
"Kau galak sekali, Cantik. Tapi tidak apa, karena kamu akan jadi pemuas nafsu kami. Hahaha!" tawa senang pendekar itu sambil mengajak teman-temannya.
"Bajingan!" Wanita itu mengambil pedang dan berusaha menyerang pendekar-pendekar tersebut. Walaupun tidak memiliki kekuatan untuk bertarung, ia tidak akan menyerah untuk membela diri. Apalagi ia membela anaknya.
"Wohhh ... eee, tidak kena. Tidak kena, hahaha! Kamu wanita cantik yang lumayan bergairah, huahahaa!" tawa seorang pendekar dengan disusul yang lainnya.
Serangannya hanya dihindari mereka. Dan beberapa saat kemudian, para pendekar kejam itu berhasil menangkis pedang dan merebutnya dari tangan wanita lemah itu. Kini mereka membuang senjata mereka ke tanah dan memutuskan untuk menangkap wanita tersebut.
"Tolong! Lepaskan saya!" teriak wanita itu dengan keras. "Apa kalian tidak tahu, siap saya? Akhhh! lepaskan!"
"Hmmm ... hohoho ... betapa indahnya dirimu, sayang. Aku tidak tahu siapa dirimu, yang kutahu dirimu sangat manis dan menurut kami, kamu kuat menghadapi kami semua, kan?"
"Ayo manis. Layani kami yang di sini, hehehe. Dijamin diri kami dan dirimu akan puas, hemm." Pendekar itu mencoba membuka pakaian wanita yang lemah itu dengan paksa.
"Tolong ... tolong lepaskan saya!" Tangannya kini telah dipegangi dua lelaki yang memandangnya terus. "Kalian biadab! Kalian semua manusia kurang ajar! Apa kalian tidak tahu siapa saya?"
"Percuma cantik ... kamu tidak bisa minta tolong pada siapapun. Uhhh. Kamu cantik sekali? Dan kami akan tahu siapa dirimu ketika sudah dapat melayani kami, huahahaa!"
"Benar sekali! Kamu akan menjadi wanita yang paling beruntung, huahahaa! Ayo semuanya, kita lakukan sekarang!"
"Ibuu!" teriak Nindiya. Ia keluar dari dalam lemari. Karena mendengar apa yang ada di luar, membuat gadis itu penasaran dan ingin menyelamatkan ibunya dari tangan para penjahat itu.
"Hei, kenapa ada anak kecil di sini? Hei, apakah kamu anak dari wanita cantik ini? Wah, kita terlambat, dia sudah punya anak?Tapi tidak apa, karena dia pastinya juga sangat ahli, bukan?"
Yang lain menyahuti dengan tertawa senang. Mendengar perkataan rekannya yang penuh dengan godaan nikmat. Sementara mereka tidak akan melihat gadis kecil itu. Karena hanya akan menggangu mereka dalam kejahatannya.
"Bocah tidak berguna. Hajar dia," tunjuk si pemimpin dari kelompok itu. Ia tidak akan kasihan walau itu kepada anak kecil sekalipun.
__ADS_1
"Iya, Tuan." Seorang lelaki yang mendapat perintah, lantas memukul wajah Nindiya. "Matilah kamu anak kecil!"
"Ahhh sakit!" Gadis itu tersungkur ke tanah. Wajahnya yang memerah mengeluarkan darah. Tampak biru lebam di wajahnya.
"Nindi! Kau apakan anaku, hah? Kalau berani, bunuh aku saja." Tak rela wanita itu melihat anaknya yang tersiksa. Namun untuk melepaskan diri dari cengkraman mereka pun tidak sanggup.
"Ini beneran anak kamu, kan? Manis juga ... tapi kamu lebih cantik dan begitu mempesona, hemm? Setelah kamu, nanti giliran gadismu ini. Kau tenang saja dan nikmati apa yang akan kami lakukan padamu.
"Tidaaakkk!" teriak wanita itu. Tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. "Kalian manusia jahat! awas, kalian akan mendapatkan balasannya," rutuk wanita itu dengan raut penuh emosi.
"Hahaha! Teriaklah dengan keras, sayang. Teriak lah dengan suara paling keras yang pernah ada! Dengan begitu, kami semakin bersemangat untuk membuatmu mati karena merasakan nikmat tiada terkira!"
"Hahahaha! Kita pasti akan membuatku puas malam ini, sayang. Tidak akan ada yang menyelamatkanmu dari rasa yang akan datang."
Kedua tangan dan kakinya tidak dapat berguna karena dipegang oleh para penjahat itu. Sementara Nindiya tengah disekap salah satu penjahat. Setelah tubuhnya babak belur dan rasa sakit membuatnya tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Namun dalam keadaan masih tersadar. Membuat rasa sakit berkali lipat.
