
"Matilah kau ke neraka!" teriak mereka bersamaan. Mereka tidak berniat melepaskan Nehan yang tidak berusaha melawan.
Saat kedua ujung pedang tersebut mengenai baju Nehan, tiba-tiba sebuah pisau melesat dengan cepat, membuat serangan mereka meleset. Kedua pendekar itu melihat seorang yang melemparkan pisau itu.
"Bodoh!" umpat seorang wanita paruh baya. Bersamaan dengan terlemparnya dua pedang yang digunakan kedua pendekar wanita. "Kenapa kalian berdua berpikir untuk membunuhnya?" ungkapnya kesal.
"Guru?" balas mereka bersamaan. Kedua wanita tersebut mengetahui bahwa orang yang menghentikan mereka, adalah guru mereka sendiri.
Kedua pendekar segera memberi hormat pada sang guru. Tidak menyangka, perbuatan mereka dihentikan oleh guru sendiri. Mereka belum tahu seluk-beluk desa Suwukan karena ini pertama kalinya turun gunung, untuk mengemban tugas dari sang guru, mencari seorang tabib.
"Kenanga, Sekar! Bukankah guru sudah mengatakan, jangan berbuat onar di desa, ini? Kalian berdua malah ingin membunuh warga desa, ini?" ketus sang guru. Dirinya menyadari bahwa ia kurang mendidik murid-muridnya.
"Maaf, Guru. Kami tidak bermaksud demikian. Tetapi orang itu telah menggoda kami, Guru," elak Kenanga sambil menunjuk ke arah Nehan.
"Heemmm, benarkah?" timpal Nehan. Ia mendekati dan mengamati dua wanita yang hampir membunuhnya dengan tatapan intens. "Kalau kamu merasa tergoda, mengapa kamu tidak tergoda? Malah ingin membunuhku, hemm?"
"Kau!" bentak Kenanga dengan menunjuk Nehan. "Jaga kelakuanmu! Dasar laki-laki mesum!" pekiknya.
"Sudah hentikan!" lerai sang guru wanita tersebut. "Begini kah sikap kalian sebagai pendekar? Orang itu tidak mungkin bisa mengalahkan kalian. Bahkan sangat mudah untuk membunuhnya. Tapi dia seorang tabib. Dia bisa mengobati adik kalian!"
"Tapi guru–" ucapnya terhenti, setelah melihat gurunya menatapnya dengan tajam.
"Hehehe ... lumayan cantik juga. Tetapi sayangnya kau begitu galak, Sayang," goda Nehan pada Kenanga.
__ADS_1
Kenanga dan Sekar, hanya bisa diam setelah peringatan dari gurunya. Walau mereka tidak terima dengan apa yang diperbuat oleh Nehan. Walau sang guru pun merasa muak dengan tingkah laku pemuda tersebut. Akan tetapi ia membutuhkan orang itu, untuk menyembuhkan penyakit muridnya.
Sudah ratusan tabib, ia datangi. Mereka semua tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakit dari murid termuda Bukit Lebah Hitam. Murid termuda, namun ia adalah murid paling berbakat di antara murid-murid lainnya. Maka sangat disayangkan kalau harus mengalami sakit dan hidupnya diujung tanduk seperti itu.
"Kau tabib yang bernama Nehan Hadinata?" tanya sang guru pada Nehan. Antara senang dan marah setelah ia melihat pemuda di hadapannya tersebut.
Senang karena ia telah mendengar rumor, bahwa tabib gila di hadapannya adalah tabib terhebat di desa Suwukan. Hampir semua penyakit bisa ia sembuhkan. Bahkan saat semua tabib menyerah, Nehan adalah tabib yang menyembuhkan penyakit tersebut. Ia berharap Nehan adalah penyelamat untuk murid berbakatnya.
Guru paruh baya itu marah, ketika ia melihat kedua muridnya digoda oleh Nehan. Apalagi saat mendengar bahwa, tabib tersebut agak kurang waras. Terbukti dengan tingkahnya yang berlebihan ketika melihat wanita cantik, seperti kedua murid dari Bukit Lebah Hitam tersebut.
"Hehehe ... maaf, aku tidak tertarik dengan wanita tua sepertimu. Tetapi tidak ada salahnya, jika saya menggoda dua gadis cantik di hadapanku, bukan?" Nehan melihat wanita paruh baya tersebut sejenak. Lalu kembali menatap dua wanita muda yang mematung tak berani melawan.
