Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 24 Bola Iblis


__ADS_3

Chapt 24


Bola tersebut berubah menjadi lempengan besi panjang. Lempengan lempengan tersebut berpencar dan mengakibatkan pemuda tersebut mengalami luka di sekujur dada sampai kakinya. Goresan goresan tersebut membuat darah mengalir.


"Sial! Senjata ini..." Umpat pemuda tersebut.


"Ternyata senjata wanita itu, cukup menarik." Gumam pendekar paruh baya tersebut.


"Apa maksudmu?" Tanyanya sambil menahan sakit di tubuhnya.


"Kau tidak perlu tahu. Apakah kau masih mau melanjutkan pertandingan?" Sejenak menatap pendekar yang bercucuran darah.


"Majulah. Luka luka ini tidak ada apa apanya. Tapi aku akui, senjatamu ini mengejutkanku."


Walaupun darah masih terus mengalir, ia masih mau melanjutkan pertandingan. Karena ia yakin pendekar yang dihadapinya kini sudah tidak memiliki senjata lagi.


"Baiklah. Kalau begitu, aku menyerah."


"Hahaha... Mari bertarung la... Eh tunggu!" Ia hampir menyerang, namun setelah mencerna ucapan lawannya, ia pun menghentikan serangannya namun masih waspada.


"Kurasa ini cukup. Aku hanya ingin mencoba senjata itu. Aku tidak tertarik dengan hadiahnya. Kurasa hadiah itu pantas untukmu. Setidaknya bisa untuk berobat."


"Kita belum selesai bertarung!" Teriaknya dengan semangat masih membara.

__ADS_1


Tatapan pemuda itu menjadi lebih agresif. Ia masih belum percaya kemampuan lawannya hanya segitu. Tetapi ia tidak boleh lengah. Karena bisa saja ini jebakan. Karena belum ada yang mati ataupun keluar arena. Sementara wasit hanya diam saja. Ia tidak tahu. Masihkah pertandingan dilaksanakan? Saat sang wasit naik ke arena, semua mata tertuju padanya.


"Tapi aku tidak punya senjata lagi. Aku tidak mungkin bisa melawanmu." Pendekar tersebut melompat keluar arena.


Lagi lagi penonton terkejut, karena mereka tidak menyangka. Saat sudah diatas angin, tiba tiba tidak meneruskan pertarungannya. Sebenarnya hadiah yang dijanjikan itu cukup untuk biaya hidupnya beberapa bulan kedepan.


Sementara pemuda tersebut menatap heran. Sebagai seorang pendekar, tentunya tidak akan mungkin cepat menyerah seperti itu. Apakah ia hanya dipermainkan?


"Kurasa dia tidak niat ikut pertandingan. Dia belum lelah sama sekali. Sedangkan aku? Hahh.. sepertinya pengalamanku masih kurang."


"Tuan. Bagaimana senjata itu tuan?" Para pengawas pertarungan mulai berdiskusi.


"Tentu saja. Itu senjata dari perguruan aliran sesat. Dilihat dari senjatanya, sepertinya itu senjata dari perguruan 'Gendani Ireng'. Tetapi perguruan itu, semua muridnya wanita." Jelas pengawas lainnya.


"Yah mungkin saja. Senjata itu sangat merepotkan. Itu hanya satu. Tapi mereka memiliki banyak. Dan ciri menarik mereka, selalu memakai lempengan baja."


Tak jauh dari arena pertandingan, pendekar paruh baya tersebut tengah duduk dengan seorang pendekar lainnya. Mereka tengah duduk di warung yang berada jauh dari pasar.


"Tuan, kurasa senjata dari wanita tersebut sungguh menarik."


"Hmmm... Apa yang membuatmu tertarik Kurasenta? Itu hanya senjata lempar yang hanya bisa digunakan sekali." Ia menenggak araknya dari kendi.


"Jelas menarik. Itu bisa kita gunakan untuk pertahanan diri. Mungkin bisa kita membuatnya dalam sekala besar." Ia mulai menerawang dan membayangkannya.

__ADS_1


"Ini bukan dari ciri khas perguruan kita. Ini dari perguruan wanita 'Gendani Ireng'. Tidak mungkin bagi kita menggunakan senjata orang lain."


"Tapi kita bisa gunakan untuk berjaga jaga. Kalau terdesak, kita bisa menggunakannya. Lagian kan, kita sama sama pendekar aliran hitam. Apa salahnya meniru. Dan kita tidak perlu seperti aliran putih yang memiliki senjata khusus."


"Kau benar, Kurasenta. Tetapi alangkah baiknya, kita diskusikan dengan guru besar." Ia mengambil bola hitam yang sama seperti yang digunakannya saat bertarung.


"Tunggu apalagi? Kita bergegas menuju perguruan. Kita masih memiliki tiga bola iblis ini."


"Yah... Tetapi kita harus sembuh dahulu. Kita masih memiliki luka saat melawan wanita sialan itu."


"Yah wanita itu, aku tidak mau berurusan lagi"


"Kurasa kita harus membunuh wanita itu. Akan sangat berbahaya apabila ia mendapatkan apa yang seharusnya kita dapatkan." Ia tersenyum sinis saat mengatakannya.


"Tetapi ia bersama dengan pemuda yang memegang pedang pusaka."


"Kau yakin pedang itu adalah pedang pusaka? Tetapi mungkin saja. Bahkan pemuda itu sepertinya tidak memiliki tenaga dalam sama sekali. Jadi mengapa ia yang membawa pedang itu? Bukan wanita sialan itu."


"Yah... Mungkin ada sebabnya. Atau ia tidak mau repot repot membawa pedang yang besar itu."


"Yah bisa saja. Tetapi kita belum tahu dimana perguruan pedang dewa. Kurasa wanita itu sudah disana sekarang."


"Permisi tuan tuan..." Seorang datang entah dari mana.

__ADS_1


***


__ADS_2