Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 80 Keputusasaan Tantri


__ADS_3

Chapt 80


Baru satu Minggu berada di perguruan pedang dewa, Raditya merasa sudah sangat lama sekali. Ini karena setiap langkahnya, akan diikuti oleh Tantri. Yah, gadis tersebut merasa khawatir tentang kesehatan Raditya yang masih belum sembuh.


Setidaknya Raditya harus bersabar selama tiga atau empat Minggu ke depan. Ini berkat obat-obatan yang di racik Nehan waktu masih berada di desa Guntur. Perkembangan kesembuhan Raditya begitu cepat. Sehingga saat ini, ia sudah bisa berjalan, walaupun perutnya masih terasa sakit.


"Kau mau kemana?" dari tadi, Tantri selalu mengikuti Raditya.


"Kenapa kamu terus mengikutiku?" ungkapnya dengan wajah tidak suka, karena ia sudah merasa bosan dan lelah berada dalam pengawasan gadis tersebut.


Kalau saja Wiyakta, guru Raditya, tidak memerintahkan Tantri untuk mengurus Raditya, itu tidak apa. Tetapi karena permintaan langsung dari guru Wiyakta, Raditya tidak bisa membantahnya.


Guru Wiyakta mengetahui Tantri memendam perasaan terhadap Raditya. Oleh karena itu, guru paruh baya tersebut memberi jalan Tantri untuk mengambil hati Raditya.


"Ini kan perintah guru ... masa kamu mau melanggar perintahnya? ini juga demi kebaikanmu sendiri." ungkapnya dengan nada kesal.


Tantri merasa tidak habis pikir. Sejak kecil, ia selalu ingin bersama dengan Raditya. Berbagai cara, telah ia coba untuk mendapatkan hati Raditya. Tetapi memang Raditya-nya yang memang batu atau memang tidak memiliki perasan apapun terhadapnya. Ini membuat Tantri frustasi sepanjang malam.


"Mengapa hidupku seperti ini?" lirih Tantri berucap, membuat perasaan Raditya tidak enak.


"Tantri?!" panggil Raditya yang melihat wajah Tantri kini memiliki aura mendung.


"Kamu benar-benar tidak peka, atau gimana sih? huhhh ...," tak terasa, air mata itu jatuh.


Lima belas tahun sudah mereka bersama. Sejak diangkatnya mereka menjadi murid pedang dewa, saat itu usia mereka masih terlalu kanak-kanak. Namun usia mereka kini sudah dewasa.


Bukannya Raditya tidak tahu, kalau Tantri menyimpan perasaan padanya. Dalam hati Raditya, memang ada perasaan terhadap Tantri. Tetapi bukan perasaan sebagai seorang pria terhadap wanita. Tetapi perasaan sebagai seorang saudara. Seorang kakak terhadap adiknya.


"Tantri?" panggilnya lirih kepada gadis yang saat ini sedang menangis.


"Kau jahat Raditya!" cukup sudah usahanya. Ia sudah cukup menderita dengan semua ini.

__ADS_1


Sebagai seorang gadis yang memiliki cinta yang terpendam semenjak kecil, Tantri hanya berharap perasaannya akan terbalaskan. Tetapi ia merasa lelah dengan usahanya ini.


"Tantri?!" panggilnya setelah melihat Tantri yang sudah menjauh dari Raditya. Perasaannya menjadi kalut, setelah menyadari. Ia terlalu kejam terhadap gadis tersebut.


"Maafkan aku." Gumamnya pelan.


Tantri berlari menjauh dari jangkauan Raditya. Perasaannya sedang berkecamuk sekarang. Yang dipikirkannya saat ini adalah menjauh. Sejauh mungkin ia harus benar-benar pergi dari kehidupan Raditya.


Beberapa murid pedang dewa yang melihat Tantri menangis, hanya bisa mengelus dada. Mereka menyayangkan sikap Raditya selama ini yang menurut mereka keterlaluan.


"Bodoh sekali Raditya, dia menyia-nyiakan gadis baik seperti Tantri. Selain itu, Tantri itu cantik. Kalau aku jadi Raditya, aku sudah menikahi saja dia." Ucap salah satu murid lelaki.


"Tantri juga, kenapa dia begitu bodoh? Di sini masih ada lelaki yang hebat dan lebih tampan dari Raditya." Ucap seorang murid lain yang membusungkan dadanya.


Tantri terus berlari, tidak menghiraukan semua ucapan dari para pemuda tersebut. Dari dulu, Tantri memang mengejar-ngejar Raditya. Hingga saat ini, ia masih berharap perasaannya terbalaskan. Sudah berbagai cara ia lakukan untuk mendekati Raditya. Tapi semuanya gagal sudah. Sekarang hanya tinggal penyesalan.


Sebuah penyesalan Tantri karena telah mencintai orang yang salah. Ia pikir, dengan cara mendekati Raditya, ia akan luluh. Tetapi itu hanya khayalannya saja.


"Ternyata aku salah ...," ia memandangi pohon besar di depannya yang berdiri dengan kokoh.


