Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 38 Ahli Perangkap


__ADS_3

Chapt 38


Suara angin bertiup dengan lembutnya. Nampak daun kelapa melambai lambai, seakan menarik seseorang untuk mendekat. Seorang gadis tengah duduk di atas menara bambu. Yah, menara yang berada di belakang rumah sang tabib. Nehan yang membuatnya agar bisa melihat seluruh keadaan desa.


"Wah. Indahnya... Andaikan kak Nehan ada disini." Gadis tersebut menerawang jauh. Dilihatnya rumah rumah yang terlihat jelas.


Saat itu, Bayu dan Indera yang melihatnya pun merasa penasaran. Mereka memutuskan memanggil gadis tersebut. Apakah mereka diijinkan naik ke atas atau tidak.


"Hei nona cantik, bolehkah kami naik?" Tanya Bayu memastikan.


Gadis tersebut menatap dua pemuda yang tengah menatapnya. Nampak senyuman dari wajahnya yang manis tersebut. Ia menganggukan kepalanya. Setidaknya ia tidak akan merasa kesepian lagi.


"Naiklah. Kalian harus lihat. Disini udaranya segar."


Keduanya melompat dan sesekali harus memegang bambu yang menjadi tiang tersebut. Dengan cepat, mereka berhasil mendarat di samping Kirana berada.


"Wah, para pendekar sungguh hebat. Naik aja nggak perlu tangga. Padahal kak Nehan sudah membuatkan tangga." Ia menunjuk tangga yang memang sengaja dipasang untuk naik dan turun.


"Yah kau tahulah. Pendekar seperti kami memang spesial." Indera menunjukkan kebanggaannya. Ia menepuk dadanya sendiri.


"Wah hebat. Hebat." Kirana memberi tepukan tangan.

__ADS_1


Ketiganya saling melempar canda tawa. Kini suasana hati Kirana tidak sehening tadi. Pagi hari terasa hangat karena kehadiran dua pemuda yang mengobati rasa gundah karena orang yang dianggap kakaknya sudah bersanding dengan perempuan lain. Ini bukan tentang perasaan cinta. Tetapi ia lebih kehilangan sosok yang ia banggakan. Sosok yang selalu ia anggap kakaknya.


"Kuharap kak Nehan bahagia." Gumamnya.


Walaupun kini ia harus menerimanya. Ia harus menerima kakak iparnya yang memang terlihat cantik. Tetapi memang seharusnya Nehan sedang bersama Nindiya saat ini. Menghabiskan waktu berdua.


"Kuharap tabib muda itu tidak apa apa sekarang. Maaf, kami belum menjenguknya." Bayu yang dari tadi memperhatikan Kirana yang nampak murung.


"Yah... Kurasa ia baik baik saja. Kan ada yang menjaganya." Ungkapnya ketus.


"Kamu cemburu?" Kali ini Indera yang menanyakannya. Ia melihat raut muka Kirana yang tidak suka dengan pertanyaan tersebut.


"Maaf." Kata itu biasa digunakan oleh seseorang yang merasa bersalah.


"Yah tidak masalah." Kirana mengalihkan pandangannya. Ia menatap ke arah belakang desa.


Hutan yang cukup luas yang ditumbuhi pohon pohon yang menjulang tinggi. Kadang Kirana takut jika Nehan mengajaknya kesana. Banyak serangga serangga beracun disana. Beberapa jenis hewan buas pun banyak yang siap menerkam siapapun yang berani masuk ke hutan tersebut.


"Apakah kamu ingin masuk ke hutan?" Indera ikut memandang kearah hutan tersebut.


"Hmm... Sebenarnya aku ingin. Biasanya kak Nehan membawaku kesana untuk mempelajari beberapa jenis tumbuhan dan serangga. Tapi aku takut kalau nggak ada dia."

__ADS_1


"Maaf, apa kamu menyukai kakakmu?" Entah mengapa pertanyaan bodoh itu muncul di benak Indera.


"Yah... Aku menyukainya sebagai kakak tentunya. Ia yang melindungiku dari hewan hewan buas disana. Biarpun ia tidak punya kekuatan seperti kalian, tetapi soal bertarung, ia bahkan bisa melawan orang sedesa." Aku Kirana.


Ia menerawang kejadian dulu saat orang orang di desa tidak percaya kepadanya. Bahwa ia akan melindungi desa dari perampok yang dulu menyerang desa Guntur. Warga berpikir ini ulahnya karena Nehan yang membawa perampok tersebut masuk ke desanya.


"Yah itu dulu. Tetapi kak Nehan itu hebat. Masa ia melawan perampok itu sendirian. Warga desa bersembunyi di tempat rahasia desa ini. Tetapi kak Nehan saat itu sendirian menghadapi perampok yang jumlahnya mungkin ada delapan puluhan." Kirana menceritakan dengan seksama. Ia begitu menggebu saat menceritakan aksi heroik Nehan saat itu.


"Hebat dia. Ternyata dia pendekar hebat." Indera mengambil kesimpulan.


"Apa memang seperti itu?" Bayu yang mendengar tidak terlalu percaya.


"Mungkinkah dia menggunakan pedang neraka itu?" Tanya indera. Ia menunggu gadis tersebut menjawabnya. Karena Kirana masih dalam angannya.


"Tidak. Kalian harus tahu. Kak Nehan juga ahli membuat perangkap."


"Apa?" Kedua pemuda tersebut tercengang.


Ahli perangkap tidak banya di dunia persilatan. Untuk melawan puluhan orang berarti perangkap yang digunakan berarti tidak main main. Entah mengapa keadaan ahli perangkap saat ini masih tidak terkenal di dunia persilatan. Tetapi jika pun ada. Mungkin Nehan salah satunya. Atau bahkan satu satunya.


***

__ADS_1


__ADS_2