Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 60 Pamitan


__ADS_3

Chapt 60


Seperti janjinya, Jumantara mengajak Bayu dan Indera untuk mencari keberadaan Puteri Padmasari. Tak lupa ia membawa serta Gemani. Tidak lengkap jika Jumantara tanpa Gemani.


Seperti halnya Bayu dan indera, Jumantara dan Gemani seperti satu paket. Kalau satunya ada, harus ada keduanya. Kalau hanya satu, maka dunia seakan hampa.


Pagi hari yang cerah, Jumantara memanggil harimau putih. Ia menunggu harimau harimau itu untuk datang. Sementara Bayu dan Indera, tentu masih merasa ngeri. Apalagi melihat taring yang sangat runcing tersebut.


"Apakah kau akan membawa harimau itu?" Tanya Bayu.


"Iya, kurasa mereka bisa membantu perjalanan kita." Sahut Jumantara.


"Mereka?" Kaget Bayu dan Indera.


Sementara Gemani hanya tersenyum menanggapi kedua pendekar yang merasa ketakutan karena seekor harimau. Tentu bukan karena hanya satu ekor. Tetapi Jumantara mengatakan mereka. Berarti jelas bukan hanya satu ekor harimau yang akan membawa mereka.


"Ayo berangkat!" Ajak Jumantara.


Jumantara berjalan perlahan mendekati harimau yang patuh kepadanya. Sementara Bayu dan indera tidak berani mendekat. Mereka belum sempat mengumpulkan keberaniannya.


"Ayo berangkat!" Ajaknya sekali lagi.


"Eh iya. Ayo Bayu." Ajak indera yang masih memasang wajah takut.


"Ehh iya. Ayo." Sahutnya.


Keduanya berjalan dengan hati hati. Mendekati harimau putih yang seperti kucing manis bila di dekat Jumantara. Setelah beberapa lama berjalan, akhirnya Bayu serta Indera mulai terbiasa. Karena harimau itu tidak berniat memakannya seperti tempo dulu.


"Ternyata harimau putih ini tidak terlalu menakutkan." Ucap Bayu mencoba memegang rambut harimau tersebut.


"Iya hehehe..." Indera mengikuti Bayu. Ia juga mengelus rambut harimau itu.


"Wah. Kalian cepat akrap yah?'' Gemani menanggapi.

__ADS_1


"Iya hehehe..." Ada perasaan ngeri pada diri Bayu.


"Hmm..." Gumaman itu hanya peralihan. Ia mencoba menelan ludahnya yang terasa kelu.


Keduanya masih dengan perasaan was was. Tegang , dan masih bergidik. Melihat Gemani dan Jumantara yang berbeda. Mereka malah tersenyum riang karena mereka dapat kesempatan untuk keluar dari perguruan.


"Sudah berapa tahun kita tidak keluar perguruan yah, Jumantara?" Tanya Gemani yang ada di sampingnya.


"Sudah lama kayaknya. Tetapi rasanya aku rindu. Aku ingin menaiki harimau putih. Apa kau juga Gemani?"


Jumantara melihat wajah Gemani yang riang. Dan anggukan dari gadis tersebut, membuat Jumantara tahu, bahwa Gemani pun ingin jalan jalan menaiki harimau putih.


"Naik harimau?" Gumam Bayu


Indera dan Bayu saling menatap. Keduanya tentu sudah tahu harimau putih yang berada di perguruan macan putih. Mereka akan sangat sulit untuk ditunggangi. Bahkan pemilik harimau dari perguruan, tidak pernah ada yang bisa naik.


Pertanyaannya! Darimana Bayu dan Indera tahu tentang hal tersebut? Karena di perguruan Pedang Dewa, ada begitu banya buku buku informasi tentang perguruan yang berada di wilayah kerajaan Lokapraja. Dari perguruan aliran putih, dan juga aliran hitam.


Mereka telah membuktikannya dengan turut serta membantu orang orang yang membutuhkan. Dan dari kerajaan sendiri, mereka sudah memiliki banyak jasa. Dan kadang mereka membantu pendekar atau warga yang membutuhkan. Saat mereka bertugas, mereka tidak membawa harimau, tetapi mereka menyatakan dari perguruan macan putih.


