Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 86 Pemuda Misterius


__ADS_3

Chapt 86


Seorang gadis membawa sekeranjang buah dan sayuran. Seorang wanita, tersenyum dan senantiasa mengikuti langkah gadis tersebut. Sesekali gadis tersebut akan berhenti ketika melihat beberapa sayuran segar yang menarik perhatiannya.


"Ibu, apa kita akan membeli wortel ini?" tanya Kinanti melihat wortel-wortel yang cukup besar.


"Ooh ... baiklah. Kamu yang pilihkan saja. Ayahmu sangat suka dengan wortel." Jawab Mirah Diajeng dengan senyum di bibirnya.


Jika mengingat perlakuan ayah angkatnya tempo dulu, Kinanti akan merasa sakit. Tetapi jika berada di dekat ibu angkatnya itu, akan berbeda. Kinanti selalu diperlakukan dengan baik oleh Mirah Diajeng.


Sudah dua minggu, Kurasenta pergi untuk menjalankan tugas dari Wirata. Kaeena Kurasenta dan Jayasetya dipimpin oleh Wirata.


"Eh ... kurasa di rumah masih ada wortel. Jadi tidak perlu membeli lagi." Kinanti mengingat memang di rumah, masih ada wortel. Lagian akan tidak akan ada yang memakan wortel yang banyak. Dirumah, hanya ada dua orang.


"Bagaimana kalau membeli cabai? kurasa cabai sudah tidak ada lagi!?" usul Mirah.


"Baiklah ibu. Ayo kita membeli cabai saja." Ia mengajak ibu angkatnya.


"Maaf, kami tidak jadi membeli wortelnya." Ucapnya kepada penjual sayuran tersebut.


"Ooh tidak apa-apa. Mungkin lain waktu." Penjual tersebut tidak mempermasalahkannya. Memang itu hak pembeli untuk membeli atau tidak.


Kinanti berjalan jauh semakin memasuki pasar. Ia bersama Mirah Diajeng berbelanja beberapa bahan makanan. Dan ketika mereka sudah selesai berbelanja, di jalanan, terdapat bandit-bandit yang berada di luar pasar. Karena melihat pakaian Kirana dan ibunya yang terlihat tidak seperti masyarakat biasa, maka itu membuat para bandit tertarik.


Para bandit mengamati Kinanti yang memiliki paras cantik, dengan pakaian yang terlihat mahal. Dan wanita yang mengikutinya dari belakang, pun tidak kalah cantiknya, walau usia mereka terpaut jauh. Tetapi tidak memungkiri, penampilan keduanya membuat para bandit melancarkan aksinya.


"Sepertinya ada tamu tidak diundang." Mirah merasakan akan ada pertarungan dirinya dengan para bandit yang sedang bersembunyi.


"Ada apa ibu?" tanya Kinanti. Walaupum tubuhnya kini lemah dan tidak bisa bertarung lagi, tetapi pengalaman mengatakanada yang tidak beres dengan sikap ibu angkatnya.


"Berdiri di belakang ibu!" perintah Mirah memastikan anaknya aman.


"Baik ibu." Kinanti lantas bersembunyi di belakang Mirah.


Mereka tidak tahu kalau Mirah Diajeng adalah salah satu guru dari perguruan golok darah. Karena ia tidak tampak seperti seorang pendekar pada umumnya. Ia berpenampilan layaknya seorang wanita biasa. Tetapi memang pakaian yang dipakai, bukanlah pakaian murah yang biasa dipakai kebanyakan orang menengah kebawah.


Walaupun tanpa menggunakan senjata, tetapi bagi seorang guru dari perguruan golok darah, akan mudah untuk menghadapi para bandit yang memakai senjata sekalipun.


Mirah melesat dengan kecepatan tinggi untuk menyerang para bandit yang baru muncul dan tidak sempat mengubah senyumnya. Tetapi mereka sudah tidak bernyawa sebelum mereka mengayunkan pedang mereka.

__ADS_1


"Tidak mungkin." Salah satu bandit yang tersisa, terpengangah melihat kehebatan Mirah Diajeng.


"Dia iblis!" beberapa orang yang melihat secara langsung, dengan kecepatan wanita itu, tidak menduga. Wanita yang terlihat lemah itu mampu membunuh dengan cepat.


Beberapa bandit yang masih hidup pun tidak mau nasib mereka sama dengan rekan mereka. Alhasil, mereka yang masih ingin hidup pun meninggalkan tempat tersebut.


Beberapa orang yang melihat pembunuhan dalam waktu sekejap itu merasakan ketakutan serta kengerian. Mereka yang tidak ingin bernasib sama dengan mereka pun tidak berani mendekat.


Kinanti yang terbiasa melihat pembunuhan, sudah tidak merasakan takut lagi. Pasalanya ia bahkan sering melihat ibu angkatnya akan sangat kejam untuk membunuh siapapun yang mengganggunya. Sebagai gadis yang baru menginjak delapan belas tahun itu, tidak seharusnya ia melihat pertumpahan darah. Tetapi ia pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri. Bagaimana Kurasenta lebih kejam dari Mirah Diajeng. Tetapi ia merasakan sepasang suami isteri itu memang sangat kejam jika melakukan pembunuhan.


