
Tak ada yang dikhawatirkan oleh Sekar, terkecuali dirinya yang dalam keadaan malu. Ia malu kepada Nehan karena tidak bisa berbuat apapun. Ia malu karena dirinya lemah dan membutuhkan bantuan orang lain. Bahkan pada seorang tabib yang lemah itu.
"Apa?" tanya Nehan ketika seorang pendekar yang ia bopong itu menatap dirinya. "Apa kau mengakui ketampananku, hemm?"
Mendengar itu, Sekar jadi salah tingkah. Ia mengalihkan pandangannya ke samping. Ini pertama kalinya ia memiliki kedekatan dengan seorang pria. Bagaimana mungkin dirinya merasa tenang? Jantungnya saja seakan mau copot saat ia menatap wajah tampan tabib gila itu.
"Hahahaha! Kurasa wajahmu memerah seperti habis dipukulin orang." Nehan menahan tawanya melihat wajah melengos itu.
'Dasar si kunyuk! Orang memang dipukuli orang, masih bilang kayak dipukuli orang. Lama-lama bikin emosi, nih tabib,' pikir Sekar cemberut.
Nehan membawa Sekar ke rumahnya untuk menjalani pengobatan. Terutama luka-luka yang didapat oleh Sekar adalah luka yang cukup banyak. Hampir seluruh badan sampai ke bagian vitalnya. Ia malu, sangat malu saat Nehan mengobatinya.
"Biar aku saja yang mengobati lukaku sendiri! Tidak rela tubuhku dilihat oleh lelaki mesum seperti kamu!" cegah Sekar.
Nehan yang berniat menaburkan bubuk obat pada Sekar pun menyerahkan obat itu. "Nih, untuk kamu saja. Padahal aku penasaran, apakah tubuhmu indah seperti wanita yang aku impikan? Heh, lagipula cepat atau lambat, kau akan menjadi istriku. Jadi nggak perlu aku yang terburu-buru, kan?"
"Huh, mimpi apa aku semalam? Sampai-sampai harus mengalami hal seperti ini? Dasar tabib gila bodoh! Kamu pergi dari ruangan ini!" usir Sekar dengan menunjuk ke pintu keluar.
__ADS_1
"Heh, ini kamarku. Di rumahku. Kenapa aku diusir dari rumah sendiri? Kamu apakah tidak perlu bantuan calon suami kamu ini, hemm?" Nehan lalu mendekatkan kepalanya pada pendekar itu. "Apakah nantinya kau akan menerimaku untuk jadi suami terbaikmu?" tanya Nehan dengan senyum menggoda.
"Sialan kau, dasar Kunyuk!" bentak Sekar yang menghunus pedangnya ke arah Nehan. Ia tidak habis pikir bagaimana sifat asli dari Nehan. Karena kadang normal dan kadang seperti orang gila. "Jangan sampai pedang ini menembus otakmu yang mesum, hahh!"
"Okelah ... okelah ... aku pun tidak menyangka, akan menyelamatkan wanita galak sepertimu. Huh, lebih baik aku mencari wanita yang baik-baik saja."
Nehan membiarkan Sekar mengobati diri sendiri. Sementara ia pergi ke kamar di mana ia merawat seorang wanita yang mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya. Ia melihat wanita itu masih terdiam tanpa bersuara. Namun ia tahu kalau wanita itu saat ini tengah tersadar.
"Hei, Wanita. Apa kabarmu? Apa kau baik-baik saja, sekarang? Kalau iya, semoga kau bersabar menunggu. Tiga hari lagi aku akan melepas perban di matamu. Bagaimana kau bisa melihat atau tidak, kita akan melihatnya nanti," pungkas Nehan.
Nehan menggenggam tangan wanita itu. Terasa hangat dan ada gerakan yang membuat pria itu tersenyum senang. Ia menaruh tangan yang terbungkus kain putih itu ke wajahnya. Lalu Nehan mengusap tangan yang terbungkus itu dengan jemarinya.
Berbagai bahan obat-obatan telah Nehan campurkan dan ia balurkan ke tubuh wanita yang belum diketahui asal-usulnya itu. Tapi iya yakin kalau wanita itu masih muda dan akan menjadi cantik kembali, setelah menerima pengobatan sang tabib.
