
Pertarungan antara ke dua iblis tersebut berlangsung hingga menjelang fajar. Mereka terlalu banyak menggunakan kekuatan mereka yang hampir seimbang. Karena mereka tidak kuat lagi, mereka pun kembali ke dalam senjata mereka.
Nindiya jatuh tersungkur. Ia menahan tubuhnya dengan pedang langit yang ia pegang. Sementara Ubhaya pun melakukan hal yang sama. Kini mereka sudah tidak dalam pengaruh iblis penghuni Pedang Langit dan Golok Darah.
"Huhh ... apa yang terjadi denganku? Oh Ayah! Kau telah membunuh ayahku!" Ia mengingat sebelum ia dirasuki, bahwa Ubhaya telah membunuh ayahnya. Sekarang ia merasa pusing. Namun tidak bisa menghentikan rencananya untuk membunuh Ubhaya.
"Hehhehee ... gadis kemarin sore, mau main-main denganku." Ubhaya tertawa
kecil. Sudah lama ia tidak memiliki lawan sebanding dengannya. Terakhir kali, ia melawan Daniswara, yang pada akhirnya, Daniswara pun telah meninggalkan dunia ini.
Nindiya melesat mengayunkan pedangnya. Ubhaya yang tidak siap, terkena goresan di pundaknya. Walaupun ia sempat menahan dengan goloknya, pedang itu nyatanya lebih cepat.
"Kurang ajar! Gadis manis sepertimu beraninya melukaiku. Bagaimana jika kau menemui ayahmu di neraka!" Ubhaya balik menyerang.
Ubhaya dan Nindiya bertukar beberapa jurus. Nindiya nampak terampil menggunakan pedang, meskipun ia tidak pernah menggunakan pedang sebelumnya. Ia selalu bertarung dengan tangan kosong. Kondisi mereka saat ini pun sudah terlalu lelah. Gerakan mereka lebih lambat dari sebelumnya.
"Hah ... hahhh ... hahhh ...." Nafas Ubhaya sudah tidak beraturan. Ia sudah sangat lelah. Apalagi saat ia dirasuki oleh penghuni goloknya. Iblis itu menggunakan sebagian tenaga dalamnya.
Walaupun sudah bertarung lama, juga sebagian tenaga dalamnya diserap oleh iblis yang merasukinya, nyatanya Nindiya masih bernafas dengan tenang. Ini karena ia sering melatih pernafasannya dari Mahadri. Untuk membuatnya lelah, setidaknya ia harus melawan dua orang seperti Ubhaya.
Walau tidak terlihat lelah, nyatanya tenaga dalam yang dimiliki sudah tidak banyak lagi. Apalagi Pedang Langit yang terus menyedot kekuatannya, seiring digunakan dalam jangka waktu tertentu.
Melihat Ubhaya yang sudah terlihat lelah, Nindiya pun menyerang Ubhaya. Perempuan itu melancarkan serangan bertubi-tubi, hingga Ubhaya terpojok. Pada akhirnya Ubhaya kembali menerima goresan di dada sampai perutnya.
"Mengapa? Aku bisa kalah oleh seorang gadis?" Ubhaya tergeletak di tanah. Sedangkan golok itu terlempar jauh.
Karena hantaman keras, ditambah tangan Ubhaya yang tidak bisa menggenggam dengan baik, membuat golok itu terpental sangat jauh.
"Apa kau akan membunuhku?" Ubhaya tidak ingin mati. Ia berharap Perempuan itu tidak membunuhnya.
Namun Nindiya malah menancapkan pedang itu di perut Ubhaya. Ubhaya menghembuskan nafas terakhirnya. Setelah itu, Nindiya pun bergegas menghampiri mayat Daniswara.
"Ayah ... huhuhu ..." tangis Nindiya ketika melihat tubuh sang ayah terbujur kaku tergeletak di tanah. Ia memeluk tubuh ayahnya.
