Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 79 Mimpi Nindiya


__ADS_3

Chapt 79


Di sisi sungai yang mengalir lembut, airnya jernih serta menyegarkan. Seorang pemuda sedang duduk disana, dengan menggunakan pakaian serba hitam. Dari jauh, Nindiya melihat pemuda tersebut membelakanginya.


"Diya ... kemarilah!" pemuda tersebut tidak menengok ke arahnya, tetapi nindi yakin, pernah mendengar suara pemuda tersebut, tetapi ini pertama kalinya ada yang memanggilnya demikian selain ayahnya.


Nindiya pun melangkahkan kakinya, mendekati pemuda tersebut. Entah mengapa, air matanya tiba-tiba keluar begitu saja.


"Hapuslah air matamu, diya ...," entah mengapa, saat jarak mereka semakin dekat, malah membuat air mata Nindiya semakin deras.


"..." Air mata Nindiya semakin deras walau ia tidak terisak sama sekali.


"Ada apa? kau menangis?" pemuda yang masih belum menampakan wajahnya tersebut, hanya berbicara dengan datar.


"Sudah cukup!" Nindiya mendekati pemuda tersebut, dipeluknya pemuda itu dengan hangat.


"Kau menangis terus? Baiklah, menangislah kalau kau mau."


"Ssskkk ...," sesekali Nindiya sesenggukan dalam tangisannya. Rasanya nyaman saat memeluknya dari belakang.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu ada di sisimu, hanya saja," pemuda tersebut melepaskan pelukan Nindiya.


"Kamu jangan pergi lagi ..., aku, aku ... ssskkk ...," tidak kuasa ia menahan rindunya, ia sesenggukan dan tidak ingin jauh darinya.


Saat pemuda tersebut membalikan wajahnya, saat itulah semakin keras tangisannya. Tidak tahu apa yang terjadi, jika ia tidak lagi bersama dengan sosok lelaki yang kini dipeluknya.


"Nehan ...?!" hanya itulah yang terucap di bibir kecil Nindiya.


"Diya." balasnya. Nampak senyuman hangat dari Nehan yang mengenakan pakaian serba hitam tersebut.


Kemudian warna pakaian tersebut, menyebar ke udara, menjadi asap dan menyatu dengan pakaian Nindiya. Saat itu, raut wajah Nindiya berubah menjadi senyuman. Ia menyeringai senyum dengan sebuah ambisi membunuh di dalam dirinya.


"Janganlah kau menangis ... aku berjanji, akan selalu di sisimu selamanya. Maka aku harus meminta bantuanmu." suara Nehan yang lirih, ia tersenyum kepada Nindiya.


"Nehan?!" tidak seperti biasanya, Nindiya melihat sifat Nehan seharusnya tidak seperti ini. Terdapat keanehan terjadi di raut wajah suami Nindiya tersebut.


"Kenapa? hmmm ...?" raut wajah Nehan tersenyum dengan seringai jahat tersungging di bibirnya.


"Nehan? kau benar Nehan kan?" tanyanya untuk memastikan. Wajah itu, memang sangat mirip dengan Nehan. Tetapi ia merasakan kejanggalan dalam diri Nehan.

__ADS_1


Sesuatu perasaan yang berbeda saat bertemu dengan Nehan. Atau ini hanya perasaan Nindiya saja? Tetapi ini memang terlihat aneh. Sejak kapan Nehan memiliki aura hitam tersebut?


Nindiya merasakan tubuhnya ada sesuatu dorongan untuk membunuh. Yah ... semenjak aura hitam tersebut merubah warna pakaiannya, membuatnya ingin membunuh seseorang. Tetapi mengapa? siapa yang ingin ia bunuh?


"Diya ..." Nehan memanggilnya dengan suara yang menggelegar.


"Iya?!" tidak tahu kenapa, tiba-tiba suaranya pun sedikit bergetar, setelah mendengar ucapan Nehan.


"Kau mau kan, menuruti permintaan suamimu ini?" dengan senyuman yang terlihat aneh tersebut, tetapi terlihat manis dimata Nindiya.


"Baiklah, Nehan. Apa yang kau inginkan dariku?" ia kemudian menatap Nehan dengan perasaan menggebu-gebu.


"Balas dendam!" suaranya pelan, namun ia mengatakan itu, bumi seakan bergetar hebat.


"Baiklah, siapa yang ingin aku balaskan dendamu? aku akan melakukannya. Dengan sukarela." Ia sudah memiliki bayangan Wirata di dalam angannya. Apakah orang itu yang ingin Nehan bunuh?


"Ubhaya ...," ucap Nehan, membuat Nindiya tersentak.


"Baiklah ...," hanya sunggingan senyum terlintas di bibir Nindiya. Ia tidak peduli, Ubhaya ataupun Wirata. Keduanya akan mati di tangannya.


"Hmmm ... ini baru isteriku yang baik dan cantik. Aku akan menunggumu saat kau berhasil membunuhnya. Suatu saat nanti, kita akan bersama untuk selamanya." Nehan menatap Nindiya lalu menjauh melayang ke arah aliran sungai.