Saat ini, Jumantara berada di atas macan putih bersama Gemani. Gadis itu sangat senang berada di atas harimau putih tersebut.


"Sebenarnya aku merasa ini adalah mimpi." Pernyataan dari Bayu.


"Tetapi mimpi itu nyata. Tapi dia mengatakan sebelumnya. Mereka bisa membantu perjalanan kita. Jadi mereka itu siapa?"


Setelah mengatakan hal tersebut, ternyata mereka sudah berada di segerombolan harimau putih yang beragam ukuran. Mereka ada yang besar, besar sekali, agak kecil, tetapi tidak ada yang kecil. Kerena rata rata mereka memiliki tinggi Satu setengah sampai dua meter, untuk harimau remaja.


"Mereka terlihat seperti kucing kucing yang lucu." Kata Bayu bohong.


Tentu Bayu harus mencairkan suasana yang mungkin masih terjadi ketegangan. Ia sendiri bingung, apakah harimau harimau itu akan dibawa?


"Kau becanda. Hehehe ..." Indera memukul lengan Bayu pelan.

__ADS_1


"Kalian ayo cepat! Kita akan berpamitan dengan para harimau ini." Panggil Jumantara.


Mendengar kata pamitan, berarti mereka tidak akan membawa mereka. Tetapi kata pamitan juga, berarti juga mengandung makna yang berbahaya. Satu kata berarti dua keadaan yang berbeda bukan?


"Ayo. Kita harus pamitan pada mereka semua." Kini Gemani yang mengatakannya.


"Pamitan?" Kata itu terngiang di kepala mereka berdua.


Lagi lagi kata pamitan. Yah setidaknya dari satu kata itu, merupakan kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya adalah, mereka tidak akan membawa harimau harimau itu. Dan kabar buruknya, mereka harus berinteraksi dengan mereka. Sebelumnya, mereka tidak berpikir akan bertindak demikian.


"Ayolah. Jangan takut begitu. Harimau harimau ini tidak akan bertemu kita lama. Dan kalian bukankah belum berkenalan dengan mereka?" Jumantara melambaikan tangan memanggil kedua pendekar penakut.


"Indera, kau duluan." Usul Bayu.


"Tidak. Kau yang duluan." Balasnya.


Mereka berdua saling dorong. Bagaimana mereka akan berpamitan dengan mereka? Menurut buku tentang perguruan Macan putih, macan putih tidak akan menurut pada orang asing. Bahkan harimau tersebut bisa saja memakan mereka hidup hidup. Lihat saja ukurannya.


"Heihh... Kalian pendekar penakut. Mereka tidak akan memakan kalian. Lagian daging kalian pasti tidak bisa membuat mereka semua kenyang." Jumantara seakan tidak peduli lagi..


Bagi Jumantara itu sangat menyenangkan mengerjai mereka berdua. Sedangkan Gemani, dari tadi asik berada di punggung harimau putih. Ia bahkan tertawa senang saat harimau itu menggoyangkan tubuhnya.


Dengan sekuat tenaga, Bayu dan indera mencoba menghilangkan ketakutan mereka. Dengan menarik nafas dalam dalam, mereka lalu menghembuskan perlahan. Keduanya mendekati harimau putih.


"Hahahaha..." Tawa Bayu dan indera terdengar nyaring.


Setelah cukup lama mereka berada di dekat harimau harimau tersebut, mereka akhirnya merasa nyaman. Lama lama, dari rasa takut itu berubah menjadi perasaan gembira.


Tak hanya itu, mereka pun sampai berani menaiki harimau harimau tersebut. Setelah hari menjelang siang, Jumantara mengajak mereka untuk memulai berpetualang mencari keberadaan Puteri Padmasari.


Sesungguhnya Bayu dan Indera, kini tidak ingin berpisah dengan harimau harimau tersebut. Yah karena mereka cepat akrap. Jadi dengan terpaksa, mereka pun meninggalkan hutan macan putih siang itu juga.


***

__ADS_1


__ADS_2