Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 58 Pemimpin Baru


__ADS_3

Chapt 58


Bayu dan Indera yang melihat kedua orang yang pergi bersama belasan harimau. Mereka yang sudah selesai mengisyaratkan tubuhnya, masih terdiam di tempat tersebut.


"Apakah kita akan menemui orang itu, atau kita pergi saja dari sini?" Tanya indera pada Bayu.


"Kenapa kau tanya padaku?" Balasnya.


"Jadi harus tanya pada siapa? Aku tidak bisa memutuskan." Aku Bayu.


"Lagi lagi, kita harus memutuskan sendiri. Memang kita berdua tidak ada yang cocok menjadi pemimpin." Indera tampak berpikir.


Ketidak adaan Raditya yang biasa memimpin mereka dalam setiap misi. Namun mereka tidak bisa bergantung padanya lagi. Setidaknya untuk misi mereka saat ini.


"Bagaimana kalau kita meminta bantuan pada pemuda barusan?" Usul indera tiba tiba.


"Apa kau yakin? Ini kesalahan kita. Apa dia mau membantu kita? Bukankah dia tidak ada urusannya dengan masalah ini?"


"Jadi? Bagaimana? Kau saja yang memutuskan."


"Tidak. Kau saja."


"Bagaimana kalau aku yang memimpin kalian?" Tiba tiba Jumantara berada di atas pohon. Ia melompat mendarat di hadapan mereka.


"Kau. Kau." Bayu tergagap.


"Hah?" Indera kaget.


"Kenapa kalian begitu terkejut? Bukankah kalian mau mencari Puteri Padmasari? Aku juga ditugaskan oleh guruku. Pihak kerajaan telah membayar kepada perguruanku." Jumantara menghembus nafas sebentar.


"Lagian saya tidak tahu bagaimana rupa sang Puteri." Ucapnya jujur.


"Be... benarkah?" Tanya Bayu gugup


"Yah... Jadi, bisakah kita bekerja sama?" Tanyanya meyakinkan.


Bayu dan indera saling pandang. Mereka mengangguk satu sama lain. Akhirnya mereka mempunyai pemimpin juga. Walaupun mereka tidak tahu seperti apa pemimpinnya itu.

__ADS_1


"Baiklah. Kami setuju." Putus Bayu.


"Baiklah. Sebagai tanda kerja sama kita, bagaimana kalau ku traktir kalian makan."


"Baiklah." Mereka langsung setuju.


Indera dan Bayu sudah lama berada di tempat itu. Mereka kehabisan tenaga serta ketakutan. Membuat mereka lapar kembali. Sebenarnya Jumantara sedang makan, tetapi ia mendapat kabar dari salah satu harimau putih yang tahu bahasa manusia. Bahwa Bayu dan indera sedang mencari Puteri Padmasari.


Sejak beredar menghilangnya Puteri Padmasari, membuat para pendekar aliran putih dan netral, berlomba lomba mencari sang Puteri. Akan tetapi mereka tidak tahu wajah sang Puteri.


Harimau putih, tidak bisa berbicara bahasa manusia, tetapi mereka tahu bahasa manusia. Mereka bisa mendengar percakapan biasa dari jarak tiga kilometer. Bahkan ada yang bisa mendengar orang berbisik dengan jarak sepuluh kilometer.


"Bagaimana kau tahu, kalau kami sedang mencari Puteri Padmasari?" Tanya indera disela makanannya.


"Kau pernah mendengar kemampuan harimau putih di hutan ini?" Tanya Jumantara.


"Hmm... Menurut rumor, mereka bisa mendengarkan orang berbicara atau mendengar bunyi yang jaraknya sangat jauh." Bayu mengingat ingat.


"Yah kau benar. Dan harimau putih yang memberitahuku."


"Benarkah? Kau bahkan tahu bahasa harimau?" Bayu bahkan hampir tidak percaya.


"Itu sih sudah biasa. Aku sudah cerdas dari lahir." Ia membanggakan diri. Menepuk dadanya.