__ADS_1
"Maafkan kakek yang tidak bisa membantu ayahmu, Nduk!" ucap Mahadri. Orang itu terlihat sangat lemah. Ia pun terjatuh di belakang Nindiya.
Sementara Narendra terluka sangat parah. Ia dipapah oleh Wardana untuk menemui Nindiya yang sedang menangis sesenggukan.
"Kakek guru?" Wardana yang sedang memapah Narendra, tidak sanggup menangkap Mahadri yang terjatuh.
Wardana kemudian berjongkok, sambil meletakan kepala Narendra di pahanya. Saat ini, keadaan Narendra pun sangat parah. Banyak luka tusukan yang didapatkannya.
"Kakek!" panggil Nindiya. Perempuan itu menghampiri Mahadri yang terjatuh.
"Kakek lelah, Nduk. Biarkan kakek istirahat. Kakek meminta maaf padamu. Karena kakek, hidupmu menderita." Mahadri berkata lirih. "Aku doakan kau akan bahagia di hidupmu yang masih panjang. Sini cucuku yang cantik. Aku mau lihat wajahmu!" Mahadri mengelus wajah Nindiya yang mengeluarkan air mata.
Pada akhirnya, Mahadri menyusul Daniswara. Seorang guru dan dua muridnya yang saling membunuh, harus mati dalam jangka waktu yang berdekatan. Kini tiga legenda dunia persilatan kehilangan sosok pendekar terkuat di wilayah kerajaan Lokapraja. Saat ini tinggal Nindiya seorang. Ia adalah kandidat sebagai pendekar terkuat di wilayah kerajaan Lokapraja. Selain karena murid dari Mahadri langsung, ia juga pemegang pedang langit.
"Nindiya?" panggil Narendra.
Nindiya menoleh ke arah Narendra. Ia pun memandang pemuda itu. Sungguh ia seperti melihat Nehan. Wajah mereka sama persis. Tetapi berbeda dengan Narendra, Nehan terlihat lebih pendek dari Narendra. Selain itu, sifat mereka pun tidak sama.
"Dengarkan aku, Nindiya! Kau jangan larut dalam kesedihanmu ...," pinta Narendra. Dari mulutnya keluar darah, tetapi ia melanjutkan apa yang harus ia katakan. "Nehan, suamimu masih hidup. Tetapi dia bertingkah sangat aneh. Ia tidak seperti Nehan sebelumnya. Ia mengatakan, bahwa ada seseorang yang mungkin telah memberinya obat penguat emosi."
"Yah ... uhuk-uhuk! Obat itu membuatnya menjadi seperti orang gila. Emosinya akan lebih kuat dari biasanya. Maka jika kau menemukannya, kau harus bisa menerima dia."
"Di mana dia?"
"Entahlah ... tetapi kumohon temukan dia!"
Nindiya menganggukkan kepalanya. Ia tidak peduli harus pergi ke mana saja. Ia hanya ingin berjumpa dengan suaminya. Tujuannya sekarang adalah menemukan Nehan. Dimanapun ia berada. Sebelum itu, ia harus mengubur jenazah Mahadri dan Daniswara.
"Ayah ... aku lelah. Bolehkah aku beristirahat? Aku bersyukur bisa bertemu denganmu untuk terakhir kalinya." Suara lirih Narendra karena sudah merasa hidupnya tidak lama lagi.
"Apa yang kau katakan, Narendra? Kau akan segera sembuh!" protes Wardana. Ia tidak ingin kembali berpisah dengan anaknya. Tidak ingin. Tetapi takdir berkata lain. Narendra pun menghembuskan nafas terakhirnya. "Tidak ... Narendra!" Teriak histeris Wardana, tidak menyangka, hanya dipertemukan dengan anaknya hanya sebentar saja.
***
__ADS_1
Nindiya dan Wardana mengubur ketiga orang yang mereka sayangi. Nindiya menangis di depan makam ayahnya, sementara Wardana menangis di depan makam anaknya. Keduanya menghabiskan waktu seharian. Bahkan sejak kemarin, mereka belum memakan apapun. Yang mereka rasakan hanya kesedihan, karena ditinggalkan orang yang mereka sayangi.
