling bertentangan satu sama lain. Akhirnya salah satu dari mereka tidak bisa bertahan. Iblis yang keluar dari dalam kalung tengkorak harus menerima kekalahannya. Karena memang kesaktian iblis itu lebih rendah.


"Hei ... apa yang terjadi?" tanya Bayu, ketika ia berhasil menyusul Jumantara yang berlari sangat cepat. Ia melihat Gemani yang terbaring lemah di pangkuan Jumantara.


Sementara Indera dan Raditya di belakangnya, pun segera menghampiri. Mereka melihat aura Nindiya yang berbeda dari biasanya. Tubuhnya lemas, dan tidak sadarkan diri. Nindiya ambruk tergeletak di atas tanah. Raditya menghampirinya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengannya?" Raditya menatap Jumantara dan Gemani.


"Dia kerasukan ..." lirih Gemani. Gadis itu akhirnya tidak sadarkan diri.


Terlihat juga pimpinan Tengkorak Abadi yang tewas mengenaskan. Dengan perut yang tembus, karena serangan yang dilancarkan oleh Gemani.


"Bayu, Indera. Kalian coba periksa ke dalam!" perintah Raditya. Sementara ia mengurus Nindiya.


Bayu dan indera menurut saja. Karena Raditya tidak benar-benar bisa mengingat wajah puteri Padmasari. Karena ia baru bertemu sekali. Sementara Bayu dan Indera lebih tahu tentang sang Puteri.


Keduanya memeriksa ke dalam markas tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa ruangan. Mereka memeriksa setiap ruangan dan menemukan satu ruangan yang berbeda. Suatu ruangan dengan desain lebih mewah. Di dalamnya, ada seorang perempuan yang tengah duduk sendiri memeluk lutut.


"Itu bukankah tuan puteri?" tanya Bayu memastikannya.


"Mungkin ..." sahut Indera. Mereka berdua saling berpandangan. Segera mereka menghampirinya.


Bisa dibilang, keadaan tuan puteri tidak terlalu baik. Tetapi tidak terlalu buruk juga. Keadaannya kini terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Saat melihat Bayu dan Indera, ia pun tercengang. Ia melihat dengan tatapan sayu.


"Apakah kalian datang mau menolongku?" Puteri Padmasari bangun dari duduknya. Dilihatnya dua pemuda yang menolongnya tempo dulu.


"Tuan Puteri? Apa kau baik-baik saja?" Indera menghampiri perempuan itu.


"Syukurlah ... akhirnya kalian datang juga. Aku merasa sangat bosan, berada di sini. Rasa-rasanya sudah lama sekali." Ia menunduk. Melihat ke bawah.


"Ayo ... mari kembali ke istana!" ajak Bayu. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Tuan puteri ... akhirnya kami berhasil menyelamatkanmu." imbuh Indera yang tidak kalah senangnya.


Dengan terselamatkannya tuan puteri, akhirnya misi mereka pun selesai. Mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut. Puteri Padmasari berjalan dengan dikawal Bayu dan Indera. Gemani dan Nindiya yang pingsan digendong oleh Jumantara dan Raditya.


Mereka harus secepatnya meninggalkan markas itu. Mereka tidak ingin jika masih ada orang yang masih selamat. Mereka tidak ingin berurusan dengan pendekar golongan hitam lainnya.

__ADS_1


***


__ADS_2