'Hebat. Tapi sayangnya sombong.' dalam hati Bayu.


'Cerdas dari lahir? Emang dia pernah lahir?' dalam hati indera.


Bayu dan Indera mulai tidak percaya pada perkataan Jumantara yang bersikap sombong. Tetapi mereka tidak berani membantah terang terangan.


Tidak mungkin mereka melawan Jumantara bukan? Apalagi Jumantara memiliki harimau harimau yang sangat mereka takuti. Mereka memang memerlukan pemimpin. Siapapun itu. Karena mereka berdua, tidak bisa memutuskan sesuatu perkara. Mereka dari dulu hanya menurut.


Sampai sekarang pun, mereka lebih baik mengikuti seseorang, daripada harus memimpin satu atau beberapa orang. Jiwa pemimpin mereka memang tidak ada.


"Baiklah, kita mulai dari mana?" Tanya Jumantara kepada keduanya.


"Bukankah kau yang memimpin. Harusnya kamu yang memutuskan." Kata Bayu.

__ADS_1


"Iya benar." Imbuh indera.


"Kalau begitu, kita berangkat besok pagi. Sekarang kalian siapkan tenaga kalian. Juga siapkan barang barang yang akan kalian bawa!" Perintahnya.


"Bukan sekarang?" Sela Bayu.


"Tidak. Sekarang istirahat."


"Kenapa harus besok? Sekarang kan bisa?" Kini Indera yang menyela.


"Tidak bisa. Kalau kalian mau berangkat sendiri, silahkan. Tentukan pemimpin kalian. Atau, kalian cari saja pemimpin lain." Jumantara melihat kearah Gemani yang membawakan teh pada mereka.


"Sebaiknya kalian menurut saja. Karena kalian tidak tahu, kalau daerah hutan ini, banyak harimau. Mereka bisa makan apa saja yang menurut mereka enak." Ucap Gemani.


Perkataan Gemani, membuat mereka berdua bergidik. Tentu saja perkataan Gemani ada benarnya. Dan tentu saja, mereka tidak tahu jalan keluar dari hutan tersebut. Jadi mau tidak mau, mereka harus menunggu esok pagi.


"Baiklah, kalau begitu, kami akan menurut."


Keduanya saling pandang sejenak. Ada rasa takut di mata mereka. Mereka tidak ingin mati sia karena alasan konyol. Karena mereka tidak patuh pada pemimpin mereka yang baru. Tentu saja mereka lebih suka Raditya yang memimpin jalan mereka. Yang menentukan dan menjadi penengah mereka jika ada perdebatan.


Selama ini, mereka selalu mengikuti Raditya jika bepergian. Mereka seperti tiga serangkai atau group trio, yang selalu berjalan bertiga.


Bukankah pasangan ketiganya sangat cocok? Antara Raditya, Indera, dan Bayu. Tetapi kini mereka harus dipimpin seseorang yang bahkan belum tahu seluk beluknya. Akan jadi apa nantinya?


Biarkan waktu yang menjawab itu semua. Lagian, mereka harus bertanggung jawab atas menghilangnya Puteri Padmasari. Mereka tidak ingin dihantui rasa bersalah. Walau mereka tidak tahu siapa yang menculik sang Puteri tersebut.


"Kalian boleh istirahat di kamar belakang. Maaf, kamarnya belum dirapikan. Kalian bisa merapikannya sendiri bukan?" Kata Jumantara.


"Huhh... Baiklah. Ayo Bayu." Indera mengajak Bayu menuju kamar mereka.


Kamar yang sangat berantakan. Debu dan kotoran dimana mana. Jelas ini bukan seperti kamar. Bahkan lebih buruk daripada kandang kambing.


"Sialan itu. Mengapa dia membiarkan kita tidur bersama tikus?" Umpat indera.


"Huhh... Sabar." Bayu mengelus dadanya.


Dengan terpaksa, mereka pun membersihkan kamar yang sangat kotor tersebut. Kamar yang mungkin tidak ditempati puluhan atau ratusan tahun.

__ADS_1


***


__ADS_2