Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Pertarungan Dua Iblis


__ADS_3

Wardana menggenggam pedangnya, menyerang pendekar beberapa pendekar yang datang padanya. Dalam menggunakan tenaga dalam, memang ia tidak bisa, tetapi ia ahli dalam menggunakan pedang. Ia dapat mengimbangi gerakan musuhnya, namun ia tetap terpukul mundur. Ini bukan karena kemampuan yang rendah. Tetapi karena ia harus melawan puluhan pendekar saat ini.


Nehan dan Nindiya saling membelakangi. Dengan panahnya, Nehan berhasil menembakan anak panah, tepat ke arah musuh. Sementara, ilmu sapuan angin Nindiya tidak banyak membantu. Ia sudah menggunakan banyak tenaga dalam.


"Nehan, apa kamu bisa menghadapi mereka?" tanya Nindiya. Ia khawatir dengan semuanya. Walau Nindiya tidak bisa membantu mereka sekaligus, setidaknya ia bisa harus mengurangi jumlah mereka.


"Baiklah ... serahkan padaku!" Nehan berharap ia bisa mengatasi mereka. Ia melihat seorang yang hampir diserang. Maka ia melepaskan anak panah ke arah orang yang mau menyerang itu.


"Sialan! Mengapa mereka terus bertambah?" umpat Wardana, ketika ia hampir terkena tebasan pedang dari belakang. Pada akhirnya, pendekar yang di belakangnya terkena anak panah.


Wardana melihat seorang pemuda yang telah membantunya. Pemuda itu bersama Nindiya, membuatnya memicingkan matanya.


"Siapa pemuda itu? Jangan bilang, pemuda itu yang akan menggantikan posisi anakku!" ucap Wardana. Ia melanjutkan menyerang setiap pendekar yang ada di depannya, dan ia merasa pemuda itu tidak asing baginya.


"Nehan ... sebelah kiri!" teriak Nindiya. Ia tidak bisa menyerang beberapa sisi sekaligus. Dengan bantuan Nehan, ia akan dapat mengalahkan musuh.


"Nehan? Tidak mungkin. Tetapi dilihat dari auranya, dia jelas-jelas bukan Nehan, hemm," gumam Wardana. Ia mulai berpikir sambil terus menyerang, sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Ia terkena goresan pedang lawan. Ia yakin itu bukanlah Nehan. Jika itu Nehan, ia akan merasakan auranya. Karena Nehan memiliki aura khusus yang hanya bisa di deteksi olehnya. Dan hanya ada satu orang yang memiliki kemiripan dengan Nehan. "Narendra ..." ungkapnya.


Selama ini, Nehan memiliki saudara kembar yang diberi nama Narendra Hadinata. Ia adalah kakak dari Nehan. Mereka harus terpisah saat usia mereka lima tahun. Narendra yang di buang oleh perguruan golok darah saat itu, karena ada seorang penghianat yang mengetahui Wardana memiliki anak. Namun mereka belum tahu, kalau anaknya kembar. Maka Nehan masih belum ketahuan oleh mereka. Wardana bersama Wardana berhasil menyembunyikan Nehan, tetapi ia tidak tahu, kalau Narendra bahkan berada di luar rumah dan keburu ketahuan.


"Apakah kau Narendra, Anakku?" lirih Wardana dengan raut wajah tidak percaya. Ia yakin itu bukan Nehan. Tetapi karena Nindiya menyebutnya Nehan, ia berpikir kalau ia adalah Narendra. Karena Nehan adalah saudara kembar Narendra.


"Ayah? Kau kah itu? Tapi maaf Ayah. Ini belum saatnya kita berbicara. Kita harus menghadapi mereka dulu!" Narendra namanya. Selama ini memang ia benar-benar bernama Narendra. Ia tidak menyangka, Nindiya akan menyebutkan nama Nehan padanya. Jadi apa salahnya, jika ia berpura-pura jadi Nehan, toh ia tidak berniat buruk pada Nindiya.


"Narendra? Bukankah namamu Nehan?" tanya Nindiya yang masih bingung. Ia melihat ke arah Narendra sebentar. Ia tidak tahu kalau Nehan memiliki saudara kembar.


"Maafkan Nindiya! Aku bukan suamimu. Aku Narendra, kakak kembar dari suamimu."


