Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 28 Ahli Racun Kebal Racun


__ADS_3

Chapt 28


Dua orang dari perguruan Kobra Ireng mengawasi sambil menikmati hidangan mereka. Dua sosok pendekar berpakaian abu abu, tengah saling pandang. Sunggingan senyum nampak dan kerutan kerutan tanda umur mereka yang tidak lagi muda.


"Baiklah. Mangsa memasuki perangkap." Senyum keduanya mengembang.


"Tidak kusangka, tebakanmu benar. Setelah mereka memasuki perangkap, kita bunuh mereka."


"Yah... Aku berharap kita tidak perlu repot repot. Sebaiknya racun itu akan membunuhnya.


"Yah. Kita lihat saja nanti."


Sementara di kamar Kurasenta, ia melirik sebuah asap dari dupa yang berada di dalam kamar. Ia bertanya pada seseorang disana.


"Maaf tuan. Mengapa kau menyalakan dupa?" Ia merasa aneh. Dan tercium bau harum. Tetapi firasatnya mengatakan lain.


"Ini asap khusus dari penginapan kami tuan. Ini untuk pengharum ruangan. Sekaligus untuk mengusir nyamuk. Karena disekitar desa ini, banya nyamuk yang mengakibatkan orang sakit. Makanya kami membuat pengharum ini." Jawab pelayan tersebut. Ia pun berpamitan. Dan meninggalkan kamar tersebut.


"Tuan." Kurasenta menatap tuannya. Ia masih menggendong gadis itu bersamanya.

__ADS_1


"Aku sudah tahu. Kau tenang saja. Asap itu tidak akan berpengaruh pada kita. tetapi gadis itu. Sebaiknya kau memberinya penawar."


"Baik tuan."


Bermain dengan racun adalah keahlian mereka. Dari berbagai jenis racun pun mereka ketahui. Dari racun bentuk cairan, padat ataupun gas sekalipun. Bagi mereka, tidak ada yang bisa mengalahkan ilmu racun mereka. Bagi mereka, ini hanya mainan anak kecil saja. Mereka tidak tahu berhadapan dengan siapa.


Jayasetya langsung mengistirahatkan badannya di satu kamar. Kurasenta di kamar yang sebelahnya meletakan gadis itu di kamar tersebut. Ia lalu duduk di tepi ranjang lalu memberikan sebuah ramuan dari botol kecil yang dibawanya.


"Racun di dalam tubuhmu telah bercampur. Untuk melawan racun yaitu dengan racun juga. Dan ini racun terakhir yang akan kuberikan. Dan racun terakhir ini, maka kamu akan kebal terhadap semua racun. Dan tidak akan ada yang bisa meracunimu sekarang."


Ia mendengar suara kaki. Ia tahu siapa dalang dibalik racun asap tersebut. Dengan sekali lempar, orang tersebut terkena senjata beracun berbentuk sabit. Tewas seketika.


***


"Desa Guntur ini pasti akan dirahmati. Seorang tabib muda, menikah dengan pendekar wanita. Tentu saja keduanya pasangan yang serasi. Hahaha..." Lelaki tua tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah tabib tua sekaligus seorang penghulu di desa Guntur.


"Kurasa kau masih seperti yang dulu. Teman lamaku." Kakek Nindiya tersenyum ia tidak menyangka kedatangannya ini mempertemukannya pada teman lamanya yang sudah lama tidak bertemu.


"Ahh.. mengapa kau kakek tua. Umurmu sudah tidak muda lagi. Tapi lihatlah. Cucu cucu kita sudah menikah. Ha... Sekarang aku juga sudah menemukan penerusku. Tetapi lihat dirimu. Kau tidak mungkin kan mengajari seorang gadis ilmu yang berbahaya itu? Hahaha... Kau sudah kalah sekarang." Meminum teh yang ada di mejanya.

__ADS_1


"Yah sepertinya aku terlalu sombong. Dulunya aku rasa aku sudah di atas angin. Melihat dua murid kesayanganku sangat hebat." Mengingat masa lalu.


"Mahadri." Setelah sekian lamanya, ini pertama kali nama itu dipanggil.


"Ahh... Rasanya aku pun lupa namaku. Tetapi kau mengingatkanku."


"Yah kau sudah tua. Jelas kau sudah lupa. Tetapi aku akan selalu mengingat namamu. Dan ingatanku ini masih seperti dulu. Kedua muridmu itu tumbuh dengan baik. Tapi aku kagum dengan Daniswara."


"Yah Daniswara itu hebat. Hanya waktu singkat, ia berhasil mempelajari ilmu ilmu yang kuajarkan."


"Ehh... Bukan itu maksudku. Tua Bangka."


"Apa?" Ia tidak terima dipanggil tua bangka. Walaupun ia menyadari umurnya sudah tidak muda lagi.


"Maksudnya, anak perempuannya sangat cantik."


Sontak, Mahadri pun menyemburkan air minumnya. Ia tidak menyangka, itu kata yang diucapkan oleh seorang tabib yang sudah berumur tersebut.


***

__ADS_1


__ADS_2