
Chapt 87
Nindiya telah memutuskan untuk pergi seorang diri. Walau ayahnya berniat ingin ikut dengannya, tetapi ia yakin, ia akan menemukan Nehan seorang diri.
"Ayah ... aku akan pergi mencari Nehan!" Dengan senyumnya, ia ingin meyakinkan ayahnya untuk menyetujuinya.
"Baiklah, kalau sudah menjadi keputusanmu. Ayah tidak bisa berbuat apapun lagi. Mengingat, kamu adalah puteriku satu-satunya, aku sangat mengkhawatirkanmu. Cepatlah pulang!" pinta Daniswara yang melihat puterinya sedang memikirkan suaminya.
"Baik, Ayah." Memandang wajah pendekar hebat yang merupakan ayahnya sendiri.
Nindiya menyunggingkan senyumnya, lalu pergi meninggalkan ayahnya. Ia merasa tidak perlu melibatkan siapapun lagi. Biarkan mereka mengurus hidup mereka. Sebagai seorang isteri, ia tentu sangat menyayangkan atas kepergian Nehan yang tidak ia inginkan. Ia tidak tahu, dimana Nehan berada. Masih hidup atau sudah matikah? yang ia yakini, Nehan tidak akan mati, sebelum mereka bahagia. Setidaknya Nindiya memiliki keyakinan penuh dengan Nehan.
Nindiya berjalan dengan santai. Ia tidak berharap bertemu Nehan segera. Yang ia inginkan adalah, ia bisa bertemu dengan suaminya. Meski itu memerlukan waktu yang lama. Meski ia harus mencari seumur hidupnya, paling tidak, sebelum tutup usianya, ia akan tetap mencari.
***
Jumantara bersama ketiga pengikutnya, kini sedang berhadapan dengan beberapa orang yang bertanggung jawab atas penculikan Puteri Padmasari. Mereka sedang bertarung dengan beberapa orang yang memiliki kesaktian tinggi.
"Kau lumayan juga anak muda!" seru seorang pendekar yang kini berhadapan dengan Jumantara.
"Tidak perlu banyak bicara! kurasa pertarungan ini harus selesai dengan cepat." Jumantara menengok teman-temannya yang sedang kewalahan.
Jumantara fokus untuk mengalahkan seorang terlebih dahulu, karena ia melihat, walaupun rekan-rekannya kerepotan, mereka terlihat tidak memerlukan bantuan. Maka ia pun mengeluarkan jurusnya. Ia membuat gerakan dengan kaki kiri diluruskan ke belakang, sementara kaki kanan ia siap-siap untuk melakukan tendangan. Sementara kedua tangannya, seolah memiliki cakar.
Walaupun kuku Jumantara tidak panjang, untuk menggunakan jurus cakaran macan putih, tetapi dengan mengkombinasikan tenaga dalamnya, ia seakan memiliki cakar di setiap jari tangannya.
"Majulah anak muda!" tantang pendekar tersebut.
"Baiklah ... tapi jangan sampai kau menyesal akhirnya ..." gumamnya, lalu dengan gerakan cepat, ia menyerang lawannya dengan tangan yang seolah memiliki cakar.
"Sial!" umpatnya, karena ia terkena cakaran Jumantara, yang membuatnya terluka.
Pendekar tersebut mundur sejenak, setelah ia mengamati tenaga dalam Jumantara yang berada di ujung jari dan kedua kakinya. Karena Jumantara sudah menyalurkan tenaga dalamnya di ujung jari dan kedua kakinya, secara otomatis, di bagian tubuh lainnya adalah kelemahannya.
"Begitu rupanya. Pemuda ini sungguh hebat. Tetapi ini sebenarnya mudah saja." Senyumnya mengembang setelah melihat kelemahan Jumantara.
__ADS_1
Maka, pendekar tersebut, mengeluarkan pisau yang langsung dilemparnya ke arah perut jumantara. Namun pisau itu dengan mudah ditangkap oleh Jumantara. Lantas, Jumantara mengembalikan pisau itu, yang membuat pemilik pisau, mundur karena ia tidak mungkin bisa menangkap pisau yang dilempar dengan kecepatan tinggi.
"Ayo selesaikan dengan cepat!" Dengan kecepatannya, Jumantara melesat dan menyerang musuhnya.
Karena tidak bisa melihat gerakan Jumantara yang tiba-tiba, pendekar tersebut harus mengalami luka di perutnya. Dengan jari yang telah terisi tenaga dalam tingkat tinggi, membuat perut pendekar tersebut tertembus.
Lima lubang di perut pendekar tersebut, segera mengeluarkan darah. Dengan begitu, pertarungan mereka pun usai. Sementara Jumantara melihat Bayu yang sedang kerepotan melawan dua orang.
"Merepotkan saja," gumam Jumantara. Ia pun melesat dan menyerang kedua pendekar yang dihadapi Bayu.
"Terima kasih." Senyum lega dari bibir Bayu, karena ia tidak perlu repot repot lagi.
"Ayo, segera selesaikan!"
"Baiklah." Bayu mengikuti Jumantara yang menyusul Indera dan Gemani yang telah masuk di markas musuh.
Keduanya pun melihat Gemani dan Indera yang sedang bersembunyi di balik semak. Mereka berdua segera menghampirinya.
"Ini markas terakhir mereka. Tetapi mungkin ini adalah markas yang paling berbahaya. Mungkin puteri Padmasari berada di sana."