"Jadi di mana Nehan?" tanya Nindiya bingung. Ia sudah merasa senang saat bertemu suaminya. Namun malah bertemu dengan orang yang berbeda. Karena wajahnya juga sangat mirip.


"Tenang ... dia masih hidup di tempat yang lain. Dia juga yang telah membantuku saat aku berburu di hutan. Ohh ... bagaimana menjelaskannya? Ini sungguh sulit. Saat ini kita sedang bertarung! Yang jelas suamimu itu masih hidup! Jadi kau panggil aku kakak!" Narendra mengambil anak panah di punggungnya, tetapi ia kehabisan anak panah.


"Baiklah, Kakak!" panggil Nindiya. Dengan tangan kosong, ia terus menyerang musuh di depannya.

__ADS_1


Suara benturan pedang, teriakan terdengar. Karena jumlah pendekar golongan hitam yang menyerang sangat banyak, mereka semua terpojok. Narendra kehabisan anak panah. Sedangkan ia bukan ahli pedang ataupun memiliki pedang. Ia juga tidak memiliki kemampuan seperti Nehan yang mampu membuat jebakan mematikan. Ia juga tidak bisa mengobati mereka yang terluka. Ia hanya mendapatkan beberapa obat dari Nehan. Tetapi jumlahnya semakin menipis.


***


"Kau harus mati Daniswara!" Ubhaya kini berhadapan dengan Daniswara. Ia tersenyum licik, karena ia yakin bisa membunuh Daniswara yang tidak sekuat dulu lagi.


"Jangan banyak bicara! Aku sudah tahu maksud kedatanganmu. Ayo lanjutkan!" Daniswara menarik pedangnya. Ia saat ini tidak tahu keberadaan Pedang Langit. Ia hanya menggunakan pedang biasa.


Dalam satu serangan, pedang milik Daniswara berhasil dipatahkan oleh golok milik Ubhaya. Dan kesempatan Ubhaya untuk melancarkan serangannya kepada Daniswara.


"Matilah kau!" Ubhaya mengayunkan golok besarnya kepada Daniswara.


"Ayah!" teriak Nindiya yang melihat ayahnya terkena bacokan Golok Darah milik Ubhaya. "Tidak! Ayah!" Nindiya berlari menangkap Daniswara yang sudah terkapar.


"Hahahaha! Ternyata sangat mudah membunuhmu, Daniswara!" tawa keras Ubhaya. Ia sungguh sangat bahagia, melihat Daniswara bersimbah darah.


Sementara tidak ada yang berani mendekat, jika Ubhaya membawa goloknya. Pengikut Ubhaya pun tidak berani mendekat dalam radius sepuluh meter darinya. Jadi saat ini, tidak ada yang menyerang Daniswara dan Nindiya.


"Ayah!" teriak Nindiya. Ia menangis, karena Daniswara mengeluarkan banyak darah.


"Ayah! Tidak! Jangan tinggalkan aku! Ayaaahhh!" Aura hitam itu muncul lagi. Sosok iblis dalam dirinya tersenyum. Karena amarah Nindiya saat ini tidak bisa dipadamkan. "Akan kubunuh kau!" Nindiya tersenyum. Ia mengangkat tinggi tangannya.


Langit menjadi hitam, petir menggelegar, bumi pun bergetar. Guncangan hebat berasal dari perguruan Pedang Dewa. Dalam perguruan itu, tersimpan Pedang Langit yang memunculkan cahaya kebiruan. Para guru dan guru yang berada di perguruan tersebut pun panik. Apalagi ketika pedang itu terbang ke langit.


"Pedang langit? Tidak! Mungkinkah pemilik pedang itu memanggil?" ucap salah seorang guru.


"Pedang itu, mungkin dipanggil oleh Daniswara?" tebak Wiyakta (Guru dari Raditya). Karena Wiyakta adalah seorang yang mengambil pedang itu sebelumnya, ia lebih paham, ada ikatan antara pedang dan pemiliknya.


Setelah pedang itu terbang ke langit, pedang itu turun lagi ke bumi. Melesat dengan cepat, sampai berada di genggaman Nindiya. Perempuan itu menyunggingkan senyumnya. Dengan pedang ditangan, ia tidak akan takut pada siapapun saat ini kekuatannya meningkat dengan pesat.


