Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Kembali Ke Dunia Nyata


__ADS_3

Nindiya sudah mencoba berbagai macam cara seperti yang dikatakan oleh para makhluk di dunia ghaib itu. Selama lima tahun, dirinya sudah tinggal di alam jin itu. Ia sudah hampir menyerah setelah lama meninggalkan Nehan. Bagaimana kalau dia tidak bisa melihat suaminya kembali? Ia makan apa yang dimakan oleh para jin. Tanaman dan buah yang bentuknya aneh, tidak seperti yang ada di dunia nyata.


"Nehan ... sekarang sudah lima tahun kita sudah berpisah. Apalah kamu masih mengingatku? Uhhh ... huhuhu," tangis Nindiya yang sangat merindukan sang suami. Ia sudah bertahun-tahun berpisah dengan Nehan. Dan disaat sudah bertemu, ia juga berpisah selama lima tahun. Rasa rindunya malah semakin menggebu. Tidak pernah ia merasa rindu yang seperti itu sebelumnya.


"Kau tenanglah ... ini baru lima tahun. Kita di sini bisa hidup ratusan bahkan ribuan tahun. Bukan waktu yang lama buat kita. Lihatlah, wajahmu juga terlihat berbeda. Menurutku ini lebih cantik dari saat awal kau datang ke sini. Kata orang yang dulu pernah ke sini, di sini banyak tanaman obat-obatan yang berguna untuk manusia. Jadi kami sudah menyiapkan buah-buahan dan juga tanaman obat kami. Ini efeknya bisa menyembuhkan dari penyakit langka atau penyakit parah."


Seorang jin yang memiliki tanduk seperti kerbau, mendatangi Nindiya dan membawa sekarung buah-buahan yang biasa mereka makan. Ada juga di dalamnya adalah bahan obat mereka.


"Oh, iya ... aku lihat di daerah sana, ada sebuah cahaya terang. Mungkin itu adalah portal menuju ke duniamu. Jadi kita bawakan semua ini untukmu. Ini adalah sesuatu yang sangat langka. Sekarang kamu pergilah ke cahaya itu! Semoga kau akan kembali ke dunia manusia." Seorang anak jin yang memiliki bentuk kerdil dan mulut seperti bebek. Ia juga memiliki bulu yang halus. Ia memberi semangat dengan menepuk pundak Nindiya.


Selama lima tahun terakhir, Nindiya berada di dunia yang berbeda sama sekali dengan dunianya. Berkat obat-obatan di dunia itu, Nindiya sudah mendapatkan wajah yang sangat cantik. Tapi itu bukan wajahnya yang dulu. Ini akan membuat Nehan tidak mungkin bisa mengenalinya dan tidak akan percaya dengan wajahnya yang seperti itu.


"Terima kasih, semuanya ... kalau begitu, aku pergi dulu, yah! Aku tidak akan melupakan kebaikan kalian! Semoga kita bisa bertemu kembali di lain waktu." Sambil menerima sekarung buah dan tanaman lain, ia mengucap, "Terima kasih atas maka makanan dari kalian."

__ADS_1


"Kau cepatlah ke duniamu! Karena ini tidak akan bertahan lama! Kita tidak tahu sampai kapan portal itu akan terbuka! Cepetan kamu pergi dan temui suami kamu! Bukankah setiap hari kau menyebutnya? Sampai dalam mimpi pun masih mengigau namanya! Cepat kamu pergi, atau kamu mau menunggu lima tahun lagi? Hidup manusia katanya pendek. Hanya delapan puluh tahun sudah ada yang mati. Jadi cepatlah!" cerocos anak kecil yang memiliki mulut seperti bebek itu.


Sudah banyak Nindiya mengucap terima kasih. Maka ia pun menuruti ucapan mereka. Bukan untuk mengusir Nindiya. Tapi mereka kasihan dengan wanita itu. Walau mereka takut dengan manusia yang biasanya datang untuk mengambil beberapa jin untuk dijadikan budaknya, Nindya berbeda. Wanita itu malah mengajak makhluk-makhluk itu berteman. Tentu ada yang membenci Nindiya ada juga yang menyukainya. Tidak setiap dari mereka menerima kehadiran seorang manusia. Barulah setelah Nindiya pergi, mereka lebih tenang.