Nehan tersenyum manis, sambil mengedipkan sebelah mata pada dua gadis tersebut. Mereka merasa jijik dengan kelakuan tabib gila yang sedang menggoda mereka saat ini.
"Setelah dia menyembuhkan Cempaka, aku akan membunuhnya," lirih Kenanga dengan sinis, menatap ke arah Nehan.
"Tak kusangka, kalian malah berniat membunuhku. Kalau begitu, aku tidak akan membantu kalian!" balas Nehan dengan tegas.
Nehan meninggalkan kedua wanita yang berniat membunuhnya. Tentu ia tidak bisa menghadapi mereka. Seorang pendekar wanita pun, ia tidak mungkin bisa menghadapinya. Lebih baik ia pergi meninggalkan mereka daripada harus celaka.
"Tunggu!" teriak sang guru. "Kuharap Tuan Tabib tidak tersinggung atas ucapan kedua muridku. Kami tidak ada niat untuk membunuh siapapun. Apalagi membunuh orang yang akan berjasa menolong adik mereka."
"Berniat membunuh atau tidak, itu bukan urusanku. Tetapi jika kalian ingin, kalian bisa mencari tabib lain. Untuk menyembuhkan diriku sendiri, aku pun tidak bisa, bagaimana bisa aku menyembuhkan penyakit yang menyerang muridmu." Nehan memetik daun ilalang. Ia menerbangkan daun itu dengan melemparkannya ke atas.
__ADS_1
Nehan juga memainkan rambutnya yang panjang, dengan memutar-mutarnya dengan jarinya. Ia kembali melihat para pendekar itu yang terlihat marah padanya. Tapi ia tidak perduli. Jika mereka emosi dan marah padanya, tandanya mereka bukan mencari bantuan. Tetapi mencari orang yang dibunuh.
"Apa kau tidak menginginkan salah satu dari mereka?" tawar sang guru. "Aku bisa memberikan salah satunya untuk kamu pinang, hemm?"
"Guru, jangan!" protes Kenanga. Ia tidak ingin dirinya atau salah satu adik seperguruannya harus dikorbankan.
"Kalian diamlah!" bentak sang guru. "Kalian murid-murid dari perguruan Bukit Lembah Hitam! Jangan pernah kalian melawan gurumu!"
"Guru ... kenapa kamu begitu kejam pada kami?" lirih Kenanga dengan wajah memelas. "Apa yang salah dengan kami?"
Sekar hanya diam. Ia sangat menyayangi adik seperguruannya, Cempaka. Tetapi ia juga tidak rela, jika dirinya atau kakaknya dikorbankan karena adiknya. Di dunia yang luas ini, bukan tidak mungkin ada tabib yang melebihi kemampuan Nehan. Jadi tidak harus bertumpu pada Nehan seorang.
Sang guru menghentikan ucapan protes dari Kenanga. Ia juga tidak menginginkan itu terjadi. Tetapi ia dengar dari warga sekitar, bahwa Nehan sering menggoda gadis-gadis di desa Suwukan.
"Kita bisa bicarakan saja nanti. Lagipula ini demi adik kalian juga. Kalau dia berhasil, guru akan berusaha untuk menyelesaikannya. Tetapi jika tidak berhasil, ku serahkan tabib mesum itu pada kalian. Terserah mau apakan dia," lirih sang guru.
Nehan juga memiliki pendengaran yang tajam setelah meminum obat ciptaannya. Namun efek dari obat itu yang membuatnya menjadi gila. Kadang ia tidak bisa menahan emosi perasaannya. Bahkan ia selalu menggoda gadis-gadis cantik di desanya.
"Tuan Tabib, maukah kau membantu kami? Kalau bisa menyembuhkan muridku, saya akan bayar mahal untuk itu. Kalau belum cukup, apa yang kamu mau, pasti kami bisa menurutinya," bujuk wanita paruh baya itu.
"Sebenarnya untuk mendapatkan harta benda, sangat mudah untukku. Tetapi bagaimana kalau kudapatkan wanita muda ini, hemm? Maukah kamu menikah denganku?" Nehan menatap ke arah Sekar.
"Mau! Dia mau menikah dengan kamu!" Segera sang guru menyetujuinya. Walaupun hanya kepura-puraannya saja. Setelah menyela tugasnya, ia berharap bisa membunuh lelaki itu.
__ADS_1
"Guru ... kenapa kamu tega mengorbankan muridmu sendiri?" Meskipun hanya sebuah siasat, ia juga harus meyakinkan Nehan kalau ia terpaksa melakukannya.
***