"Oh, ini sudah malam. Kamu tidurlah terlebih dahulu! Aku tidak bisa menemani kamu tidur. Karena aku harus meracik obat untuk seseorang gadis kecil. Nanti kalau kita bertemu dengan gadis itu, kamu pasti akan suka. Tapi sayangnya dia berasal dari perguruan Bukit Lebah Hitam. Yang semua muridnya hanya wanita. Dan tidak ada yang boleh menikah."
Nehan mengingat masa lalunya yang juga merupakan seorang anak yang terlahir dari seorang pendekar wanita dan seorang pendekar pria tanpa tenaga dalam. Seorang yang bekerja di sebuah kerajaan seberang. Ibunya dulu juga merupakan anggota dari perguruan silat Gendani Ireng.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa membuat hati Nehan terenyuh, melainkan melihat perjuangan seorang wanita yang kebebasannya untuk mencintai terkekang oleh perguruan. Seperti perguruan Bukit Lebah Hitam itu. Walau tidak tahu, apakah mereka bisa hidup dengan baik atau tidak, merasa terkekang atau tidak, tidak ada yang tahu.
Malam yang semakin gelap, Nehan memeriksa obatnya. Ia sudah mendapatkan bahan obat yang sudah kering. Karena air seluruhnya sudah habis. Dengan penerangan lampu minyak, Nehan menumbuk obat yang sudah mengeras itu. Setelah itu, ia bungkus dengan daun pisang yang kering. Ia mengikatnya dengan tali agar tetap terikat dengan baik.
Malam itu dirinya harus mengalah dan tidur di ruang obat. Sementara di kedua kamar, masing-masing ada wanita yang berada di sana. Nehan sudah selesai dengan obatnya. Hanya perlu membawanya esok pagi.
"Oh, malam yang menghitam. Langit malam, mendung tiada berbintang. Tiada rembulan menyinari malam yang sunyi ini. Datang semerbak wangi melati menusuk penciumanku. Datanglah sosok wanita berambut panjang, berpakaian putih dan senyuman yang manis–"
Nehan mengangkat kepalanya saat ia tersadar dari mimpinya. Baru beberapa saat ia terlelap tapi sudah bermimpi tentang hal seperti itu. Perlahan ia melihat ke arah jendela yang merupakan tempat biasanya muncul sosok itu. Tapi ia teringat kalau memang di rumahnya ada sosok berpakaian serba putih. Tapi sudah tidak ada rambut dan tidak tahu bagaimana senyumnya itu.
Lalu ia melangkahkan kaki menuju ke kamar wanita yang dimaksud. Ia melihat wanita itu sedang tidur. Ia bisa mengetahui kalau wanita itu tidur dari nafasnya yang berat. Dengan dada yang naik turun mengambil dan menghembuskan nafas. Sementara jika bangun, wanita itu akan diam dan nafasnya lebih lemah.
"Oh, kenapa engkau terlelap malam ini? Aku barusan bermimpi bertemu dengan seorang wanita cantik berambut panjang dan wajahnya oh, sungguh cantik bagaikan seorang dewi khayangan. Tapi tentu saja, aku sudah ingat wajah itu. Hemm, bagaimana jika aku akan merubah wajahmu dengan apa yang aku bayangkan itu?"
Nehan menyeringai senyum. Hari ini ia sudah memiliki ide, bagaimana ia menggunakan kemampuan medisnya untuk merubah wajah seseorang yang sudah rusak. Walau itu memerlukan banyak waktu, tabib seperti Nehan, tahu dengan pasti dengan semua konsekuensinya. Jika ia berhasil, wajah wanita itu akan menjadi wanita paling cantik yang ia temui. Tapi jika gagal, ia tidak mungkin merubahnya kembali.
"Hoamm ... aku ngantuk lagi, nih. Hemm, bagaimana kalau aku tidur di sini saja? Ah, tempat tidur ini memang untuk dua orang. Aku sudah sangat ... hoaamm ... mengantuk."
__ADS_1
Beberapa kali ia menguap dan tangannya selalu menutupi mulutnya. Ia lalu merebahkan badannya di sisi wanita yang dipenuhi dengan perban itu.
***