Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 74 Pertemuan Ayah Dan Anak


__ADS_3

Chapt 74


"Sepertinya kita terlambat." Wardana melihat sekeliling hutan warujati. Ia bersama dengan Daniswara.


Setelah mendengar kabar dari burung peliharaan Wardana, Wardana dan Daniswara pun menuju ke hutan warujati. Keberadaan Nindiya dan Nehan ada di hutan warujati, membuat Daniswara dan Wardana segera menuju tempat yang sekarang mereka jelajahi.


Saat ini, mereka sedang mencari keberadaan putera dan puteri mereka. Tetapi mereka tidak menyangka, mereka malah mendapati jejak kaki yang tidak mungkin hanya satu atau dua orang. Mereka yakin, mungkin telah terjadi pertarungan barusan. Karena mereka melihat rumput rumput yang telah terinjak oleh ratusan kaki manusia. Mereka tidak menggunakan ilmu meringankan tubuh, tetapi mereka yakin telah terjadi pertarungan di tempat tersebut.


"Dimana mereka berdua?" Daniswara sudah lama memendam rindu pada puterinya tersebut. Ia berharap, Nindiya masih mau menerima sebagai ayahnya.


"Sebentar, akan kuperintahkan burung-burung itu untuk mencari mereka berdua." Wardana kemudian memanggil burung-burung tersebut.


Dengan siulannya, Wardana mampu membuat burung-burung mengerti. Mereka pun menghampiri Wardana. Dan nampak Wardana menganggukkan kepalanya.


"Apa yang terjadi?" melihat Wardana berkomunikasi dengan burung, membuat Daniswara penasaran.


Dengan wajahnya yang tidak bisa dikenali lagi, ia yakin, Nindiya pun tidak mungkin mengenalinya. Akibat kumis dan jenggot Daniswara yang telah memanjang. Karena selama lima belas ditahan, ia hampir lupa untuk mengurus tubuhnya sendiri. Alhasil, ia memiliki rambut yang menutupi wajahnya. Dengan kumis dan jenggot panjang. Dan terlihat ****** yang tumbuh.


Mungkin bagi seseorang yang melihatnya, akan menyangka, kalau ia adalah seorang gelandangan atau orang gila. Mereka tidak tahu, kalau pria tersebut adalah sang legenda dunia persilatan. Pertarungan dengan Daniswara tempo hari, membuatnya menjadi buah bibir bagi pendekar sakti ataupun pendekar kelas bawah.


Sebenarnya ia tidak ingin bertemu dengan puterinya dengan tampilan seperti itu. Tetapi ia mendengar bahwa akan ada rencana Wirata yang ingin merebut pedang bumi, membuatnya tidak ingin lama lama berada di gua yang selama lima belas tahun mengurungnya.


Karena pedang bumi berada di tangan Nehan. Dan secara tidak langsung, berhubungan dengan Nindiya. Itulah sebabnya ia berhenti untuk meningkatkan tenaga dalamnya.


Ia hanya memerlukan waktu kurang dari seminggu untuk memulihkan tenaga dalamnya. Berkat kitab yang diberikan Wardana, membuatnya dengan mudah mengetahui teknik mengumpulkan tenaga dalam. Walaupun tenaga dalam tersebut telah habis sepenuhnya.


Saat ini, Daniswara hanya memiliki kesaktian yang terbilang biasa saja. Ia belum memiliki kekuatan seperti dahulu saat dalam masa jayanya. Bahkan untuk mengangkat pedang langit pun, ia tidak akan sanggup. Karena pedang langit, membutuhkan kekuatan yang dahsyat.


"Ikuti burung itu. Ayo!" ajak Wardana tanpa menoleh kearah Daniswara.


Daniswara mengikuti Wardana yang juga mengikuti seekor burung emprit yang membawa mereka di pinggir sungai. Dan mereka menemukan perempuan tergeletak di tepi sungai.


"Nindiya? Itu kah puteriku?" Daniswara berlari untuk melihat keadaan puterinya tersebut. Ia pandangi wajah puteri cantiknya itu.


"Ooh ... Nindiya? ini benarkah kamu nduk?" ucap Daniswara dengan suara lirih.

__ADS_1


Dalam hatinya, ia merasa miris. Melihat puteri semata wayangnya tersebut tergeletak tak sadarkan diri. Tetapi ia bernafas lega. Karena Nindiya masih bernafas dan detak jantungnya masih berdetak. Walaupun detak jantungnya lemah. Daniswara mencoba menyalurkan tenaga dalamnya. Dan membawa ke suatu tempat.


"Dimana Nehan?" Wardana mencari cari Nehan yang tidak bersama Nindiya. Dan ia melihat seekor burung yang terbang ke arah sungai.


"Tidaaak!!" teriak Wardana. Ia tahu maksud dari burung tersebut. Berarti Nehan tenggelam atau hanyut dalam sungai.


"Wardana?!" Daniswara mencoba menenangkan Wardana. Tetapi ia juga mengkhawatirkan keadaan puterinya.


