
Sekar keluar dari kamar itu karena mendapat serangan tidak terduga itu. Ia langsung menutup pintu dengan pelan. Dirinya tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman hari ini. Dia sudah terkena serangan dari seorang wanita yang sekarat itu.
"Huhh, kenapa bisa jadi seperti ini? Sebenarnya siapa wanita itu? Ilmu kanuragannya bahkan bisa mengenai ku. Ini bukan seorang wanita biasa. Apakah seorang pendekar yang kalah dalam pertarungan dan tidak sengaja ditemukan oleh Nehan? Terus dirawat oleh tabib gila itu?"
Dengan memegang dadanya yang berdegup dengan cepat. Nafasnya ngos-ngosan karena serangan tiba-tiba itu. Sebenarnya ia bisa saja melawan wanita yang berada di kamar itu. Tapi ia tidak akan melakukannya. Yang pada awalnya ia hanya terlihat marah karena Nehan yang tidur di samping wanita itu. Sekar ingin memberi pelajaran pada pemuda itu. Tapi melihat wanita itu malah melindungi Nehan, ia salah besar.
"Ternyata ini hari keberuntungan bagi tabib gila itu. Bisa-bisanya dirinya memanfaatkan kesempatan untuk tiduran di samping wanita itu? Huhh, dasar tabib gila!"
Karena kesal, ia menuju ke sembarang tempat di rumah itu. Ia tiba di ruangan obat dan melihat-lihat di sekelilingnya. Betapa kagetnya ketika ia melihat kain putih yang berlumuran darah. Ketika itu, ia mengingat kalau Nehan telah mendapatkan luka di perutnya dan harus berobat sendiri.
"Kenapa perasaanku menjadi tidak enak begini?" Selain kain itu, terdapat juga obat-obatan yang seperti habis digiling. Jelas ini adalah obat baru dan ada obat yang digunakan oleh Nehan untuk membalut luka. "Bukankah ini? Apakah Nehan mengalami pendarahan?"
Akhirnya Sekar tahu kalau memang dirinya telah bersalah karena telah salah paham tentang Nehan. Dirinya sudah hampir membunuh Nehan untuk kesekian kalinya. Tabib itu juga beberapa kali menolongnya. Tapi yang ia balaskan pada tabib itu adalah rencana untuk membunuhnya.
"Betapa kejamnya aku ini? Apa memang aku sekeras ini? Bahkan wanita sekarat itu tahu balas budi. Dia menggunakan ilmu kanuragannya untuk mendorongku. Kalau tidak, mungkin aku sudah membunuh tabib malang itu?"
Karena merasa bersalah, ia hanya bisa diam. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak membuat kegaduhan atau masalah ke depannya. Walaupun ia sudah hampir menghilangkan nyawa seseorang karena kecerobohan dirinya.
__ADS_1
Nehan bangun ketika hari sudah menjelang sore. Ia melihat wanita di sampingnya sejenak. Lalu menyunggingkan senyumnya. Ia tahu wanita itu dalam keadaan tersadar karena dirasa dari nafasnya yang teratur.
"Apa aku membuat kamu tidak bisa tidur? Maafkan aku yang ketiduran. Aku tidak mengira akan tertidur pulas di sini. Dan kamu jangan bilang aku melecehkanmu. Karena aku ini sedang sekarat juga. Ini karena wanita tidak tahu diri itu yang telah menusukku. Kalau tidak, aku tidak akan seperti ini," keluh Nehan.
Tabib itu bangkit dari tempat tidurnya dan memeriksa keadaan wanita itu. Ia merasakan sesuatu yang aneh dengan wanita yang terbaring lemah itu. Ia melihat sekali lagi dan menggeleng pelan.
"Ini, aku tidak tahu mengapa, kenapa dengan tubuhmu? Tidak pernah aku temui kasus yang seperti ini. Apakah kau berusaha keras akhir-akhir ini? Kalau iya, aku harap kamu tidak menyia-nyiakan tenagamu. Karena kamu malah semakin lemah ketika menggunakan tenaga dalammu."
Wanita itu masih terdiam dan memang hanya itu yang bisa dilakukan. Tapi ia juga melakukan hal itu demi menyelamatkan nyawa Nehan. Ia tahu konsekuensi dari melakukan gerakan untuk melepaskan tenaga dalamnya. Yang malah membuat tubuhnya semakin lemah.