"Nindiya?" panggil Wardana.
"Iya, Paman," jawabnya dengan masih terurai airmatanya.
"Jangan panggil saya paman. Panggil aku Ayah!" Pintanya.
"Ayah?" Nindiya menengok ke arah Wardana. Mengapa orang itu harus di panggil ayah?
"Aku adalah Ayah mertuamu bukan? Jadi, jika kau masih menganggap Nehan sebagai suamimu, panggil saya Ayah!" putusnya.
"Baiklah, Ayah!" ucapnya tanpa menoleh ke arah Wardana.
"Apakah kau mau mencari suamimu bersama Ayah mertuamu ini?" tanya Wardana. Dengan mengajak Nindiya bersamanya, ia ingin berhubungan baik dengan menantunya. Setidaknya, Nindiya bisa menemaninya saat kesepian. Ia bisa menggantikan peran Nehan atau Narendra sebagai anaknya.
"Baiklah. Aku akan mencari Nehan bersamamu!" putus Nindiya. Dengan adanya Wardana, Nindiya ingin mempertemukan Nehan dengan ayahnya. Ia juga bisa menganggap Wardana sebagai pengganti ayah kandungnya. Lagian, mereka telah menjadi menantu dan mertua. Jadi apa salahnya mereka menjadi seperti ayah dan anak?
"Kapan kita akan mencari Nehan?" tanya Nindiya.
"Secepatnya. Lebih baik, kita tinggalkan tempat ini. Akan lebih baik, jika kita tidak berurusan dengan mayat-mayat ini. Ayah akan menyuruh orang-orang desa sebelah untuk mengubur mereka. Kurasa Ayah masih memiliki cukup uang." Wardana berdiri menghampiri Nindiya. "Ayo anakku. Kita cari suamimu!" ajak Wardana yang mendapatkan senyuman atas jawaban Nindiya.
Perjalanan mereka pertama adalah desa Papringan. Desa terdekat yang berada tidak jauh dari desa Banyuasih. Wardana pernah mendengar, ada tukang gali kubur yang sangat membutuhkan uang. Tentu mereka mau mengubur mayat-mayat para pendekar yang ada di desa Banyuasih.
Nindiya mengangkat pedang langit, dan membawa serta pedang itu. Ia tahu pedang itu adalah satu-satunya pedang milik ayahnya. Ia mengingat, Daniswara pernah mengatakan, kalau pedang langit akan menjadi miliknya. Dan sekarang sudah terbukti. Pedang itu ada padanya sekarang.
Tantri sudah tiga hari mencari keberadaan Raditya yang keluar dari perguruan. Ia tidak tahu mengapa keluar dari perguruan. Tetapi ia sudah berjalan cukup jauh. Hingga akhirnya ia menyerah. Ia memutuskan untuk pulang ke dalam perguruan.
"Hei itu seperti golok. Tapi sangat besar! Wahh keren sekali!" Tantri merasa kagum dengan apa yang ditemukannya. Sebuah senjata berbentuk golok, dengan garis merah darah di punggungnya. "Aku akan menyembunyikan golok ini. Jangan sampai orang lain tahu, kalau aku memiliki golok ini."
Tantri menggenggam golok yang tertancap di sebuah batu. Ia menarik golok itu dengan seluruh kekuatannya. Tetapi tidak bisa juga. Ia tidak menyerah. Ia terus berusaha hingga merasa sangat lelah. Tanpa di duga, jarinya tergores mata golok, dan mengeluarkan darah. Golok itu pun menyala, garis merah dalam golok itu menyala terang. Setelah berusaha lagi, Tantri berhasil mengangkat golok tersebut.
"Akhirnya!" ucapnya senang.
__ADS_1
Dari golok itu mengeluarkan aura hitam. Merasuk ke dalam tubuh Tantri. Perempuan itu akhirnya tersenyum mengembang.
***