
Chapt 93
Seharian Gemani dan Nindiya tidak sadarkan diri. Malam harinya, Gemani baru membuka matanya. Ia melihat ke sampingnya ada Nindiya yang masih belum sadarkan diri. Ia melihat, ia saat ini tidur beralaskan daun jati. Ia juga melihat Nindiya yang bernafas normal dalam tidurnya.
"Huhh ... apakah ini sudah selesai? Bagaimana keadaan puteri Padmasari?" gumamnya sambil melihat sekeliling. Gadis itu memang belum pernah melihat sang Puteri secara langsung. Orang mengatakan bahwa Puteri Padmasari adalah seorang perempuan yang cantik jelita. Namun ia tidak tahu, apakah memang benar adanya.
Gemani melihat Nindiya sekali lagi. Masih tetap sama. Belum sadarkan diri. Ia pun memutuskan untuk keluar dari gubug yang ia yakini Jumantara yang membuatkannya. Jumantara memanglah seorang yang mampu membuat apa saja yang berhubungan dengan alam. Karena ia pun hampir menyamai Jumantara, soal kemampuannya.
Gemani keluar dari gubug. Dilihatnya Jumantara dan yang lainnya sedang membakar sesuatu. Api unggun dibuat di pinggir sungai. Mereka mengelilingi api unggun tersebut untuk menghangatkan tubuh. Dilihatnya seorang perempuan yang tertawa dengan mereka tanpa canggung.
"Eh ... Gemani? Kau sudah bangun? Ayo ikut bergabung!" panggil Bayu yang melihat Gemani berjalan mendekat. Ia bisa melihat Gemani karena bulan sedang terangnya. Langit terlihat cerah.
Gemani mengangguk dan mendekat kearah para pemuda dan seorang perempuan, yang merupakan seorang Puteri di kerajaan Lokapraja. Semakin dekat, ia pun melihat dengan samar-samar, kalau Puteri Padmasari memang terlihat cantik. Gemani tersenyum canggung dan memberi hormat.
"Tidak perlu hormat padaku. Oh ... terima kasih juga, yang telah menolongku. Aku dengar dari mereka ..." ucapnya terhenti sejenak. Ia melihat kearah masing-masing pemuda yang ada di disitu. "Mereka bilang, kalau kalian berdua yang banyak menyelematkanku." Puteri Padmasari melihat raut wajah bingung dari Gemani. Jelas sang puteri tahu, dan juga memakluminya.
"Sudahlah ... bukankah kamu belum makan? Ayo aku kita makan sekarang!" ajak Bayu dengan menunjukan daging kelinci yang telah ia bakar.
"Baiklah. Aku juga lapar," sahut Gemani. Ia mengikuti langkah Puteri Padmasari, yang berjalan untuk bergabung dengan para pemuda tersebut.
Hari semakin larut. Mereka yang sudah menghabiskan makanan, segera beranjak dan mengistirahatkan tubuh mereka. Gemani dan Puteri Padmasari memasuki gubug yang disana ada Nindiya yang masih belum sadar.
"Aku kasihan dengannya ..." lirih Gemani.
"Kenapa?" tanya Puteri Padmasari. Ia duduk di sebelah Gemani.
"Apakah tuan Puteri tahu, kalau dia sudah menikah?" tanya Gemani.
"Tahu ... bahkan saya melihatnya sendiri. Mereka menikah, aku ada fi sana. Eh ... tetapi di mana Nehan? Kurasa aku melupakannya ...." Ia baru sadar, kalau Nindiya tidak bersama Nehan. Entah sudah berpisah atau sedang ada masalah lain.
"Mereka belum menceritakan padamu, kalau suaminya telah dibunuh?" lirihnya tak ingin membuat keributan.
"Apa?!" tukas sang Puteri. Ia tidak percaya dengan kabar tersebut.
"Ada apa, Gemani?" Dari luar, terdengar Jumantara yang bertanya dengan panik. Ia khawatir terjadi sesuatu pada keduanya.
__ADS_1
"Tidak ada! Kamu tidur saja!" jawabnya tak ingin membuat khawatir.
"Benar?"
"Iya. Kami tidak apa-apa!" pungkasnya.
"Yasudah. Kalau ada apa-apa, kamu panggil saya saja yah!"
"Iya ...."
Jumantara meninggalkan tempat tersebut. Ia juga sudah mengantuk. Saatnya ia harus mengistirahatkan badannya yang capek.
Malam semakin larut. Mereka pun akhirnya terlelap dalam dunia mimpinya masing-masing.
***
Hari masih sangat pagi, ketika Nindiya sadarkan diri. Ia tersadar dan hari masih terlalu pagi. Masih gelap dan belum ada yang bangun di pagi ini. Ia melihat dua perempuan yang terlelap di sampingnya.
"Ah ... ada dimana aku ini?" gumamnya bersamaan dengan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia duduk sebentar, sebelum akhirnya ia berdiri, dan berjalan keluar dari gubug.
Nindiya melesat dengan cepat. Tidak tahu kenapa, ia merasa dirinya terpanggil, untuk mengetahui apa yang dilakukan orang tersebut di pagi buta ini. Dengan kecepatan sedang, ia akhirnya sampai di lokasi. Di depannya ada tebing yang tinggi. Dan seseorang sedang menggali tanah dengan cangkulnya.