"Kau urus puterimu! Aku akan mencari puteraku!" dengan wajah penuh emosi, Wardana melompat ke sungai. Sambil meneriaki nama Nehan.


"Maaf Wardana, aku tidak bisa membantumu. Semoga puteramu baik baik saja. Aku harus mengurus puteriku dulu." Gumam Daniswara. Ia memposisikan Nindiya dalam posisi duduk bersila. Dari belakang, ia menyalurkan energinya.


Wardana terus mencari Nehan. Tetapi pemuda tersebut, hingga kini belum ditemukan. Hingga hari mulai sore, Wardana pun memutuskan untuk keluar dari sungai. Ia menemui Daniswara yang kelelahan karena sudah menyalurkan kekuatannya pada Nindiya.


"Kurasa aku belum ditakdirkan bertemu dengan puteraku." Wardana terduduk lesu. Ia pun terlihat sangat lelah.


"Maaf, aku tidak bisa membantumu. Tapi aku menyayangkan. Apa yang harus ku katakan padanya nanti, saat ia siuman?"


Wardana tahu, Daniswara sedang bimbang. Dirinya pun tidak bisa menutupi kesedihannya. Kenapa takdir membawa mereka dalam penderitaan? Mereka orang baik. Tetapi orang baik, akan selalu mendapatkan cobaan. Beruntung Nindiya masih memiliki harapan. Tetapi bagaimana jika Nehan tiada? Apa yang harus mereka perbuat?


Karena keterlambatan mereka, mereka harus mengalami ini semua. Takdir memang kadang tidak berpihak pada kita. Tetapi dengan keyakinan yang teguh, kita akan bisa menghadapi itu semua.


"Tenang. Diya ..." Panggilan Diya adalah panggilan dari Daniswara kepada Nindiya.


"Ayah?" di alam bawah sadarnya, ia mendengar suara ayahnya. Ia pun membuka matanya.


Betapa terkejutnya ia, karena dihadapannya, terlihat seorang pria paruh baya dengan pakaian compang camping dan terlihat kumal. Wajah dipenuhi kumis dan jenggot. Tetapi perasaan itu terkuak kembali.


Entah mengapa, karena ikatan batin tersebut, Nindiya memeluk Daniswara. Ia merasakan bahwa ia adalah ayahnya yang ia rindukan walaupun tampilannya sangat berbeda. Tetapi ini adalah insting sebagai seorang anak.


"Ayah ...!!" Nindiya memeluk Daniswara sekuat tenaganya. Ia menyalurkan rindu yang teramat pada lelaki itu.


"Diya ... tenanglah. Ini ayah." Daniswara memeluk puterinya dengan perasaan campur aduk.


Entah sedih, bahagia atau haru. Pertemuan ayah dan anak itu, membuat genangan air mata merembes keluar dari kelopak mata mereka. Wardana yang hanya melihat mereka, ia hanya tersenyum kecut. Ia masih memikirkan Nehan yang belum ia temukan.

__ADS_1


"Nindiya?" Wardana memanggil nama itu. Ia bingung harus mulai dari mana. Tetapi menurutnya ini penting. Mereka harus memiliki hubungan baik, antara menantu dan mertua.


"Hah?" Nindiya melepas pelukan Daniswara. Ia melihat seorang pria yang umurnya hampir sama dengan ayahnya.


"Paman ini siapa?" tentu Nindiya belum tahu. Karena mereka baru pertama kali bertemu.


"Dia itu ayah mertuamu, Diya."


"Ay ... ahh?" ia mencoba mencerna ucapan ayahnya. Tapi ia belum juga tahu.


Nindiya memandang Daniswara dengan tatapan ingin tahu. Ia juga mengedary pandangannya pada Wardana. Ia belum tahu tentang hal tersebut.


"Sudahlah ... apa kau tahu, dimana Nehan, puteraku?" pertanyaan dari Wirata, malah membuatnya kembali meneteskan air matanya. Ia kembali memeluk ayahnya.


"Sudah sudah. Bila kau tidak ingin cerita, tidak apa apa." Daniswara mencoba menenangkan.


"Tidak apa apa!?" teriak Wardana dengan nada penuh emosi.


"Dia tertusuk pedang. Dan dia dilempar ke sungai," Nindiya kembali menangis. Kali ini, ia menundukkan kepalanya.


"Siapa yang melakukannya?"


"Tidak tahu ... hiks! dia tangannya cuma satu." ucapan Nindiya, membuat raut wajah Wardana tegang.


"Sialan!!!" umpat Wardana. Ia menggenggam pedangnya dengan kerasnya.


"Akan kubunuh kau Wirata!" dengan nada emosi, Wardana menghunuskan pedangnya.


Dengan penuh emosi, Wardana yang melihat ada pohon besar, ia melampiaskan amarah tersebut pada sebuah pohon besar di hadapannya. Wardana terus menebas pohon tersebut.


***


Mencoba upp episode, walau tangan terasa lemas


semangat membaca

__ADS_1


jangan lupa tinggalin like dan komen yah


terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2