"Cuihhh! Tidak Sudi! Tubuh ini hanya milik suamiku seorang. Kalian semua akan mendapatkan karmanya. Suamiku akan membunuh kalian semua! Lihatlah kematia kalian semua!"
"Ooh ... ini sungguh sangat menarik. Kamu akan menyambut kedatangan suamimu, asal dia mau bergabung dengan kami, hehehe."
Wanita tersebut berteriak dan berhasil melepas satu tangannya. Ia berhasil meraih pisau dibelakangnya dan berhasil menggores lehernya sendiri. Membuatnya mengeluarkan darah segar. Ia tersenyum memandang Puteri kecilnya. Seakan memberi ucapan selamat tinggal.
"Siall. Wanita ini lebih memilih mati!" keluh sang pendekar dengan rasa penyesalan. "Kalian ini sangat bodoh! Mengapa kalian bisa-bisanya melepaskan wanita itu!" Amarahnya sangat dalam karena tidak dapat menikmati wanita yang memiliki kecantikan luar biasa itu.
"Ibuuu ... huhuhu, apa yang terjadi padamu, Bu?" lirih Nindiya menangis karena kesedihan. Ia telah melihat ibunya sendiri bunuh diri dengan cara yang menyakitkan itu.
"Tidak!" Seorang pria tiba-tiba muncul dan menghabisi seorang penjahat yang ia temui. "Kalian manusia laknat!" Tanpa memberi ampun, dia menghabisi setiap yang ia temui. "Kalian semua lelaki biadab!"
__ADS_1
"Daniswara!" teriak salah satu dari mereka. "Mengapa dia ada di sini? Akh, sialan;" teriak pendekar jahat itu ketika menyadari telah masuk ke rumah yang salah.
"Ayah!" lirih Nindiya dengan rasa sakit yang tidak tertahankan. "Mengapa ayah baru datang? Lihat ibu, Ayah, huhuhuu ...."
Mendengar nama Daniswara, membuat para penjahat tersebut mulai bergidig. Mereka tidak menyangka akan berhadapan dengannya. Apalagi mereka berurusan dengan keluarganya. Membuat nyali mereka menciut. Tentu saja mereka tahu nama itu. Dan nyali mereka menciut saat berhadapan dengannya. Yah mereka tidak ingin mati konyol karena berurusan dengan Daniswara. Namun apalah daya mereka. Mereka harus menerima kematian.
Sebelum berkata, kepala mereka telah terpisah dari tubuhnya dalam hitungan detik. Daniswara memeluk Nindiya agar tidak melihat semuanya. Ia menutup mata Nindiya. Dan melihat sosok wanita yang tidak bernyawa bercucuran darah.
"Tidak, Arini. Kenapa kau meninggalkanku? Maafkan aku yang terlambat, Arini." Tak kuasa ia membendung air matanya. Melihat sang istri tergolek dengan darah mengalir dari lehernya.
Nindiya sudah tidak sadarkan diri. Anak kecil yang terlalu lemah, tidak sanggup menghadapi tekanan seperti ini. Daniswara menyentuh pipi wanita tersebut dan hanya bisa menyesali apa yang telah terjadi.
"Maafkan aku, istriku. Aku terlambat menyelamatkan kalian berdua. Aku seorang lelaki yang tidak berguna! Andaikan aku tidak terlambat. " Daniswara mengepalkan tangannya, dengan amarah yang terlihat jelas. "Aku harus membunuh mereka semua!" Daniswara bangkit lalu melangkah keluar untuk membunuh para pendekar hitam itu.
Dengan menggendong Nindiya kecil, Daniswara berlari keluar rumah. Ia menebas semua pendekar aliran hitam yang dia lihat. Hanya sekali tebas, ia bisa membelah puluhan pendekar.
Biarpun pendekar memiliki Kanuragan tinggi, tetapi tidak ada yang bisa bertahan hidup dari tebasan pedang langit yang dipakainya. Selain dari penggunanya, pedang langit memiliki kekuatan membelah yang sangat dahsyat. Bahkan bukit pun bisa terbelah walau hanya terkena tebasan anginnya.
Semakin hebat seseorang menggunakan pedang langit, maka semakin baik juga daya serangnya. Kalaupun ada jutaan pendekar, karena daniswara yang menggunakan. Maka dengan sekali tebasan ini bisa membunuh mereka dengan hitungan detik.
"Ibu ... Ayah ...." Nindiya pun bangun di gendongan Daniswara.
"Kamu sudah sadar, Nak? Tenangkan dirimu, Ayah ada di sisimu selalu." Melihat putri kecilnya yang telah kehilangan sosok sang ibu, membuat Daniswara tidak akan pernah memaafkan mereka semua.
Daniswara melihat sekeliling. Dari arah jauh, ia merasakan ada jutaan pendekar yang bersiap menyerang. Dan ia juga merasakan ilmu kanuragan yang sangat besar mendekat.
***
__ADS_1