Dengan amarah serta kekecewaan atas usahanya sendiri, ia meluapkannya dengan segala apa yang bisa ia lakukan. Jika bisa, ia akan memiliki pohon tersebut sampai tumbang.


"Baiklah R-A-D-D-I-T-Y-A!!!" kata penuh dengan penekanan saat menyebut nama Raditya.


"Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak seorangpun bisa hidup denganmu. Hahahaha!!!" saking kecewanya, ia hanya tertawa dengan air mata yang masih mengalir.


Butiran-butiran air mata Tantri, berpencar ke segala arah. Karena Tantri memutar tubuhnya untuk menciptakan pusaran angin yang membuat udara di sekitar menjadi memyeramkam dengan beterbangnya daun daun kering yang telah jatuh ke tanah.


Tawa keputusasaan Tantri, hanya disaksikan beberapa murid perguruan yang merasa iba. Ada pula sebagian dari mereka tidak peduli dengan Tantri. Mau berbuat apa, itu urusan Tantri, bukan urusan mereka.


"Tantri, apa yang kau lakukan di sini?" suara tersebut, membuat Tantri berhenti.

__ADS_1


"Guru?!" ia menengok ke arah suara tersebut, dilihatnya seorang wanita yang memiliki paras cantik.


"Janganlah kau menggunakan emosimu untuk berniat mencelakai orang, Tantri. Aku bisa membantumu untuk mendapatkannya?" wanita tersebut menyunggingkan senyumnya. Isteri dari gurunya tersebut telah menjadi guru serta seorang ibu bagi murid perguruan.


"Guru ... hikss!" Tantri berlari mendekati wanita tersebut, lantas memeluknya dengan erat.


Yang dibutuhkan dari seorang Tantri adalah sandaran dan kasih sayang. Bukanlah sebuah pelampiasan yang kebanyakan orang lakukan karena patah hati. Sebuah pelukan kasih sayang dari orang-orang yang menyayangi, mungkin akan meredakan emosinya. Itu cukup untuk beberapa waktu ke depan.


Sang guru, harus memikirkan cara yang terbaik, agar emosi Tantri tidak meledak-ledak seperti barusan. Ia pun merasa tindakan serta ucapan Tantri, sangat berbahaya. Bagaimana jika ia benar-benar akan membunuh? Sebelum itu terjadi, harus ada pencegahan sebelum Tantri benar-benar lepas kendali.


Perasaan cinta seorang wanita adalah tulus. Secara murni, perasaan itu akan tumbuh dengan berjalannya waktu. Cinta yang begitu besar, sangat sulit untuk dihilangkan dengan sekejap. Meskipun ada rasa benci terhadap orang yang pernah dicintainya, tetapi perasaan cinta tersebut akan tetap ada di dalam hatinya.


Perasaan yang sudah tumbuh sekian lamanya, tidak mungkin mudah untuk dihilangkan. Mereka yang ingin menghilangkannya, harus menghilangkan itu semua sampai akarnya. Seperti rumput liar yang telah tumbuh bertahun-tahun, perasaan itu pun akan semakin berkembang, dan akan bercabang.


Saat rumput-rumput itu dicabut dari akarnya, mungkin saja masih tertinggal akar yang tidak terlihat oleh mata, maka ada kemungkinan akar tersebut akan tumbuh lagi. Yah, intinya, jika seorang mencintai, dia tidak akan mudah melupakan orang yang ia cintai.


Tidak seperti nafsu manusia. Jika nafsu, itu di ibaratkan sebuah hidangan makanan. Jika ia sudah makan hingga kenyang, ia tidak menginginkan makanan itu lagi. Dan ia bisa melupakan makanan tersebut dan mulai merasakan makanan-makanan lain yang rasanya berbeda-beda.


"Apa yang harus aku lakukan, guru?" Tantri bersandar pada wanita tersebut. Ia sudah merasa tenang untuk saat ini.


"Hmmm ... percayalah pada hatimu sendiri, Tantri. Mungkin rasa cintamu itu tidak akan mudah hilang. Dan kau mungkin telah membencinya. Tetapi ketahuilah Tantri," ucapnya sambil mengelus kepala gadis tersebut.


Tantri yang mendengar ucapan dari wanita tersebut, sedikit lebih tenang. Ia memandang langit biru yang cerah dengan tersenyum hangat.


"Cinta, tidak selamanya harus memiliki. Kau mungkin masih bisa berusaha. Tetapi janganlah terlalu berharap. Jika kau gagal, mungkin ada takdir lain yang menunggumu. Jangan kau tumbuhkan cinta itu seperti rumput liar, itu akan berbahaya buatmu sendiri. Tetapi sesekali potonglah rumput itu, agar tidak terlalu tinggi. Apa kau paham maksudku?"


"Tidak ..."


"Intinya, janganlah kau paksakan cintamu itu. Lakukanlah sewajarnya. Mungkin Raditya tidak menyukaimu karena kau terlalu ambisius. Apa kau mau mencoba caraku?"


"Apa guru?" Tantri menatap wanita tersebut lalu ia tersenyum setelah ia melihat senyuman wanita yang menjadi lawan bicaranya.

__ADS_1


***


__ADS_2