Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Pedang Dan Seruling


__ADS_3

Baik Nehan maupun Nindiya tidak tahu siapa pria tua yang datang menghampiri mereka. Tapi dilihat dari perawakannya, pria tua itu adalah seorang pendekar yang hebat. Bisa menggunakan daun sebagai senjata merupakan kemampuan yang hanya dimiliki oleh pendekar-pendekar hebat. Seperti pendekar yang sedang berada di depan mereka berdua.


"Maaf, kami tidak mengenal Anda. Dan apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Nehan. Tapi ia melirik ke arah Nindiya. "Atau kau mengenal siapa wanita di sampingku?"


"Hohohoho, tentu yang kumaksud adalah kalian berdua. Hehh, percuma saja, kalian tidak pernah mengingatnya. Kita sudah lama tidak bertemu, akhirnya kita dipertemukan hari ini, hemm. Hari ini saya ingin mencoba keahlian kalian berdua, apakah sudah lebih baik atau belum, hemm?"


Pria tua itu menghentikan kakinya, seketika daun-daun di tanah, melayang mengitarinya. Setelah itu, daun-daun mahoni itu mulai bergerak menuju ke arah Nehan dan Nindiya.


"Awas!" pekik Nindiya, menggunakan pedangnya dan menciptakan angin untuk menahan serangan dari daun itu. "Kau di belakangku saja, Nehan!" perintah Nindiya.


"Ooh, hebat! Kalian memang sungguh hebat luar biasa, hahahaha!" tawa sang pendekar rambut putih tersebut. Ia bahkan puas dan bertepuk tangan setelah melihat gelombang angin yang menahan serangannya.


Nindiya terus mengayunkan pedangnya untuk menahan serangan yang bertubi-tubi. Tapi seakan tidak ada habisnya, serangan itu tetap beruntun tanpa henti. Saat Nindiya menggunakan pedang itu, ia merasa pedang yang ia gunakan cukup puas karena tidak memerlukan tenaga dalam yang banyak. Serangan itu datangnya dari segala arah, saat ia berhasil menghalau serangan dari depan, dari belakang ada serangan lain. Begitu juga dengan arah samping yang tidak luput dari serangan.


"Ini tidak bisa lama-lama. Nanti kamu akan kehilangan kekuatanmu, Nindiya! Ah, sayangnya aku tidak punya senjata apapun!" Nehan mulai berpikir untuk membantu Nindiya. Namun ia tidak memiliki ide apapun. Ia hanya bisa berlindung kepada seorang wanita. Sementara ia tidak mungkin bisa membantu.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita kabur saja, akhh!" pekik Nindiya, mendapatkan luka di lengannya karena daun itu lolos dari jangkauan pedangnya. Darah itu menetes ke pedangnya kembali. Seketika angin besar mengelilingi pedang yang dipakai oleh Nindiya. Melindungi mereka dari serangan daun itu.


"Hohoho ... itu tidak baik untuk kalian! Semakin pedang itu diberikan darah,maka semakin pedang itu mendapatkan kekuatannya. Dan hanya dengan darah itu, iblis yang terperangkap di dalam pedang itu semakin kuat dan bisa keluar. Ini tidak bisa dibiarkan. Terpaksa harus melakukan ini."


Pendekar sepuh itu mengeluarkan sebuah seruling berwarna hitam. Ia lalu memainkannya dan angin itu pun perlahan berhenti. Ia tersenyum setelah semuanya terhenti. Tapi Nindiya langsung terjatuh di hadapan Nehan. Nehan menangkap Nindiya segera. Dan serangan pendekar tua itu sudah tidak ada lagi. Hanya suara seruling yang bersuara mendayu-dayu. Lantunan suara menyedihkan yang membuat orang yang mendengarnya ingin menangis.


"Ketahuilah anak muda ... pedang yang dipakai oleh istrimu adalah pedang yang sangat berbahaya! Pedang itu akan selalu membutuhkan darah. Baik dari lawan atau pemiliknya. Memang pedang itu tidak membutuhkan tenaga dalam untuk menggunakannya. Karena iblis di dalam pedang itu hanya membutuhkan darah untuk menyempurnakan bentuknya agar bisa keluar dari pedang itu."


