Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 40 Masakan Nindiya


__ADS_3

Chapt 40


Nindiya baru saja menyelesaikan acara memasaknya ketika Gayatri dan Kirana ampai di ruang tengah. Disana sudah tersaji makanan yang disiapkannya sendiri.


"Beneran dia isterinya kak Nehan, Bu?" Kirana melihatnya takjub.


Ia tidak menyangka, keahliannya memasak itu luar biasa. Walaupun Kirana sempat berpikir bahwa kakak iparnya itu adalah seorang gadis yang terkesan bodoh menurutnya. Akan tetapi ia tidak menyangka. Selain bertarung, ia pandai membuat perut Kirana semakin ingin makan.


"Aromanya... Hmmm..." Kirana merasakan aroma masakan yang menggugah seleranya.


"Ayo bibi. Kirana." Nindiya tersenyum senang. Ini pertama kalinya ia membuat masakan dengan porsi yang banyak.


Sejak kecil, walaupun umurnya masih lima tahun, ia sudah belajar memasak dengan ibunya. Maka tidak mengherankan, ia pandai dengan hal hal tersebut.


"Kak Nindiya, apakah kak Nehan baik baik saja?" Kirana bertanya, tetapi ia menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.


"Yah... Dia baik. Kata kakek tabib, dia butuh istirahat." Jawabnya.


"Ooh... Sekarang. Uhuk!" Kirana tersedak makanan.


"Makannya jangan sambil ngomong." Gayatri menepuk bahu Kirana. Lalu memberikan air minum.


"Ehh... Iya iya... Kenapa ada dua lelaki yang sakit sekarang?" Kirana mengingat Raditya yang masih belum sadarkan diri.


"Nama pemuda itu, Raditya bukan?" Gayatri menanyai puterinya yang sedang mengunyah makanan.


"Iya." Jawabnya sambil mengangguk.

__ADS_1


Suasana menjadi canggung. Baik Gayatri atau Kirana masih tidak berani berbicara banyak. Nindiya anaknya pendiam. Jadi mereka tidak terlalu banyak bicara.


"Kalian lanjutkan makannya. Ibu akan menemui Nehan." Gayatri menuju ke tempat Nehan yang sedang terbaring. Ia sudah diobati, tetapi memang fisiknya yang lemah membuatnya hanya bisa terbaring.


Sebuah senyuman kecil tersungging di bibirnya. Dulunya Nehan hanya anak kecil yang pendiam dan tidak banyak bertanya. Ekspresi datarnya dari dulu tidak berubah.


"Bibi." Nehan yang melihat Gayatri mencoba duduk.


"Apa kau sudah mendingan?" Tanyanya. Ia memandangi Nehan yang tengah mencoba mendudukkan posisinya.


"Sudah mendingan." Jawabnya singkat.


Nehan memegangi perutnya karena memang belum terisi makanan. Ia baru bangun dari tidurnya. Karena Nindiya lama menunggu Nehan yang tidak bangun bangun. Membuat Nindiya memutuskan masak. Dan aroma masakannya itu membuatnya terbangun.


"Apa kau mau makan sekarang?" Ia tahu, Nehan sedang lapar. Memang pertarungan semalam membutuhkan tenaga yang banyak. Tak mengherankan kalau mereka butuh tenaga.


"Kau tidak perlu. Kakek guru sudah memeriksanya. Bibi akan membantumu ."


Gayatri membantu Nehan untuk bangun. Seharusnya Gayatri bisa menggunakan tenaga dalamnya untuk menambah kekuatan pada Nehan. Tetapi ia teringat kakek Dewandaru yang melarangnya. Karena kondisi tubuh Nehan dianggap berbeda dari orang lain. Maka ia hanya bisa membantu berdiri. Dan Nehan pun sudah bisa berdiri dan berjalan dengan langkah yang lambat.


"Biar. Aku akan berjalan sendiri." Ia menghalangi Gayatri yang akan membantunya.


Nehan melihat Nindiya yang sedang makan bersama dengan Kirana. Soal makan, mereka terlihat mirip. Sama sama suka makan.


"Ayo kak. Makan yang banyak. Biar cepat gemuk. Kamu terlihat kurus." Kirana tengah berbincang dalam makan. Nindiya dan Kirana kini sedang menikmatinya.


"Iya. Kamu juga."

__ADS_1


"Shuuut!" Anak panah melesat kearah Nindiya.


"Hap!" Dan ia menangkapnya dengan sempurna.


Meski ia sedang menikmati makannya, ia berhasil menangkap anak panah tersebut. Seseorang masuk ke tempat makan tersebut.


"Kakek. Kenapa malah menyerang ku seperti itu?" Nindiya nampak kesal.


"Uhhh... Kakek hanya mencoba refleksmu. Ternyata masih baik." Mahadri tahu Nindiya. Ia akan memanyunkan bibirnya seperti saat ini. Tetapi ini membuat seisi ruangan tersenyum.


"Hahaha... Lucu banget." Gayatri yang melihatnya pun menghampiri Nindiya.


"Bibi?" Nindiya melihat Gayatri yang tersenyum kearahnya.


"Ibu. Ibu ngapain sih?" Kirana menatap ibunya melotot.


"Huh.. Kirana. Ada apa?" Ia melihat anaknya yang memasang wajah cemberut. "Kamu cemburu? Tetapi kamu anak ibu yang paling lucu." Kemudian Gayatri memegang pipi Kirana dan menggoyangkannya.


"Huhhh... Nanti aku jadi kurus kayak kak Nindiya lho." Ketus Kirana.


Mereka melihat kelucuan ibu dan anak yang saling menunjukan kasih sayang mereka. Jarang ini terjadi karena Gayatri tidak selalu berada di sisi Kirana. Karena Gayatri lebih suka berkelana dan kadang sampai berbulan bulan lamanya. Karena itulah hubungan ibu dan anak itu tidak terlalu harmonis. Hanya sekarang mereka menemukannya. Keharmonisan yang setiap orang idam idamkan.


Nehan yang tidak bisa berjalan dengan cepat pun hanya bisa perlahan. Kini ia berada di belakang Nindiya. Setelah Nindiya melihat Nehan, barulah ia membantu untuk duduk.


"Nehan?" Nindiya memapah Nehan untuk duduk. Terlihat badannya yang masih lemas.


Sekali lagi. Pemandangan Nehan dan Nindiya membuat Mahadri tersenyum. Ia tidak menyangka. Anak dari murid kesayangannya kini telah menemukan hidupnya. Setidaknya ia tidak takut apabila bersama Nehan.

__ADS_1


***


__ADS_2