"Apa yang terjadi?" perlahan, kepalanya mulai pusing. Dirinya terjatuh ke tanah, setelah rasa pusing itu semakin menjadi. Kesadarannya pun mulai hilang. Tiba tiba, semua gelap.


***


"Nduk, bangunlah!" tangan besar, menyentuh kepala Nindiya yang belum membuka matanya, ia merasakan pusing yang luar biasa.


"Apa yang terjadi paman? apa dia masih bersedih atas kematian Nehan?" seorang gadis yang terdengar di telinga Nindiya.


Apa? Nehan sudah mati? Itu tidak mungkin. Tidak mungkin Nehan telah mati begitu saja. Barusan ia berbicara dengan Nehan. Tetapi mengapa ada yang mengatakan Nehan sudah mati?


"Tidak! Nehan tidak mati!" tanpa sadar, Nindiya meneruskan nama Nehan.


"Diya, tenanglah!"


Saat ia membuka matanya, dilihatnya Daniswara dan Kirana sedang merawatnya. Mereka menatap nanar pada Nindiya yang merasa suaminya belum mati. Tetapi mereka tidak berani mengatakan itu lagi ketika Nindiya tersadar dari mimpinya.


"Tenang Nindiya. Suatu saat lagi, kau juga akan menemukan bahagiamu, nduk." Daniswara mencoba menenangkan Nindiya, karena ia tidak mau puterinya terpuruk karena satu pria.

__ADS_1


"Tidak. Ayah ..., Nehan tidak mati. Tidak mati!" karena ia tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia segera memeluk ayahnya tersebut. Ia tidak percaya begitu saja, kalau ini hanyalah mimpi. Nehan masih hidup dan selalu berada di sisinya.


"Tenang nduk, suamimu pasti akan kembali. Kau percaya pada ayah mertuamu ini bukan?" ucap Wardana yang juga masih berharap anaknya masih hidup.


"Nehan masih hidup. Benarkah ayah?" tanyanya, kemudian melepas pelukan ayahnya. Dilihat wajah ayahnya yang sudah memotong kumis dan brewoknya yang menutupi wajah tampan sang ayah.


"Kita akan mencari Nehan bersama-sama. Atau kau serahkan saja padaku." ucap Wardana.


Mencari? Bukankah Nehan sudah menemuinya tadi? Ia sudah bertemu dengannya dan Nehan baik baik saja. Bahkan Nehan terlihat segar dan memiliki kekuatan mistis yang aneh. Auranya pun sekarang berbeda dengan dahulu.


Saat ini, bahkan Nindiya telah memakai warna hitam. Yah, itu apakah warna kesukaan Nehan? Karena biasanya Nehan memakai baju yang tidak mencolok dan terlihat kalem. Tetapi saat ia memakai baju hitam, ia terlihat seperti orang lain.


Apakah tadi mimpi? Atau kenyataan? Tetapi Nindiya merasakan jika itu benar-benar nyata. Ia merasakan memeluk Nehan sebelumnya. Jika itu mimpi, tidak mungkin ia bisa merubah warna bajunya. Tetapi jika kenyataan, kenapa Nehan bisa melakukan itu semua? Nehan pun bisa mempengaruhinya untuk membalaskan dendamnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Daniswara memastikan puterinya dalam keadaan baik.


"Iya, aku baik." Namun, ia merenungi apa yang diucapkan Nehan. Entah dalam mimpi atau apa itu.


"Sebaiknya kau istirahat dulu. Untuk temanmu yang lainnya, mereka sudah pergi dari sini."


"Ooh ... mereka juga sudah pergi? tapi mereka tidak mengatakannya padaku."


"Sudahlah kak Nindiya. Mencari Puteri Padmasari itu urusan mereka. Kan mereka yang memiliki kepentingan tersebut. Kita tidak perlu ikut campur kan?" ucap Kirana sambil tersenyum.


"Tunggu dulu. Puteri Padmasari? apakah kau mengetahuinya, Wardana?" Daniswara menengok ke arah Wardana.


"Sepertinya Puteri itu, ada hubungannya denganmu Daniswara?!" selidik Wardana mengamati raut wajah Daniswara.


Tetapi Wardana tidak menemukan kejanggalan apapun di wajah Daniswara. Ia hanya melihat kekawatirannya pada Nindiya yang sedang dirundung duka.


"Lihat, ini hampir hujan. Sepertinya kita harus berteduh." ungkap Wardana sambil menatap ke langit yang mulai menyuarakan petirnya.


"Apa kau sudah membuat gubug untuk kita bernaung?" tanya Daniswara. Ia sudah memerintahkan Wardana untuk membuat gubug, sementara dirinya menunggu Nindiya bangun karena terlalu syok setelah melihat Nehan tertusuk pedang dan dilemparkan ke sungai oleh Wirata.


"Tidak perlu gubug. Tadi saya menemukan goa yang cukup besar untuk kita berlindung. Ayo ikut denganku!" ajak Wardana kepada mereka yang masih berada tidak jauh dari tepi sungai.


Mereka pun mengikuti Wardana berjalan dengan menyabetkan pedangnya untuk menebas rumput-rumput panjang dan ranting yang mengganggu jalan mereka.


***

__ADS_1


.


__ADS_2