Berbeda dengan sikap Kurasenta kepada Kinanti, Mirah Diajeng akan bersikap lemah lembut kepadanya. Hanya saja, ia sering melihat ibu angkatnya terlalu sadis terhadap orang lain.


"Ayo kita tinggalkan tempat ini!"


"Baiklah, ayo ibu duluan." Kinanti mempersilahkan ibu angkatnya untuk berjalan di depannya.


Namun seorang tersenyum di balik pohon yang tidak jauh dari peristiwa pembunuhan tersebut. Ia tersenyum, sambil memainkan pisau kecil yang diputar-putar dengan tangannya.


***


"Ibu haus. Kurasa kita mampir dulu di kedai kopi. Rasa-rasanya tenggorokan ini terasa haus."


Tak lama kemudian, mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju. Akhirnya mereka memesan hanya air bening saja. Tetapi pelayan malah memberikan kopi.


"Saya tidak memesan kopi." Mirah Diajeng mengatakan itu dengan datar.


"Ini kopi gratis yang kami berikan untuk anda." Setelah mengatakan itu, pelayang tersebut segera pergi dari tempat itu.


"Orang aneh." Gumam Mirah Diajeng.


Kinanti hanya melihat kopi yang berada di atas meja. Ia tidak pernah meminum kopi sebelumnya, jadi ia tidak meminumnya sama sekali. Tetapi tidak dengan ibu angkatnya, yang meminum kopi itu dengan segera. Walaupun masih panas, akan tetapi ia meminumnya dengan cepat.


Dari dalam dapur, seseorang menyeringai senyum. Ia tidak menyangka, akan semudah ini untuk membuat wanita yang telah membunuh salah satu bandit yang merupakan saudaranya itu jatuh dalam perangkapnya.


Mirah Diajeng tidak merasakan apapun ketika berada di kedai kopi. Ia bersama Kinanti pun bergegas untuk segera pergi dari kedai kopi tersebut.


Namun ketika mereka berada cukup jauh dari pasar, tiba-tiba tubuh wanita tersebut terasa lemas. Ia baru menyadari, jika dirinya telah diracun oleh pelayan kedai. Ia tidak menyangka dan tidak tahu, jika mereka telah merencanakan ini semua.


"Ada apa ibu?" Kinanti yang melihat ibunya lemas, membuatnya segera memapahnya.

__ADS_1


"Sepertinya, ibu telah diracuni. Si*l*n!" umpatnya sambil memegangi kepalanya yang juga pusing.


"Hahaha ... akhirnya kau terkena perangkapku juga. Tetapi aku salut, kau tidak mati seperti kebanyakan pendekar yang telah meminum racunku!" seseorang dengan lantangnya memegang sebuah pisau bersiap untuk menyerang Mirah Diajeng.


"Jika aku bukan dari perguruan golok darah, mungkin aku sudah mati. Karena racun ini sangat kuat. Tetapi untuk menetralisir racun ini, membutuhkan waktu satu jam." lirihnya membuat Kinanti merasa tidak aman.


"Ohhh ... kau dari perguruan golok darah? tetapi tidak perlu kuatir. Meski racun itu tidak bisa membunuhmu, tetapi mungkin pisau ini bisa." dengan keyakinan itu, orang yang telah merasa dendam langsung berlari untuk menusuk wanita yang tidak berdaya.


Shuuut! jleeppp!


Anak panah telah bersarang di perut lelaki itu. Dan setelahnya, seorang pria bertopeng muncul dari atas pepohonan.


"Kurasa tidak adil, jika seorang pendekar bertarung dengan cara licik. Tetapi untungnya, saya bukan pendekar. Jadi maaf juga, aku juga melakukan cara licik ini."


Pria bertopeng tersebut menghampiri Mirah Diajeng. Ia tahu, wanita itu berbahaya, tetapi pria bertopeng itu, tidak ingin ada seorang wanita yang dilihatnya menderita. Siapapun wanita itu, karena setiap melihat wanita, ia akan melihat sosok ibu dalam wanita tersebut.


"Maaf, ini aku membawa obat penawar untuk ibumu." Pemuda tersebut menyerahkan botol kecil kepada Kinanti.


Setelah menyerahkan itu, pemuda yang membawa panah dan mengenakan topeng pun pergi begitu saja. Ia berjalan dengan santai menuju kedai kopi yang tadinya Mirah dan Kinanti datangi


"Siapa pendekar itu? tetapi aku tidak merasakan adanya tenaga dalam, dalam diri pendekar itu." Gumam Mirah Diajeng, yang membuat heran Kinanti.


"Tetapi ia mengatakan, kalau dia bukan pendekar. Apa maksudnya?"


Kedua wanita tersebut bertanya-tanya sendiri. Walau mereka tidak mengerti, tetapi mungkin saja benar ucapan lelaki yang telah menolong mereka.


***


Hari ini bisa upp


Nggak tau besok-besok


Mungkin tidak bisa upp


Kita lihat aja sikonnya besok


Karena saya tidak berani menjanjikan apapun


Mau Up atau tidaknya terserah saya yah

__ADS_1


__ADS_2