
Chapt 55
Raditya yang berada di perguruan Pedang Dewa, merasa tidak nyaman. Jika bisa memilih, lebih baik ia berada di Medan pertempuran untuk sat ini. Tetapi karena kondisinya ini, terpaksa ia harus rela dirinya harus mengalami semua ini.
"Tantri. Aku harus istirahat. Apa kau tidak ada tugas dari guru?" Ia hanya ingin terlepas dari perempuan itu. Tidak ada yang lainnya.
"Tidak ada. Aku yang meminta pada guru agar diberikan tugas merawatmu. Dan guru menyetujuinya." Jawabnya. Ia tentu senang merawat Raditya.
Berbeda dengan Tantri yang ingin selalu berada di samping Raditya, Raditya sendiri merasa tidak nyaman. Malah terkesan jijik dengan perhatian yang diberikan Tantri terhadapnya.
Tantri seorang perempuan yang cantik. Tentu saja semua orang akan suka dengan penampilannya. Tidak dapat dipungkiri, ia juga seorang pendekar hebat yang bahkan dapat mengalahkan murid lelaki. Tidak banyak. Tetapi sebagian murid perguruan, ia bisa mengalahkannya sekaligus.
"Tantri. Aku ingin tidur. Aku butuh istirahat." Ucapnya.
Ia sebenarnya ingin perempuan itu pergi. Mungkin ia akan merasa tenang. Dua sahabatnya itu pun tidak bisa menemaninya karena mereka mendadak diberi tugas perguruan.
"Baiklah. Kamu tidur saja. Aku akan menunggumu di sini. Kau bisa tenang sekarang?" Ia tersenyum manis.
Senyum manisnya seakan membuat luka Raditya kembali sakit. Ia menahan rasa sakit di perutnya. Setidaknya ia harus menunggu satu bulan untuk sembuh. Dan waktu satu bulan berada dalam rawatan Tantri, membuat hidupnya bagaikan setengah mati.
Raditya sebenarnya ingin menyuruh Tantri untuk meninggalkannya. Akan tetapi, ia tidak bisa seperti itu. Setidaknya, ia tidak bisa menyakiti perasaan wanita. Ia tidak akan melakukan itu. Tetapi ia sedang sekarat sekarang.
"Tidur yang nyenyak, Raditya. Aku akan menjagamu disini. Bahkan seumur hidupku. Aku akan melakukannya." Gumamnya sambil tersenyum manis.
Ia akan senang jika yang mengucapkan itu adalah gadis yang dicintainya. Sayangnya Tantri bukan gadis yang dicintainya. Ada gadis lain yang menghantui pikirannya saat ini.
__ADS_1
Ia teringat wajah itu. Sangat dekat. Mengingat jantung itu. Wajah manis seorang gadis yang dianggapnya gila. Yah dia gadis gila. Dan Raditya sudah tergila gila padanya. Apakah itu benar?
"Kuharap kita dapat berjumpa lagi." Gumamnya yang didengar oleh Tantri.
"Heh? Kamu ngomong apa?" Tanyanya. Karena ia hanya samar samar mendengar. Ia hanya fokus dalam pikirannya sendiri.
"Tidak. Mungkin kamu lelah, sudah seharian kau merawatku." Elak Raditya.
"Tidak. Aku tidak sakit. Kamu yang sedang sakit."
'Yah. Aku sakit. Sakitnya di dalam hati.' pikir Raditya.
Tantri tidak mau beranjak. Ia bahkan belum makan dari tadi. Ia lebih mementingkan kesehatan Raditya. Karena bagi Tantri, Raditya adalah segalanya. Raditya adalah candunya. Raditya adalah ambisinya.
Raditya muda yang baru berumur lima belas tahun, sedangkan Tantri hanya terpaut satu tahun lebih muda. Raditya sering membantu dan menolong Tantri saat dalam kesulitan. Hingga umur mereka beranjak remaja, yang diusia mereka wajar mengenal cinta.
Seiring berjalannya waktu, perasaan itu mulai tumbuh di hati Tantri. Namun tidak untuk Raditya. Bagi Raditya, Tantri adalah adik kecilnya yang harus ia jaga.
Hingga saat usia mereka sudah menginjak dua puluh tahun. Saat itu, Raditya berumur dua puluh satu tahun. Dan Tantri berumur dua puluh tahun.
Tantri memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya itu. Namun jawaban Raditya yang menolaknya, membuat Tantri menangis sepanjang hari.
Kini Raditya sudah berusia dua puluh empat tahun. Tantri berusia satu tahun lebih muda. Sudah sewajarnya jika Tantri sudah menikah diusianya. Namun tidak untuknya. Sudah puluhan lelaki yang ditolaknya.
"Kalau saya tidak bisa mendapatkan Raditya, maka tidak seorangpun yang memilikinya. Jika adapun, aku akan membunuh perempuan itu. Kalau tidak, aku akan membunuh Raditya."
__ADS_1
Sebuah sumpah yang ia katakan karena cintanya ditolak oleh Raditya. Cintanya kini berubah menjadi ambisi, ambisinya itu terlalu posesif. Tidak ada orang yang menyangka, kekuatan cinta akan seperti itu.
"Benarkah ini cinta? Apakah cinta harus memiliki? Atau harus merelakan orang yang dicintai dengan orang lain? Tidak! Cinta itu ambisi. Ambisi itu posesif." Sebuah pernyataannya yang ia tanamkan pada diri sendiri.
***
Raditya memejamkan matanya. Ia hanya ingin berpura pura tidur. Ia tidak akan bisa tidur jika ada Tantri di sampingnya. Lagian ia sudah tidur terlalu lama setelah terkena tusukan.
Namun Raditya mendengarkan semua yang Tantri ucapkan. Setelah Raditya berpura pura tidur, muncullah sifat asli dari Tantri.
"Raditya. Apakah kau tidak akan memandangku? Aku ada disini. Disisimu. Bahkan kau tidak memberiku kesempatan." Tantri berhenti sejenak.
Gadis itu berdiri dari duduknya. Ia memandang ke segala arah ruangan untuk bernafas. Ia mengeluarkan hawa dingin yang dipendamnya.
Jika ada seseorang dalam radius dua puluh meter, mereka akan menggigil kedinginan. Karena aura dingin yang dimiliki Tantri sangat kuat. Bahkan Raditya merasakannya.
Aura dingin yang dimiliki oleh Tantri, adalah perasaanya sendiri. Jika perasaannya dingin, ia akan mengeluarkan aura dingin di sekitarnya.
"Raditya. Aku akan membunuh semua perempuan yang dekat denganmu. Jika tidak, aku akan membunuhmu. Lalu aku akan memasukanmu ke dalam peti es ciptaanku. Aku akan tidur di sisimu dan aku akan memeluk mayatmu setiap hari." Ia tersenyum dalam kesedihan.
"Kau tahu kekuatan cinta bukan? Yah... Kurasa inilah kekuatan cinta sejati. Karena cinta itu buta."
Raditya yang tahu isi hati gadis itu, membuatnya merasa bersalah. Tetapi ia tidak memungkirinya. Ia tidak mencintai gadis itu. Tetapi ia merasa sedang memikirkan gadis lain.
***
__ADS_1