Nindiya dengan wajah barunya, melewati cahaya yang lima tahun lalu ia berawal. Ia keluar menggendong sekarung bahan makanan tersebut. Dan ia kembali ke dunia manusia setelah melewati cahaya lagi. Tapi disaat ia menengok ke belakang, itu seperti hutan biasa. Tapi ia merasa kalau tempat itu sama seperti lima tahun lalu. Ia melihat sekelilingnya, ia tidak mencari keberadaan tanaman obat milik Nehan.


"Lebih baik aku kembali ke bawah. Semoga Nehan masih ada di rumah atau membangun sebuah rumah di sana! Aku tidak tahan ingin bertemu denganmu, Nehan. Jangan kamu pergi lagi. Dan jangan kita berpisah kembali."


"Ke mana Nehan? Ini ada gubuk yang sama dengan lima tahun yang lalu, bukan? Oh, kenapa bisa seperti ini? Apakah dia tidak membangun rumahnya kembali?" lirih Nindiya. Padahal ia ingin tinggal dan hidup bersama dengan sang suami. Tapi entah mengapa ia tidak melihat pria itu.


Kondisinya sama seperti lima tahun lalu. Hanya yang membedakannya adalah adanya barang-barang yang terbuat dari tanah liat dan beberapa barang dari logam yang ada di dalam gubuk. Nindiya mencoba mencari di sekitar tapi tidak melihat Nehan. Ia melompat ke atas, melewati dahan demi dahan dengan ilmu meringankan tubuhnya. Kali ini ia tidak ingin kehilangan Nehan tapi ia tidak bisa melihatnya.


"Apakah kamu sudah pergi, Nehan? Tapi kenapa kamu tidak menungguku? Aku harus bagaimana agar bisa kembali bertemu denganmu?" Setelah melihat tidak ada siapapun, ia turun dari atas pohon.

__ADS_1


"Hahahaha! Hari ini kita mendapatkan banyak hasil jarahan! Sungguh desa ini walau terpencil tapi mereka memliki uang, kan? Dan tidak ada pendekar yang membela desa ini. Tentu ini akan membuat kita kaya saat merampok di desa ini terus! Kita akan kuras abis desa ini dan kita bisa membuat jadi kaya," pungkas seorang pria gondrong. Ia sudah membawa sekantong uang logam yang ia genggam.


"Kita tidak perlu buru-buru! Kita bisa menjarahnya perlahan. Kita akan bikin markas di sini, hah? Kita harus bertanya pada rekan-rekan dulu! Apakah kita bisa menjadikan ini sebagai tempat sembunyi, hah?" tanya seorang pria yang memiliki postur lebih rendah dan botak. Ia selalu membawa ketapel besar di tangannya.


Mereka tidak hanya dua orang. Jauh dari tempat mereka, ada pula yang sedang berlari ke arah kedua perampok itu. Kebetulan Nindiya melihat dan mendengar mereka yang telah berbicara. Jelas ini adalah kesempatan Nindiya untuk mencoba, apakah dirinya bisa menggunakan jurus-jurusnya yang terdahulu atau tidak. Maka ia muncul di hadapan dua perampok itu.


"Eh, manis ... kenapa di hutan seperti ini ada wanita semanis dirimu? Hehehe, pasti kamu tersesat yah, Cantik? Okelah ... bagaimana kalau kita temani untuk senang-senang dulu? Kita akan memberikan banyak koin emas dan tembaga ini untuk kamu, Cantik!" goda pria gondrong dan tinggi itu.


"Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Seperti memandang rembulan malam. Wajahmu begitu putih dan cantik. Ohhh, apakah kamu seorang dewi? Kita bisa bersama selamanya untuk memulai rumah tangga bahagia."


Nindiya merasa risih dengan perkataan mereka yang terkesan menggoda. Ia menyunggingkan senyum lalu mulai menyerang tanpa peringatan dahulu.


***

__ADS_1


__ADS_2