Setelah memeriksa wanita itu, Nehan keluar dan mencari Sekar. Namun ia tidak melihat wanita itu. Ia ke dapur yang terlihat kepulan asap yang begitu tebal. Membuat Nehan panik dan sedikit berlari. Ia merasa perutnya kembali mengalami pendarahan. Seharusnya dirinya tidak melakukan pekerjaan yang tidak perlu. Ia hanya bisa berada di kamar tidur dan istirahat. Tapi tidak bisa membiarkan wanita yang merupakan pasiennya itu kelaparan.
"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pendekar kurang kerjaan itu? Kenapa malah membakar dapurku?" keluh Nehan yang semakin dekat dengan dapur yang berasap tersebut. "Ya Tuhan, apa yang kamu lakukan, Sekar? Kamu mau membakar rumahku, hah? Kalau demikian, lebih baik, kamu pergi dari sini! Tidak sudi rumahku kamu injak-injak seperti ini! Kembali saja ke perguruan kamu yang gila itu!, Uhukkk!
Sekar melihat Nehan yang memuntahkan darah. Ia tidak bermaksud untuk melakukan itu. Ia hanya ingin memasak sesuatu untuk Nehan. Tapi tidak pernah terbayangkan akan seperti ini kejadiannya. Dirinya mengalami kecelakaan karena api yang merembet ke mana-mana. Alhasil dapur itu sudah terbakar setengahnya.
"Kamu tidak apa-apa, kan? Maafkan aku karena tidak sengaja. Ini adalah kecelakaan yang tidak disengaja. Aku akan memperbaiki ini segera." Sekar membantu Nehan untuk bangkit. Ia menuntun tabib itu untuk meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Lepaskan! Kamu pergi sekarang juga, kembali ke perguruan gilamu itu. Dan katakan padanya kalau tabib yang kalian ingin bunuh, sudah mati. Tapi aku tidak akan mati karena semua ini. Nantinya kau yang akan mati karena perbuatan kamu sendiri, Sekar!"
Sekar semakin takut karena Nehan tidak mau memaafkan kesalahannya. Padahal dirinya juga tidak sengaja. Ia terbawa emosi karena kejadian itu. Membuat keadaan tidak baik dan sulitnya untuk memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat.
Nehan kembali muntah darah. Jika ia mati di tempat ini, satu-satunya yang ia sesali adalah tidak bisa memenuhi harapan wanita yang ingin sembuh itu. Tentu akan membuatnya dalam keadaan putus asa dibuatnya.
Karena Nehan tidak kuat menahan asap yang tebal, ditambah dengan luka yang belum mengering, membuat Sekar menjadi sangat khawatir pada pemuda yang sekarang dalam keadaan sekarat. Ia khawatir kalau tiba-tiba Nehan mati dan tidak ada kesempatan untuk meminta maaf. Sekar membawa Nehan kembali ke kamarnya membiarkan Nehan tidur terlentang di kamar yang ia tempati.
"Bagaimana aku bisa sangat bodoh seperti ini? Aku tidak sengaja membuat kamu seperti ini, Nehan. Aku akan menyalurkan tenaga dalamku padmu. Eh, aku lupa kalau kamu tidak punya tenaga dalam sama sekali."
Sekar sekarang dalam keadaan bingung. Ia tidak tahu obat apapun yang bisa menyembuhkan sakit yang diderita oleh tabib itu. Meskipun telah mengobati sekian banyak orang, tetap saja Nehan tidak bisa mengobati diri sendiri.
Sekar terdiam memandangi Nehan yang terlihat tampan itu. Ia mengambil kain untuk membersihkan muntahan darah Nehan. Itu membuat Sekar merasa ngeri akibat perbuatannya sendiri. Tentu perbuatan yang bukan hal berbahaya jika yang menghirup asap itu adalah orang sakit.
"Aku akan tanggung jawab padamu, aku tahu aku memang tidak bisa memasak. Jadi maafkan aku yang tidak tahu caranya untuk memasak," ujar Sekar dengan tatapan sendunya pada Nehan.
***
__ADS_1