
Nehan tidak pernah membayangkan akan tiba di sebuah tempat yang berbeda dari dunia luar. Ia hanya menemukan sebuah bangunan berbentuk menara di tengah lembah. Sedangkan di sekeliling, banyak lubang di bebatuan. Hal itu tidak sesederhana yang dilihatnya. Karena itu seperti dalam dunia lain.
"Sungguh ini sangat luar biasa! Kupikir ini hanya ada dalam dunia fantasi saja! Tapi ini kulihat sendiri, ada yang seperti ini," ungkap Nehan takjub.
"Ayo, kamu ikuti kami!" ajak Sekar yang berjalan mendahului lelaki itu. "Dan tolong jangan bikin keributan di tempat ini!"
Nehan mengikuti Sekar dari belakang. Diikuti juga para murid wanita lainnya. Mereka sudah bertemu dengan beberapa tabib yang harus dibunuh karena berlaku tidak senonoh pada para pendekar itu. Bagi yang masih bisa ditolerir, mereka hanya kehilangan ingatannya saat berada di perguruan yang sangat tertutup tersebut.
Sepanjang langkah Nehan, hanya melihat banyaknya wanita yang membuka matanya. Di sekitar, banyak aneka tanaman langka yang sudah tidak ada lagi di luar perguruan itu. Namun bagaimana ia bisa mengobati orang yang tidak diketahui keadaannya.
"Duh, kenapa malah yang di datangkan kali ini adalah orang gila? Masa orang gila ini bisa mengobati Cempaka? Apa guru tidak salah membawa orang?" lirih salah seorang murid Bukit Lebah Hitam.
Yang jelas karena melihat tingkah Nehan yang tidak bisa diam dan melakukan hal-hal yang tidak lazim. Sekarang tabib gila itu memutar-mutar pisaunya. Walau tidak melukainya, itu adalah pisau yang tajam. Jalannya pun tidak seperti orang pada umumnya, dengan jalan berjingkrak dan kadang membuat gerakan-gerakan aneh.
"Kalau tahu di sini banyak wanita-wanita cantik, mungkin aku tidak mau pergi dari sini! Hanya saja tidak semua wanita ini cantik-cantik. Hanya ada beberapa saja, huhh." Nehan melihat ke belakang dan dilihatnya beberapa yang cantik, sisanya jelek baginya.
"Jika matamu tidak bisa dikendalikan! Lebih baik kau kubuat buta saja!" ketus Sekar dengan menodongkan sarung pedangnya.
"Hei, kamu tenang saja, Sayang. Aku tidak akan berpaling dari wanita lain. Aku sudah berjanji hanya akan menikahimu, 'kan? Tentu aku tidak akan menikahi wanita lain selain dirimu. Kamu tenang saja, lah. Besok setelah adik seperguruan kaku sembuh, aku akan membawa kamu ke rumah, untuk menikah."
__ADS_1
"Iih, siapa juga yang mau menikah dengan orang gila seperti kamu? Dasar orang gila! Kamu orang gila! Aku nggak mau menikah sama kamu!" pekik Sekar sambil menutup telinganya.
"Ah, jangan kau menutupi telingamu itu, Sayangku ... aku hanya bisa bersama kamu, melewati setiap ujian cinta hanya bersama denganmu. Melewatkan hari-hari bahagia sampai tua dan ajal menjemput kita. Cinta kita akan selamanya abadi."
"Hihihi, kenapa orang gila itu suka sama kakak Sekar? Tapi memang benar, di sini yang paling cantik kan kak Sekar. Yang kedua baru adik Cempaka." Salah seorang murid dari belakang, mengatakan itu dengan lirih. Tidak ingin Sekar tahu apa yang dikatakannya.
Mereka sampai di ruangan di mana seorang wanita paling muda di perguruan itu. Seorang gadis berusia enam belas tahun yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur. Sang guru sedang berada di depan mereka sambil mengusap kepala gadis tersebut.
"Guru. Kami sudah membawa tabib gila ini ke tempat ini. Mohon guru untuk memerintahkan!" ungkap Sekar memberi hormat pada sang guru.
"Hei, nenek tua! Bukanya tadi kau bersama kami? Kenapa kau tiba-tiba berada di sini? Apakah kamu orang yang sama atau memiliki saudara kembar?" tanya Nehan penasaran.
