
Chapt 49
Hujan deras membuat tubuh mereka kedinginan. Untungnya sang pemilik rumah memiliki persediaan beberapa bahan membuat minuman hangat. Dengan menyeduh teh panas, akan membuat para prajurit merasa baik.
Nehan membawa Nindiya ke rumah yang dibuat Nehan. Posisi Nehan yang sebagai murid dari tabib terhebat di desanya, membuatnya menjadi orang penting. Ia akan mendapatkan perlakuan baik dari penduduk desa Guntur.
Ia bisa mendirikan rumah yang ditempatinya bersama isterinya. Rumah sederhana itu dibuatnya karena ia yakin akan mempunyai seorang isteri yang akan menemaninya. Dan sekarang, keyakinan itu pun nyata.
"Kamu ganti pakaianmu." Nehan membawa Nindiya ke kamar mereka.
"Rumahmu bagus. Ini kamarmu?" Tanya Nindiya. Ia belum pernah masuk ke rumah ini sebelumnya.
"Ini bukan rumahku. Bukan pula kamarku." Jawaban Nehan membuat Nindiya bingung.
"Lalu?" Ia bertanya tanya. Kalau bukan rumahnya, maka rumah siapa ini?
"Ini rumah kita, sayang."
"Hmmm..." Bola matanya memutar. Ia tidak menyangka jawaban ini yang didapatnya.
"Ya sudah. Kamu mandi dulu. Baru ganti pakaian. Di lemari ada beberapa pakaian baru. Itu semua untukmu." Nehan berniat keluar kamar. Namun isterinya menangkap tangan itu.
"Kamu mau kemana?" Tanyanya.
__ADS_1
"Aku mau menemui para prajurit itu. Kurasa pemilik penginapan membutuhkan bantuan. Kamu di rumah aja. Nanti aku kembali."
"Enggak ganti baju?"
"Enggak. Nanti aja. Aku berangkat."
"Iya. Hati hati."
Nehan meninggalkan tempat tersebut. Ia masih memakai pakaian yang sama. Ia membawa serbuk jahe. Karena ia yakin mereka butuh minuman hangat. Karena pemilik penginapan sudah meminta tolong padanya. Sementara pemilik penginapan sedang memasak air untuk menyeduhnya.
Tak butuh waktu lama. Karena jarak rumah Nehan dan penginapan hanya dua puluh meter. Sebelum ke penginapan, Nehan bertemu beberapa warga yang berada di rumah mereka.
Nehan sampai disana, dan melihat pakaian basah mereka yang belum di ganti. Tentu saja para prajurit entah bawa ganti di perkemahan atau tidak. Jika iya, maka mereka harus kembali ke perkemahan. Kalau tidak, maka tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Kurasa besok saja. Lagian ini hujan deras. Hari sudah mulai siang. Lebih baik kita berangkat pagi hari." Jawab sang Puteri.
Bayu dan Indera hanya bisa menyimak. Mereka juga akan mengawal sang Puteri. Tetapi mereka juga memikirkan sahabat mereka, Raditya. Saat ini keadaan pemuda tersebut sudah membaik. Nafasnya sudah teratur. Walau ia belum sadar dari komanya.
"Baiklah tuan Puteri. Kami akan menunggu esok hari. Kami akan kembali ke tenda. Dan besok pagi, kami akan menjemput tuan Puteri."
Para prajurit sudah merasa kedinginan. Sudah lima belas menit mereka berada di tempat ini. Yah karena jumlah mereka ada dua puluh orang, membuat pemilik penginapan mendadak panik. Meskipun mereka prajurit, harus dilayani dengan baik.
Tak lama kemudian, Nehan sudah datang membawa pesanan pemilik penginapan. Para prajurit pun kaget. Mereka mendapat perlakuan dari warga desa. Berarti mereka memang akan di jamu oleh penduduk desa. Karena beberapa makanan kini sudah tersedia. Ada ubi rebus dan kacang rebus sudah Nehan bawa. Ia mendapatkannya dari warga yang memang sudah Nehan beritahu. Bahwa ada tamu desa yang datang.
__ADS_1
Yah. Desa Guntur memang jauh dari peradaban. Tetapi adab mereka jauh lebih patut dicontoh bagi desa lain. Dimana warga desa Guntur akan saling membantu sama lain.
Tanpa komando, mereka tahu apatugas mereka. Ketika ada warga yang melihat rombongan prajurit, Nehan sudah mengatakannya, perlu uluran bantuan para warga. Dan tentu mereka dengan senang hati membantu.
"Wah. Warga desa ini sungguh baik. Kami hanya prajurit biasa. Tetapi makanan ini sungguh luar biasa. Kami tidak pernah mendapatkannya dari desa lain." Jujur salah seorang prajurit.
"Betul sekali. Desa ini..."
"Ah... Kurasa ini desa yang sangat baik. Isinya orang orang baik."
Berbagai pujian terlontarkan dari para prajurit. Tentu karena mereka untuk pertama kalinya diperlakukan demikian. Desa Guntur tidak termasuk wilayah kerajaan Lokapraja. Bukan hanya kerajaan Lokapraja. Tetapi desa Guntur bukan termasuk wilayah kerajaan lainnya.
Sebuah desa yang terluar dari kerajaan manapun. Dan sudah dipastikan, desa Guntur tidak perlu tunduk atau bayar upeti untuk kerajaan manapun. Mereka tidak tergantung pada pimpinan. Desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa.
"Kalau boleh, kami ingin bertemu dengan kepala desa, di desa ini." Rasa penasarannya membuat prajurit ingin bertemu dan ingin berbicara dengan kepala desa.
"Tuan prajurit. Kurasa kau tidak perlu mencari. Kepala desa yang kau maksud berada di hadapanmu." Pemilik penginapan menunjuk Nehan yang telah berbaur dengan para prajurit.
Sontak mereka semua kaget. Karena diusianya yang begitu muda, mereka percaya dengannya. Apalagi sang kepala desa tersebut berpenampilan sederhana. Tidak seperti seorang kepala desa seperti umumnya.
"Ahh... Kurasa pemuda ini tidak sesederhana yang terlihat." Gumam prajurit.
Mereka memberi salam hormatnya. Tidak menyangka juga. Seorang kepala desa yang mau hujan hujan membawa makanan sendiri untuk menjamu tamu.
__ADS_1
***