"Hei!" Suara Nindiya malah mengagetkan orang tersebut. Sempat orang itu menoleh, tetapi wajahnya tidak kelihatan dengan jelas. Karena hari masih pagi buta. Cahaya matahari yang keluar dari persembunyiannya.
Orang tersebut segera menutup wajahnya dengan topeng yang diletakan tidak jauh dari tempatnya. Kemudian pria bertopeng itu mendekati Nindiya.
"Nindiya? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya ketika ia sudah dekat dengan perempuan itu.
"Kamu mengenalku? tunggu ... apakah kamu Narendra?" tebaknya memastikan bahwa ia benar, dan tidak salah mengenali orang.
"Iya. Kamu benar!" jawabnya sambil mengangkat cangkul yang digunakan untuk menggali lubang yang ukurannya cukup besar.
"Apa yang sedang kamu lakukan pagi ini?"
"Saya sedang menggali lubang. Kalian yang membunuh orang-orang itu, tetapi kalian tidak mau bertanggung jawab menguburkannya. Apakah kau tahu ... mayat-mayat yang membusuk, akan menimbulkan banyak wabah penyakit, kalau tidak kalian urus? Saya hanya tidak habis pikir. Kalian para pendekar, mudah sekali membunuh orang, tetapi tidak menguburkan mereka. Meskipun mereka orang jahat, bukankah kita sebagai manusia, layak mendapatkan perlakuan baik. Mereka layak untuk dikuburkan.
__ADS_1
Tidak pendekar golongan hitam, tidak pendekar golongan putih. Mereka terus menerus saling membunuh, tanpa memperdulikan resikonya. Mereka tidak ada yang mau mengurus mayat yang menjadi lawannya. Jadi menurutku, tidak ada yang namanya pendekar golongan hitam ataupun pendekar golongan putih. Menurutku hanya ada orang baik, dan juga orang tidak baik. Sebenarnya baik buruknya seorang pendekar, itu bukan dilihat dari golongan itu, tetapi bisa dilihat dari hatinya.
Meskipun kamu adalah pendekar dari golongan putih, tetapi tindak dan perilakumu tidak mencerminkan sebagai orang baik, maka kamu bukanlah orang baik. Sebaliknya, meskipun pendekar dari golongan hitam, tetapi di hatinya ada sedikit kebaikan. Maka itu cukup dianggap sebagai orang baik.
Dengarkanlah ucapan tidak bergunaku ini dengan baik! Meskipun aku bukanlah seorang golongan dari pendekar, aku juga bukan orang baik. Tetapi aku tahu baik dan buruk seseorang, dengan melihat perbuatan mereka. Saranku ... kau tinggalkan orang-orang itu! Tetapi itu tergantung pada dirimu sendiri. Oh ... maaf, jadi banyak ngomong. Saya mau menguburkan mayat-mayat itu." Narendra membalikan badan. Ia melanjutkan menggali lubang.
"Apakah boleh kubantu?" tanya Nindiya yang merasa perkataan Narendra itu memang benar. Ia yang tidak tahu hal tersebut. Tidak terfikirkan juga olehnya.
"Kau bisa membantuku untuk membawa mayat-mayat mereka ke sini?"
"Mayat?" mendengar kata mayat, ia langsung tertunduk. Semasa kecilnya, ia sudah melihat banyak mayat teronggok di sekitar rumahnya. Saat penyerangan desa oleh Ubhaya. Melihat mayat saja ia rasa tidak sanggup. Apalagi harus mengumpulkan mereka.
Hari semakin terang, tetapi Nindiya masih berdiri di sana. Melihat Nindiya diam saja, membuat Narendra menatap Nindiya.
"Kenapa?" tanyanya. Ia ingin menghampiri Nindiya. Tetapi tidak jadi.
"Aku tidak ingin melihat mayat!" jawabnya dengan gemetar.
"Ooh ... lalu bagaimana kamu bisa terlibat dalam pembunuhan ini?"
"Aku tidak membunuh. Aku tidak mau membunuh!" teriaknya menutup telinganya.
"Jadi kamu tidak membunuh mereka? Baiklah ..." gumamnya mendekati Nindiya. "Apa kau ada trauma dengan masa kecilmu?"
"Trauma?"
"Iya ... seperti kamu melihat pembunuhan di depan matamu?"
Nindiya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Narendra. Narendra mengangguk mengerti. Maka ia tidak menyuruh Nindiya.
"Sebaiknya kamu pergi dari sini! Sebentar lagi terang. Kamu akan melihat mayat-mayat dalam kondisi menyeramkan. Kembalilah ke teman-temanmu!" pintanya agar Nindiya tidak mengalami ketakutan lagi.
Nindiya menganggukkan kepalanya. Setelah itu, ia pun meninggalkan tempat itu dengan menahan rasa takutnya. Ia berlari menuju gubug. Dimana mereka belum bangun dari tidur. Nindiya berbaring lagi ke tempatnya sebelum ia pergi.
***
__ADS_1