"Apa pengetahuan tentang dunia persilatan hanya sebatas itu? Kau tidak pernah dengar, orang mampu menggunakan ajian khusus dari masing-masing perguruan? Aku pernah mendengar seorang wanita yang mampu menggunakan ajian langka, sepi angin. Namun kabarnya wanita itu sudah mati terbakar beberapa hari yang lalu. Terus aku menggunakan langkah angin. Walau tidak sehebat ajian sepi angin, mungkin bisa sedikit menyamainya."
"Ajian sepi angin? Bukankah itu–" Nehan tidak meneruskan ucapannya. Namun yang ia tahu tentang ajian itu adalah ketika ia berada di kerajaan sebelah. Ia mengingat masa lalunya yang menjadi sebuah kenangan.
"Kenapa? Apakah kau pernah dengar ajian itu? Konon yang mengajarkan ajian itu adalah seorang guru yang sangat sakti. Namun tidak tahu bagaimana pada akhirnya semua penerus ajian itu sudah mati. Dan kini aku yang memiliki ajian langkah angin adalah manusia tercepat di dunia ini. Hahaha!" tawa sang guru itu.
Nehan berpikir dengan keras, ia hanya mengenal seorang yang memiliki kemampuan mengerikan itu. Rasa rindunya kini telah sirna karena kabar yang mengatakan semua penerus ajian sepi angin itu telah mati. Jika demikian, maka masa lalunya juga ikut mati.
__ADS_1
"Heh, kenapa kau malah bertanya seperti itu? Apa kamu tahu siapa pemilik ajian sepi angin itu? Huh, kenapa kau tingkahnya seperti berubah seperti ini?"
Melihat Nehan yang berubah dengan drastis, membuat wanita itu siaga. Yang tadinya terlihat seperti orang gila, kini terpancarkan kesedihan. Wanita itu berpikir, tidak mungkin kalau Nehan tahu siapa wanita itu. Karena siapapun yang melihat ajian itu tidak bisa bertahan lama hidupnya. Kecuali kalau beruntung pemilik ajian itu mau melepaskannya.
"Bagaimana mungkin dia? Apakah sudah tiada? Ah, semoga itu bukan dia. Aku yakin, tidak mungkin terjadi apapun terhadap dirinya. Pasti dia masih hidup. Aku harus memastikannya dahulu!"
Sekar pun merasa aneh dengan sikap Nehan yang tiba-tiba berubah. Kalau sikap yang seperti orang gila, membuatnya marah. Namun sikapnya yang berubah serius itu, membuatnya terpukau. Dia terlihat berwibawa dan tampan. Hanya saja terlihat kesedihan yang tidak jelas entah apa.
"Eh, aku di sini untuk mengobati! Aku akan memeriksa gadis muda ini! Tolong kalian semua menyingkir!" perintah Nehan dengan tegas.
Bagaikan tersihir dengan kata-kata tegas tabib itu, mereka pun membiarkan Nehan untuk melakukan pemeriksaan terhadap cempaka. Terlihat Nehan yang memeriksa mata, suhu tubuh, dan nadinya. Lalu ia mengambil seperangkat alat kecil seperti jarum dan pisau, kapas dan kain dari balik pakaiannya. Karena tipus dan berukuran kecil, bisa dengan mudah dibawa ke manapun berada.
"Ini terkena racun jamur jaring laba-laba. Untuk menetralisir racun ini, harus menggunakan tujuh buah sisik ular weling merah. Itu harus tujuh sisik di bagian kepala. Aku punya obatnya di rumah. Ini gadis hanya bisa bertahan tiga hari lagi! Kalau dibiarkan begini, dia akan segera mati!" ungkap Nehan dengan serius.
Mereka tidak tahu bagaimana cara Nehan memeriksanya. Sedangkan jika tabib lain, butuh waktu setengah sampai seharian untuk memeriksa. Dan mereka pun tidak ada yang menyerah dan menggelengkan kepalanya. Sedangkan Nehan hanya butuh beberapa detik untuk memeriksa dan mendiagnosis.
"Kalau begitu, saat ini juga, Sekar! Kamu ikuti tabib ini pulang ke rumahnya! Dan segera kembali ke sini! Hari ini juga, kalian harus kembali!" perintah wanita itu tegas.
***
__ADS_1