Karena misi penyelamatan inilah, kini kehebatan mereka telah meningkat. Bagaimana pihak kerajaan harus memberi imbalan tinggi pada mereka, karena mereka berhasil menemukan markas terakhir yang kemungkinan ada puteri Padmasari disana.
Mereka memperhatikan sekeliling mereka. Penjaga bangunan tersebut sedang ramai, karena mereka mendengar kabar, bahwa akan ada orang yang berani membebaskan puteri Padmasari.
Sejak peristiwa penculikan Puteri Padmasari, keadaan istana sempat geger, karena pihak kerajaan mengerahkan banyak prajurit yang mencarinya. Namun tidak ada pihak penculik tersebut untuk memberitahu atau menghubungi pihak kerajaan. Sehingga motif penculikan tersebut, tidak diketahui.
Selama sebulan terakhir ini, akhirnya, Jumantara berhasil membawa ketiga pendekar yang membantunya. Mereka berhasil memberantas setiap markas, dan mereka susah payah untuk memberantas mereka. Hal ini membuat luka-luka pada tubuh mereka sudah tidak terhitung lagi. Dari luka sayatan, tusukan dan saat ini, mereka masih memiliki luka yang belum mengering.
Saat ini, Bayu hanya bisa menggunakan tangan kirinya, karena tangan kanannya telah terbungkus kain putih. Sementara lainnya, beberapa luka di punggung tangan dan beberapa bagian tubuh lainnya.
Keadaan mereka saat ini sedang lemah. Jumantara yang sudah menghabiskan tenaga dalamnya, membuatnya kini nampak kelelahan. Keadaan itu, membuat mereka merasa tidak sanggup bila menyerang langsung.
Dalam kondisi prima sekalipun, mereka belum tentu mampu menghadapi mereka. Karena mereka bisa melihat, ilmu silat penjaga tersebut lebih tinggi daripada tempat lainnya.
"Sebaiknya, kita tunggu besok pagi. Kita istirahat dulu di hutan. Tapi jangan sampai kita ketahuan. Jika kita melihat salah satu atau beberapa dari mereka, segera habisi! kita sebisa mungkin, mengurangi jumlah mereka sedikit demi sedikit. Karena kita tidak mungkin bisa mengalahkan mereka sekaligus." Jumantara mengajak mereka untuk meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1
Akhirnya mereka menyetujui usul Jumantara, karena memang mereka membutuhkan setidaknya banyak tenaga, dan upaya mereka akan sia-sia jika mereka langsung menyerang. Ini adalah langkah yang tepat, agar mereka tidak mengalami luka parah atau bahkan kematian.
Mereka membuat gubug dari ranting pohon dan dedaunan. Tidak besar, tetapi cukup untuk mereka berteduh dari hujan yamg mungkin akan turun sebentar lagi. Mereka sudah berada jauh dari markas penculik puteri Padmasari.
Namun rencana mereka, ternyata telah tercium. Beberapa pendekar aliran hitam dari berbagai perguruan, telah mengintai mereka. Namun mereka berpakaian serba hitam dan menutup wajah mereka.
Segera mereka mengepung Jumantara dan yang lainnya. Karena kepungan itu, nafas mereka memburu. Tidak bisa mereka lari dari kepungan mereka. Dari setiap arah, telah ada para pendekar yang siap menyerang.
"Sial! kita kalah jumlah!" umpat Jumantara, karena melihat jumlah mereka yang sampai ratusan orang.
Mereka bersenjata. Tentu saja, membuat Jumantara dan yang lainnya, harus merasa terancam. Terlebih lagi, keadaan mereka yang tengah mengalami luka, pasca pertarungan sebelumnya.
"Ini tidak akan sulit untuk membunuh kalian semua. Melihat, kalian sudah tidak bisa berbuat banyak."
"Ayo habisi mereka!" teriak lantang seorang pemimpin yang di tangannya memegang sebuah tombak trisula.
"Bagaimana ini?" Gemani yang seorang gadis sendiri, merasa risih. Karena ia harus melawan pendekar pria yang kemungkinan bisa membuatnya muak.
"Tapi sisakan gadis itu. Buat dia tidak berkutik. Tapi jangan bunuh. Hahaha!"
Gemani yang mendengar itu, sudah menduga, hal ini mungkin akan terjadi. Tidak heran juga, karena para pendekar tersebut memiliki nafsu tinggi kepada wanita.
"Sepertinya ini akhir hidup kita?" gumam Bayu. Kini ia sudah lemas, karena ia tidak bisa berbuat apapun. Ia tidak bisa mengumpulkan tenaga dalamnya untuk membuat angin kencang dengan satu tangan saja.
Kini harapan satu-satunnya, mereka hanya berharap ada bantuan dari pihak mereka. Karena mereka berada di ujung tanduk.
Mereka bergerak cepat dan bersiap mengarahkan senjata mereka untuk membunuh para pendekar muda tersebut. Namun sebuah asap hitam muncul diantara mereka. Seketika asap hitam itu menyerang para pendekar golongan hitam tersebut.
"Apa yang terjadi?" Seorang pendekar paruh baya yang melihat asap itu dari jauh, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Seorang wanita dengan berpakaian serba hitam dan rambut panjang yang terurai, muncul setelah para pendekar golongan hitam tersebut berjatuhan.
"Kita mendapat bantuan?!" Indera yang berada di depan wanita tersebut hanya bisa menahan keterkejutannya, karena selain berpakaian serba hitam, ia juga melihat matanya berwarna merah menyala.
***
__ADS_1