Nehan mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh pria tua itu. Seperti dugaannya, pedang yang dipegang oleh Nindiya memang bukan pedang biasa. Karena pedang itu membutuhkan darah sebagai imbalan karena telah membantu pemiliknya dengan kekuatan angin yang luar biasa.


"Istri?" Entah mengapa Nehan merasa pria tua itu salah orang. "Ohh, dia seorang pendekar tua, mungkin saja ingatannya buruk. Hehh, mungkin saja orang tua itu hanya orang yang tahu tentang pedang ini. Tapi kenapa firasatku mengatakan hal yang aneh seperti ini?"


"Heh, pemuda ini ... mungkin dia belum menyadari kalau dia sedang memangku istrinya. Hehh, bagaimanapun juga, ini akan menjadi sebuah kisah yang menarik. Aku ingin tahu bagaimana pemuda itu akan mengetahui kebenarannya sendiri, kalau wanita yang bersama dia adalah istrinya sendiri, hemm," gumam pendekar tua dengan mengurut jenggotnya yang putih dan panjang.


"Kau tenanglah ... aku akan mengobati lukamu. Ehh, tapi ini lukamu sudah sembuh? Tapi kenapa kamu masih tidak sadar? Oh, kenapa malah seperti ini? Kelihatanya kamu kehilangan darah? Ini tidak bisa dibiarkan! Kau harus segera menambah darahmu. Aku akan mencari obatnya di hutan itu."

__ADS_1


Nehan melihat pendekar sepuh itu diam di tempat sambil melihat Nehan. Berarti memang tidak ada serangan lagi dari pendekar hebat tersebut. Ini membuat Nehan mengambil pedangnya lalu melemparkan pedang itu ke sembarang arah. Lalu ia menggendong Nindiya di punggungnya.


"Bodoh! Kau tidak akan bisa membuang pedang itu dari pemiliknya, sekarang! Karena itu akan mengikuti ke manapun pemiliknya pergi. Jadi sebelum kau membuangnya, berhati-hatilah! Karena kau akan menjadi korban dari pedang itu!" seru pendekar sepuh itu. Tidak habis pikir dengan kelakuan tabib muda itu.


Pedang itu malah kembali lagi ke tangan Nehan dan pemuda itu berlari membawa Nindiya. Tapi pedang itu meluncur dengan cepat dan melewati Nehan, mengitari Nehan dan Nindiya.


"Gawat!" Pria tua itu kembali mengeluarkan serulingnya. Namun seruling itu seakan tidak mau lagi dengannya, melesat ke arah Nehan dengan cepat. "Hemm, memang pedang dan seruling itu sudah menemukan jodohnya. Jadi tidak perlu mengkhawatirkannya lagi."


Seketika seruling itu melesat ke arah Nehan dan menahan serangan dari pedang itu. Kedua senjata saling bertarung satu sama lain. Bertarungnya pun seperti dua orang yang sedang beradu senjata pedang dan seruling. Seakan menahannya dari menyerang tubuh yang berupa udara kosong.


"Hei, kau anak muda! Kalian bisa membawa kedua senjata itu untuk kalian! Saya sepertinya harus pensiun menjadi Pendekar Seruling Kematian. Huhh, sungguh sangat disayangkan, aku tidak akan lagi menjadi legenda. Huhhh ...." pendekar tua menggelengkan kepalanya. "Hemm, pria tua ini memang sudah harus pensiun."


Nehan melihat pedang dan seruling saling berlawanan dan menyerang. Tidak ada dari mereka yang ingin kalah. Tapi pada akhirnya seruling itu malah melebar. Membentuk seperti sarung pedang. Dan pedang itu masuk ke dalam sarung pedang itu.


"Ini sungguh keajaiban yang luar biasa. Apakah seruling dan pedang ini memang berjodoh? Hehh, mungkin harus percaya sama kakek tua itu," ungkap Nehan tersebut lega. Dan seketika ia didatangi oleh pedang dan sarung pedang yang tadinya sebuah seruling itu.

__ADS_1


***


__ADS_2