"Hoooh ... begini rasanya memiliki tubuh ini. Dan padang ini ... woahahaha akhirnya aku bisa mengendalikan tubuh ini dengan leluasa. Tenang gadis manis, aku akan membalaskan dendammu!" ucapnya pada diri sendiri. Ia mengangkat pedang yang berubah warna menjadi hitam pekat.


"Tidak kusangka. Seorang iblis penghuni pedang langit. Akhirnya aku akan menghadapimu secara langsung!" kata Ubhaya senang. Ia senang karena menemukan lawan yang sebanding dengannya.

__ADS_1


"Hei Ubhaya. Sebelum membunuhmu, ijinkan aku bertarung dengan iblis dalam golokmu itu!" perintah Nindiya yang sedang dirasuki iblis penghuni pedang.


Golok itu mengeluarkan aura hitam. Lalu mengelilingi tangan Ubhaya, hingga akhirnya iblis itu merasuki Ubhaya.


Setelah dirasuki, mereka pun melesat dengan kecepatan tinggi. Mereka saling balas serangan dengan senjata mereka.


Sementara Narendra dan yang lainnya, sedang berhadapan dengan para pendekar golongan hitam.


Narendra yang tidak memiliki senjata, pun memilih untuk menggunakan dua pedang milik musuh yang sudah tewas. Walaupun tidak ada bakat bela diri, ia terpaksa melawan. Walaupun resikonya, ia telah terluka parah.


"Ayah ... maafkan anakmu yang tidak berguna ini!" Narendra yang tidak ahli bertarung, dihampiri oleh Wardana. Wardana membantu Narendra.


"Sudahlah anakku. Setidaknya aku merasa bahagia. Apalagi melihat kau masih hidup. Kau harus tetap hidup. Apa kau yakin Nehan masih hidup?" Dalam pertarungan itu, Wardana sempat mengobrol dengan Narendra, karena musuh masih ragu-ragu untuk menyerang.


"Aku yakin, Ayah. Tetapi dia jadi sangat aneh. Katanya ia termakan oleh senjatanya sendiri."


"Memangnya kenapa?"


"Katanya, seseorang telah memberinya obat penguat emosi. Jadi, dia kadang tertawa sendiri, dan kadang ia malah merayu wanita. Dan dia bertingkah aneh. Tingkahnya sangat aneh, Ayah!" kata Narendra menerangkan.


"Ooh, begitu yah? Baiklah, yang penting dia masih hidup. Apa kau tahu dimana dia?"


"Tidak tahu. Aku tidak tahu jalan pikirannya. Tetapi ia pernah bertemu dengan isterinya dengan meminjam pakaian dan topengku. Ia saat ini entah di mana. Kenapa tidak mau kembali dengan isterinya?"


"Huhh ... anak itu!" Wardana melihat seseorang menyerangnya, ia pun menebaskan pedangnya, yang mengenai perut lawannya.


Pertarungan antara Nindiya dan Ubhaya berlangsung hingga malam hari. Mereka saling menyerang dengan menggunakan banyak kekuatan yang dikeluarkan. Keduanya saling balas serangan dengan kecepatan tinggi. Jika ada orang yang menyaksikannya, mereka hanya bisa melihat beberapa pohon yang tumbang dengan sendirinya. Karena tidak akan bisa dilihat oleh mata.


Mahadri yang sudah berusia lanjut, kelelahan tetapi sudah mengalahkan lebih dari separuh orang tersisa. Ia sudah kehabisan tenaga untuk menggunakan berbagai ajian tinggkat tinggi.


"Apa boleh buat? Tenaga dalamku hampir habis. Jadi aku terpaksa menggunakan ini." Mahadri pun menyerap tenaga dalam musuhnya, untuk menambah tenaga dalamnya.


Sebenarnya ia ingin menggunakan ajian Gelap Ngampar, tetapi ia sadar, ada beberapa orang yang di pihaknya. Seandainya mereka dari golongan hitam semua, mereka bisa dikalahkan dengan mudah. Ia terpaksa menggunakan ajian Waringin Sungsang, untuk menyerap energi lawannya. Walau lebih lama, tetapi ia masih bisa menambah kekuatannya.

__ADS_1


***


__ADS_2