
Chapt 53
Raditya perlahan membuka matanya. Pandangan pertamanya adalah wajah kedua sahabatnya yang sudah memasang wajah senangnya. Kedua lelaki tersebut tentu senang. Raditya telah melewati masa kritisnya. Hanya saja tubuhnya masih sulit untuk digerakkan.
"Raditya, akhirnya kamu sadar juga." Ucap Bayu.
"Kami sangat khawatir akan keadaanmu." Imbuh indera.
"Hei... Ada apa kalian. Akkkhh..." Ia mencoba bangun, tetapi sakit di perutnya membuatnya hanya berteriak.
"Kau baru bangun. Jangan dipaksakan dulu. Indera, bisakah kamu mencarikan makanan untuk Raditya?" Pinta Bayu.
"Akhh... Enak sekali kau memerintah. Tapi baiklah, aku akan segera kembali. Kau jaga dia." Indera meninggalkan tenda.
"Kau sudah aman sekarang. Lebih baik, kamu harus lebih banyak istirahat." Bayu memeriksa Raditya.
Bayu menyalurkan tenaga dalamnya, agar Raditya segera pulih. Karena tenaga dalamnya yang lemah, ia harus mendapatkan lebih tenaga.
Tidak beberapa lama kemudian, indera sudah membawakan bubur yang ia dapatkan dari warung makan. Ia sudah memesan itu, karena mereka pikir Raditya akan segera sadar.
"Ini aku bawakan bubur. Tetapi kata tabib, kau harus minum air hangat dahulu." Terang indera.
Indera membawakan air hangat di dalam teko yang terbuat dari tanah liat. Kebetulan mereka pun ikut minum. Karena mereka juga haus setelah mencari sang Puteri yang tidak ketemu.
"Tabib? Ah... Aku lupa, terima kasih, kalian telah menolongku." Ucapnya tulus.
"Kayak dengan siapa? Kami ini rekan yang sangat cocok bukan? Inilah gunanya rekan, teman dan sahabat. Lagian kami masih membutuhkan bantuanmu." Ujar Bayu. Merangkul indera.
__ADS_1
"Maksudmu?" Tanyanya heran.
"Tidak. Sebaiknya kau istirahat dulu. Memang Bayu ini ngomongnya ngaco."
"Bayu? Bisa jelaskan semuanya? Apakah tuan Puteri baik baik saja?" Tanyanya lebih menyelidik.
Raditya memandang kedua sahabatnya. Karena ia pikir, mereka menyembunyikan sesuatu darinya. Entah apa itu.
"Lebih baik kamu sembuhkan lukamu dahulu. Dia baik baik saja. Malah kamu yang sakit." Terang Bayu masih menyembunyikan sesuatu rahasia.
"Benar, kamu harus sembuhkan lukamu. Kami tentu membutuhkanmu untuk melaksanakan misi lainnnya." Imbuh indera.
"Baiklah sekarang aku bisa bernafas lega. Setidaknya tuan Puteri tidak apa apa. Apakah aku bisa menemuinya?"
Ia ingin memastikan apa benar yang diucapkan kedua sahabatnya. Tetapi benar juga, ia masih lemah. Tak perlu memikirkan hal lain. Tetapi ia harus memastikan.
"Tidak, dia sekarang sudah berada di istana. Para prajurit pun akan segera ke istana. Lebih baik, kita kembali ke perguruan." Ucap indera.
"Kamu minum dulu. Lalu makan. Aku akan menyiapkan obat yang diberikan tabib. Kamu jangan tidur dulu." Bayu meninggalkan tempat itu.
Raditya menurut. Ia memang sangat lapar. Terhitung semenjak kejadian itu, Raditya tidak sadarkan diri selama empat hari. Selama itu, ia tidak makan apapun. Tenaganya harus diisi.
Karena sang Puteri tidak mereka temukan, para prajurit meninggalkan tempat tersebut. Raditya pun dibawa kembali ke perguruan Pedang Dewa. Indera dan Bayu bergantian mengendarai kereta kuda.
Jarak antara desa Papringan ke desa Banyuasih, memang dekat. Hanya dua jam perjalanan, mereka telah sampai ke desa Banyuasih. Mereka sudah sampai di tepi sungai dimana mereka pertama kali melihat Nindiya.
"Ini tempat pertama kali kita bertemu dengan perempuan itu bukan?" Tanya Raditya. Ia telah melihatnya. Ia juga mendengar aliran sungai.
__ADS_1
"Iya. Apa kau rindu dengan Nindiya?" Tanya Bayu.
"Nindiya? Siapa dia?" Tanyanya bingung.
Tentu Raditya tidak tahu siapa nama perempuan itu. Mereka hanya bertemu sekali. Lagian mereka tidak meninggalkan nama. Mereka tidak bertukar nama.
"Itu, perempuan yang kau anggap gila itu. Dia namanya Nindiya." Jawab Bayu.
Sementara indera yang kini sedang mengendalikan jalannya kuda, hanya bisa menghela nafasnya. Ia tidak bisa berbincang karena konsentrasi dengan apa yang sedang ia lakukan.
"Darimana kamu tahu? Kalau perempuan itu bernama Nindiya?" Tanyanya bingung.
"Kita bertemu dengannya. Dia bersama tabib yang menolongmu." Jawabnya.
Bayu harus hati hati, ia tidak akan mengatakan kebenaran bahwa Nindiya sudah menikah. Walaupun Raditya baru sekali melihatnya, tetapi Bayu yakin, kalau Raditya suka dengan perempuan itu. Sebisa mungkin, ia harus menyembunyikan semua itu.
"Dimana sekarang perempuan itu?" Tanyanya.
"Dia ada di desa lain. Kamu tidak perlu khawatir. Kita akan menemuinya setelah kamu sembuh."
"Baiklah. Aku percaya. Setidaknya aku harus menyembuhkan lukaku dulu. Ini sakit." Ia memegang perutnya yang terasa perih.
Mereka sudah berada di desa Banyuasih. Mereka memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. Karena mereka tidak bisa membiarkan orang asing mengikuti mereka. Perguruan Pedang Dewa sangat dirahasiakan tempat mereka.
Untuk menjadi murid perguruan pun mereka harus melewati berbagai tes. Mereka harus berhati suci dan bersih. Mereka tidak boleh mempunyai pikiran picik. Karena perguruan Pedang Dewa, memiliki alat untuk mendeteksinya.
Kereta kuda terus masuk ke dalam hutan. Berbeda arah dengan rumah kakek Mahadri. Kalau rumah Mahadri bersama Nindiya, harus belok kiri, sedangkan ke perguruan Pedang Dewa, mereka harus belok kanan.
__ADS_1
Saat ini mereka sudah berada di gerbang tidak terlihat. Mereka memasuki tempat yang hanya bisa dilalui murid dan guru perguruan Pedang Dewa. Karena selain itu, mereka tidak akan menemukan apapun.
***