Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 36 Keberadaan Daniswara


__ADS_3

Chapt 36


Derap langkah seorang pria paruh baya. Membawa pedang di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya tidak terlihat di tempatnya. Ya, ia seorang pendekar yang kehilangan satu tangannya. Dunia persilatan menimbulkan banyak efek dari pertarungan. Kehilangan satu tangan merupakan efek kecil dunia persilatan.


Berjalan melalui hutan yang tampak rimbun. Ia menyeringai senyum. Dilihatnya sebuah gua yang terletak di bawah bukit batu. Ia masuk kedalam dan menemui dua orang pria yang lama tidak ditemuinya.


"Kurasa kau masih sama seperti dulu, Wira." Seseorang yang tengah duduk terikat rantai. Wajahnya yang terlihat lusuh dan pakaian yang telah usang. Serta beberapa bekas luka yang sudah mengering.


"Sudah lima belas tahun. Apakah kau tidak rindu isteri dan anakmu? Kurasa mereka sudah mati sekarang." Pria bernama Wira itu melangkah dengan sombongnya. Menatap pria lusuh dihadapannya.


"Kurasa usiaku sudah tidak lama lagi. Namun kejahatanmu akan dapat balasannya."


"Daniswara. Kau pikir bisa mati sebelum kau beri tahu. Dimana kitab itu kau sembunyikan?" Tanyanya dengan nada kesalnya.


"Wira. Wira. Kau masih memikirkan kitab yang bahkan aku tidak mau mempelajarinya." Ia tersenyum kecut. Meskipun sebenarnya ia tidak tahu keberadaan kitab yang sedang mereka maksud.


"Baiklah. Aku sudah bosan dengan semua ini. Wardana!" Ia beralih menuju seseorang yang bertugas menjaga dan merawat tawanannya.


Orang yang dipanggil Wardana itu hanya diam. Tidak terlalu menanggapi panggilan itu. Ia tetap berdiri dengan pedang ia gunakan sebagai penopang berdirinya.


"Maaf, kau memberiku tugas untuk menjaganya memberinya makan minum. Tetapi tidak menyuruhku untuk menanyainya. Dan aku tidak perlu mengatakan apapun." Ucapnya santai.


"Hei.. sepertinya kau perlu merasakan pedangku juga."

__ADS_1


"Tidak perlu. Kalaupun aku mati pun kau tidak bisa mengancamnya untuk mendapatkan jawabannya. Aku bukan orang penting. Siapa yang tahu namaku? Bahkan aku tidak memiliki Kanuragan sama sekali."


"Kau tidak takut mati. Wardana. Tetapi apa kau tahu? Aku hanya membutuhkanmu untuk menggunakan pedang bumi. Karena kau satu satunya yang bisa menggunakannya." Senyum getirnya yang menampakan keterpaksaannya.


"Kau sadar rupanya. Kau masih membutuhkanku?"


"Dimana pedang itu?" Wira bertanya kepada Wardana. Penjaga yang ditugaskan untuk mengawasi Daniswara.


"Hahh... Kau bodoh atau bagaimana? Kalau aku tahu, aku sudah menebasmu dari dulu."


Wardana diam. Ia memilih duduk di sebuah batu. Ia menegak air yang ada di meja dari batu. Ia juga akan tinggal di hutan ini. Karena ia tidak bisa keluar dari hutan. Karena sebuah rajah yang digunakan seseorang yang memiliki Kanuragan tinggi.


"Sebenarnya siapa yang menjadi tuan disini? Mengapa kedua orang itu sama sama keras kepala." Wira meninggalkan tempat itu.


"Sampai kapan aku harus menunggu? Sudah lima belas tahun, tetapi dia tidak mau mengatakannya. Bagaimana aku bisa mengalahkan Ubhaya? Dengan dua pedang itu, aku harusnya bisa mengalahkannya. Sial!" Umpatnya lalu dengan satu tangannya, ia menebas pohon pohon yang berdiri kokoh.


***


"Apa kau mendapatkan kabar tentang anakku?"


Daniswara menatap orang yang tengah duduk tenang tanpa ekspresi sama sekali. Selama ini, ia adalah seseorang yang tidak akan merasa panik. Bahkan saat dalam keadaan berbahaya sekalipun.


"Aku hanya mendengar, ada seorang pendekar wanita yang membawanya pergi. Dan..."

__ADS_1


"Apa yang terjadi?"


"Kurasa aku sudah memiliki menantu yang cantik." Ucapnya. Ia memejamkan matanya.


"Apa hubungannya denganku? Itu urusanmu, tetapi kau beritahukan kepadaku."


"Tidak Daniswara. Kurasa ini ada hubungannya denganmu."


"Apa maksudnya?" Daniswara berusaha berpikir, tetapi otaknya benar benar kosong.


"Sudahlah... Kau tidak perlu banyak pikiran. Kurasa sebentar lagi, kau bisa keluar dan menemui menantu tampanmu bukan?"


Wardana membuka matanya. Ia memutuskan untuk keluar dari tempat tersebut. Perkataan Wardana membuat pikiran Daniswara menjadi kacau. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi.


'Menantu?' kata itu terus terngiang di otaknya.


"Menantu tampanku? Aku memiliki menantu tampan? Dan dia mengatakan, ia juga memiliki menantu cantik. Apa hubungannya ini semua? Atau..." Tiba tiba, Daniswara menyunggingkan senyum.


"Apa yang terjadi di dunia ini. Hal besar akan terjadi tidak lama lagi. Kurasa aku harus keluar dari tempat ini."


Daniswara mendapatkan semangatnya. Benar atau tidaknya ucapan Wardana itu, paling tidak ia tahu bahwa puterinya sudah menikah. Daniswara harus segera memulihkan kekuatannya.


***

__ADS_1


__ADS_2