
Chapt 45
Cahaya merah jingga dari langit menandakan hari mulai petang. Namun pertarungan untuk memperebutkan posisi ketua tingkat dua masih berlangsung. Ketua tingkat dua adalah posisi tertinggi yang bisa didapatkan para ketua perguruan. Karena ketua tingkat pertama hanya berlaku untuk keturunan ketua tingkat pertama sebelumnya.
Saat ini sudah terpilih satu orang yang berhasil mengalahkan sepuluh ketua tingkat tiga. Ia adalah seorang pria paruh baya berumur empat puluh tahunan. Danurjaya, seorang pendekar pertama masuk sebagai lawan pria tubuh besar. Ia kini sedang beristirahat sambil menonton pertarungan.
Seorang wanita yang sudah mengalahkan lima pendekar. Bernama Dewi Sukarti. Dia pendekar wanita berumur tiga puluh lima tahun. Merupakan pendekar yang terbilang muda karena diusianya ia bisa dalam posisi ketua tingkat tiga. Karena sulit untuk mendapatkan pengakuan. Tetapi ia mendapat pengakuan dari para ketua karena ia seorang pendekar wanita yang sangat hebat.
"Ayo siapa selanjutnya?" Dewi Sukarti bernafas terengah. Ia berhasil membunuh tiga dari lima lawan yang dikalahkannya.
"Aku maju." Seorang wanita memberanikan diri.
Tanpa komando, wanita yang berucap, langsung menyerang dari luar arena. Menerobos kerumunan dan mengarahkan rantai besinya ke arah wanita yang berdiri di tengah arena.
"Brak!" Rantai besi hanya mengenai lantai pertandingan.
Dewi Sukarti sudah hafal lawannya. Ia wanita yang tidak bertele tele atau berbasa basi. Serangan serangan mereka berlanjut. Dewi Sukarti hanya menggunakan kipas, namun kipas itu memiliki daya serang yang membuat tubuh lawan terbelah.
"Syah" dengan melempar kipas, ia dapat memotong rantai besi itu.
"Sial!" Wanita itu sudah tidak memiliki rantai besinya. kali ini ia menggunakan pisau pisau tajam dan melemparnya.
Pisau pisau itu melesat. Namun pisau pisau itu dapat ditangkis dengan kipas tersebut. Alhasil, pisau pisau itu malah berbalik dan menggores tubuh wanita tersebut.
"Sial. Aku menyerah!" Karena ia terluka cukup parah. Ia tidak mau ambil resiko. Ia tidak memiliki cadangan senjata lagi.
"Wanita itu sangat berbahaya. Kita hadapi bertiga." Tiga orang tengah berdiskusi. Mereka berniat mengeroyok seorang wanita.
__ADS_1
Tidak ada aturan dalam kompetisi ini yang mengatakan hanya boleh satu lawan satu. Boleh langsung masuk sepuluh orang sekaligus. Akan tetapi hanya ada satu orang yang akan menjadi pemenangnya. Setidaknya mereka boleh menjadi kawan dalam pertarungan diawal. Tetapi selanjutnya akan menjadi lawan. Tujuan membawa rekan adalah untuk menyingkirkan lawan yang sangat hebat.
Tiga pendekar pria masuk ke dalam arena. Wanita itu hanya membutuhkan empat orang yang harus dikalahkan. Dengan adanya tiga lawan, membuatnya malah tersenyum senang. Ia bisa menghemat waktu.
Hari sudah mulai gelap. Obor obor dipasang di setiap sudut arena. Pendekar pendekar yang baru masuk menyerang dengan berbagai senjata. Akan tetapi kecepatan wanita tersebut membuatnya tidak bisa tersentuh senjata.
"Matilah!" Tiga pendekar telah mengepung Dewi Sukarti.
"Kalian yang mati. Hadapi kipasku ini."
Saat senjata senjata tersebut hampir mengenai wanita tersebut, seketika gelombang angin tercipta dari gerakan mengipasnya. Ia berputar dengan kipas diarahkan ke depannya.
Gelombang angin seperti berputar menyelimuti Dewi Sukarti. Gelombang angin itu juga menyedot senjata senjata yang digunakan para pendekar tersebut.
"Ia bahkan dapat mengendalikan angin."
"Wah itu luar biasa."
"Angin itu berbahaya. Jangan sampai kena." Seseorang yang terkena efek anti itu menginstruksi rekannya untuk waspada.
"Terlambat." Wanita itu dengan cepat bisa mendekati semua.
"Jurus apa ini?"
"Tidak!"
"Ampun!"
__ADS_1
Teriakan mereka terdengar keras. Namun hanya berteriak tidak akan bisa mengembalikan keadaan. Saat ini mereka mengalami luka yang sangat parah. Hingga tubuh mereka penuh dengan goresan.
Mereka berniat merangkak keluar. Namun wanita itu tidak melepaskannya. Pusaran angin telah terhenti. Nafas wanita tersebut menjadi tidak beraturan. Kini rasa lelah karena mengeluarkan banyak tenaga dalam untuk menggunakan ajian ****** beliung tersebut.
"Ampun. Aku menyerah."
Ketiganya pendekar pria yang kesakitan pun hanya bisa menyerah. Saat wanita tersebut berhenti menyerang, ketiga pria tersebut keluar dengan merangkak. Mereka tentu sudah kehabisan energi. Bertarung akan membuat nyawa mereka terancam.
Dewi Sukarti tidak menyerang mereka. Karena ia sendiri sudah tidak memiliki tenaga dalam lagi. Ia hanya memegang kipasnya.
"Wanita itu sudah kelelahan. Tenaga dalamnya habis. Ayo siapa yang akan melawannya."
Dewi Sukarti hanya perlu mengalahkan seorang lagi. Tetapi ada dua pendekar yang masuk ke dalam arena. Membuat wanita itu kesal. Karena ia sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan dua orang yang merepotkan.
"Aku hanya butuh seorang lagi untuk menang. Tetapi kalian berdua yang masuk ke arena ini." Wanita itu tidak terima.
"Kuharap kau tidak keberatan. Kau tidak mungkin bisa menjadi ketua tingkat dua. Kau sudah kehilangan semua kekuatanmu. Bahkan melawan murid junior pun kau tak akan bisa. Hahaha!"
"Tapi mengapa kalian berdua yang masuk?!"
"Biar pertarungan ini cepat selesai. Tenanglah. Kau akan mendapatkan posisi yang lebih tinggi di neraka nanti."
"Sialan!" Umpat wanita itu.
Kedua pendekar tersebut mengeluarkan pedang dan berlari. Dari arah belakang dan depan. Dewi Sukarti telah kehabisan energi. Ia tertunduk dan berlutut.
"Hahaha... Bahkan kau sudah menyerahkan hidupmu pada kami."
__ADS_1
Melihat lawan yang tidak berdaya, kedua pria itu tidak berlari. Mereka berjalan dan posisi mereka sudah sangat dekat. Hanya setengah meter mereka menusukan pedang tersebut.
***