Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 50 Murid Pertama Nindiya


__ADS_3

Chapt 50


Seperti yang sudah disepakati sebelumnya. Putri Padmasari, beserta para prajurit yang mengawalnya, akan meninggalkan desa Guntur. Raditya telah dibawa ke dalam kereta kuda. Ia belum sadar dari komanya.


Nehan telah memberikan obat herbal yang sudah dia siapkan untuk kesembuhan Raditya. Ia mengatakan esok hari, Raditya akan siuman. Mereka tentu senang. Tetapi Raditya tidak akan tahu, bahwa dia telah bermalam di desa Guntur.


Mungkin Bayu dan Indera akan menceritakannya suatu hari nanti. Tujuan mereka adalah istana kerajaan Lokapraja. Sebenarnya kerajaan Lokapraja lebih jauh jaraknya daripada perguruan Pedang Dewa. Bisa saja Raditya langsung dibawa ke perguruan tersebut. Tetapi mereka telah berjanji untuk melindungi sang Puteri. Maka mereka harus mengawal Puteri Padmasari ke kerajaannya.


Untuk mencapai perguruan Pedang Dewa, mereka bisa menggunakan kereta kuda dengan waktu dua hari satu malam. Tetapi jika mereka dengan menggunakan kuda yang berlari kencang, mereka bisa tiba dalam waktu setengah hari. Ini karena perguruan Pedang Dewa berada di desa Banyuasih.


Berbeda halnya dengan kerajaan Lokapraja. Mereka bisa menempuh perjalanan tiga sampai empat hari perjalanan menggunakan kereta kuda. Sudah dipastikan letak kerajaan itu sangat jauh. Apalagi desa Guntur bukan termasuk wilayah kerajaan Lokapraja.


Sebenarnya desa Guntur diapit oleh dua kerajaan. Bila kearah timur, maka akan dipastikan mereka memasuki wilayah kerajaan Lokapraja. Seperti yang mereka lakukan saat ini. Jika mereka kearah barat, maka mereka akan memasuki kerajaan Widuri. Tidak ada alasan bagi mereka untuk kesana bukan?


"Baiklah, selamat tinggal semua. Kuharap kita dapat berjumpa lagi." Puteri Padmasari berpamitan pada warga desa. Terutama pada Nehan yang banyak membantu mereka.


Selepas kepergian mereka, warga desa mulai melakukan aktivitas mereka. Para warga ada yang bertaniatau beternak. Kakek Dewandaru telah ke hutan untuk mengumpulkan beberapa tanaman obat. Di hutan pula ia menanam tanaman obat obatan herbal. Maka jika ada di sekitar rumahnya, jangan ditanya. Maka kau tidak bisa menemukan tanaman obat di sana.


"Kak Nehan. Ayo ikut aku." Kirana menarik tangan Nehan.


"Ada apa?" Ia pun menarik tangan isterinya.


"Ayo ikut aja." Balasnya.

__ADS_1


Mereka pun sampai di rumah kakek tabib. Dimana Kirana bekerja membantu sang tabib untuk menjemur atau mengolah bahan obat obatan. Untuk meracik obat obatan, Kirana sudah ahli. Hanya untuk mengobati, ia belum ahlinya.


"Begini kak, aku ingin menjadi pendekar hebat. Bolehkah aku pinjam isterimu?" Kirana menatap Nehan. Lalu menatap Nindiya.


"Kalau begitu, tanyakan saja langsung." Jawab Nehan.


"Hmmm... Kak Nindiya, bolehkah aku belajar bela diri darimu?" Tanyanya. Dengan senyuman pupy eyes-nya.


"Boleh. Tetapi aku belum pernah melatih orang sebelumnya. Aku mulai dari mana?"


"Guru! Murid memberi hormat." Kirana segera berlutut dan memberi hormat.


"Bangun. Kenapa mesti begini?" Ia merasa tidak nyaman diperlakukan seperti ini.


"Iya. Tetapi apakah kau menerimaku menjadi muridmu?" Tanyanya memastikan.


"Yeay..." Kirana mengangkat tinjunya dengan semangat.


Kirana kini resmi menjadi murid Nindiya. Walaupun Nindiya masih harus belajar dengan Nehan. Tetapi mereka masih memiliki banyak waktu. Entah beberapa lama. Tapi dipastikan, mereka akan mengalami hal tak terduga.


Jika saja mereka tidak mengalami kejadian kejadian yang tidak terduga. Misalnya insiden penyerangan malam itu. Mereka harus lebih waspada. Apalagi para ninja yang menyerang itu sudah mengetahui desa mereka. Bukan tidak mungkin mereka akan datang lagi.


Saat Nindiya melatih Kirana. Kirana harus berlari mengelilingi desa. Inilah latihan pertama yang harus ia lakukan. Berlari, bertujuan untuk menguatkan otot kaki. Dengan tubuh yang bugar dan sehat pun mempengaruhi saat bertarung nantinya.

__ADS_1


"Duh... Latihan pertama kok disuruh lari?" Keluhnya.


"Jangan mengeluh." Nindiya dengan santainya berlari di atas dahan pohon.


Setiap dahan pohon yang ia pijaki tidak menjadikannya mengendur ke bawah. Padahal dahan pohon itu kecil kecil. Nindiya menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk berlari di atas dahan pohon tersebut.


"Wah... Hebat juga tuh. Nanti aku pasti bisa seperti dia." Gumamnya.


"Ayo semangat." Nindiya mempercepat langkahnya. Kini ia tidak terlihat oleh Kirana.


"Kemana dia?" Kirana mencari keberadaan Nindiya yang menggunakan ajian sepi anginnya.


Ajian sepi angin, memungkinkan penggunanya bisa tidak terlihat. Bagaikan angin berhembus, pengguna ajian ini akan sulit dikalahkan oleh musuhnya. Ajian ini juga bisa digunakan sebagai cara mempertahankan diri saat lawannya lebih hebat darinya.


Saat lawan lebih hebat dan tidak memungkinkan untuk melawan, maka dengan ajian sepi angin, seseorang bisa menjadi andalannya untuk melarikan diri.


"Apakah ini ilmu yang akan aku pelajari?" Ia berpikir, alangkah hebatnya jika ia bisa tidak terlihat.


"Belum. Ajian ini belum bisa diajarkan kepadamu." Tiba tiba Nindiya sudah berada di sampingnya.


"Ehh... Sejak kapan?" Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Sejak tadi aku di sampingmu." Nindiya tersenyum.

__ADS_1


Kirana mempercepat larinya. Ia tidak boleh terlihat lelah, walaupun ia sudah merasa lelah. Berbeda dengan Nindiya yang masih segar bugar. Ia seperti tidak menghabiskan banyak tenaga dalam. Walaupun sebenarnya ia memang memiliki tubuh istimewa.


***


__ADS_2