
Chapt 54
Dengan kondisi tubuh yang terluka, membuat Raditya tidak bisa berjalan. Ia masih berada di kereta kuda. Bayu dan indera membawa kereta kuda bersama Raditya ke sebuah tebing.
Sebuah tebing besar yang hanya dilihat orang lain sebagai tebing biasa. Tetapi bagi warga perguruan Pedang Dewa, akan terlihat seperti sebuah gerbang besar. Warga perguruan Pedang Dewa memang sudah diberi sebuah rajah khusus agar bisa melihat gerbang tersebut.
Mereka harus melakukan sebuah ritual khusus, jika harus masuk ke dalam perguruan. Bayu yang berada di depan, melakukan ritual khusus untuk membuka gerbang.
"Kalian tunggu sebentar." Bayu melangkah mendekati gerbang tersebut.
"Baiklah, jangan lama lama." Ucap indera.
Bayu mengambil nafas dalam dalam. Ia menggunakan tenaga dalamnya untuk membuat sebuah rajah. Rajah transparan yang ia gambar di udara menggunakan darah dari jarinya.
Gambar itu adalah simbol dari perguruan Pedang Dewa. Yaitu gambar mata besar dan terdapat dua pedang disilangkan di dalam mata tersebut.
"Hmmm... Akhirnya selesai juga." Ucapnya bangga.
Bayu mengarahkan rajah yang dibuatnya ke arah gerbang tersebut. Lalu sebuah lorong berbentuk lingkaran tercipta. Lorong berbentuk lingkaran dengan diameter dua meter. Namun mereka harus meninggalkan kereta kuda tersebut. Karena tidak mungkin kereta kuda bisa masuk karena gerbangnya berbentuk lingkaran. Andaikan lubang tersebut berbentuk persegi, maka bisa dipastikan kereta kuda bisa masuk kedalamnya.
"Ayo masuk!" Ajak Bayu.
"Tunggu. Kita tidak bisa membawa masuk kereta kuda. Tidak akan muat." Ungkap indera.
"Jadi bagaimana kita bisa bawa Raditya?"
"Kita tandu dia."
"Bagaimana caranya?"
Tanpa menjawab pertanyaan Bayu, indera membopong tubuh Raditya badan diletakan di tanah. Lalu ia merusak kereta kuda tersebut. Ia mengambil papan kayu yang muat untuk Raditya berbaring.
__ADS_1
"Ini cukup. Ayo angkat Raditya dengan ini." Ajak indera.
"Oohh..." Bayu terpana. Ia tidak menyangka rekannya itu berbuat demikian.
"Baiklah. Mari kita bawa Raditya."
Mereka membawa Raditya dengan cara ditandu. Sementara dua kuda yang menarik kereta kuda tersebut, mereka sengaja lepaskan. Yah ini hutan yang tidak terjamah manusia. Kuda kuda tersebut bebas makan di hutan ini.
Mereka disambut dengan sebuah pemandangan yang menakjubkan, begitu mereka sudah tiba di dalam perguruan. Sebuah bangunan besar terbuat dari kayu jati. Mereka juga disambut beberapa murid perguruan.
"Akhirnya kalian kembali. Kami lama menunggu kalian." Seorang pemuda yang masih berumur tiga belas tahun.
"Ada apa dengan Raditya?"
Seorang perempuan yang berumur sama dengan mereka bertiga. Ia khawatir karena melihat Raditya ditandu.
"Ohh... Tantri yang cantik. Dia tidak apa apa. Kita akan bawa dia ke kamarnya. Kamu tidak usah khawatir." Kata indera.
Ada rasa di hati gadis tersebut. Rasa khawatir tentang Raditya. Ia tidak tahu mengapa Raditya bisa mendapatkan luka yang menurutnya adalah luka yang serius.
Tantri adalah seorang perempuan yang dari dulu menyukai Raditya. Bayu dan indera pun tahu hal itu. Hanya saja sifatnya yang mudah meledak ledak, membuat bayu dan indera kurang suka. Mereka juga tidak berharap Raditya bisa bersama perempuan tersebut.
Apakah Raditya menyukai Tantri? Tentu saja tidak. Itu sebabnya ia diam saja ketika ia melihat perempuan itu. Ia tidak berharap perhatiannya. Dia lebih memilih menghindar darinya daripada harus meladeni perempuan itu.
Perguruan Pedang Dewa, adalah sebuah perguruan yang sudah sangat lama berdiri. Tidak ada pemilik resmi perguruan tersebut. Mereka yang berada di perguruan adalah pemiliknya. Maka mereka juga bertanggung jawab atas perguruan.
Untuk sistem pengajaran, mereka hanya mengangkat seratus murid. Mereka hanya memiliki sepuluh guru yang membimbing setiap sepuluh murid setiap satu guru.
Untuk setiap guru, tingkatan mereka adalah sama. Tetapi ada satu pemimpin perguruan yang menjadi kekuatan besar perguruan. Mereka akan menghormatinya. Seorang pendekar sepuh yang sudah berumur seratus dua puluh tahun. Meskipun sepuh, ia masih sangat hebat dan dihormati.
Setiap guru, memiliki kemampuan yang berbeda beda. Begitu pun murid muridnya. Untuk para murid, khusus mereka, akan ada tingkatan sendiri. Mereka kadang diberi tugas dengan kemampuan mereka.
__ADS_1
Murid perguruan memiliki tingkat masing masing seperti.
Murid luar. Murid yang baru bergabung, mereka bukan termasuk seratus murid yang ada ada di dalam perguruan. Mereka akan berada di tempat khusus. Jumlahnya bisa lebih dari seribu orang.
Murid dalam. Mereka yang berada di dalam perguruan. Mereka terdiri dari beberapa tingkat seperti.
a. Tingkat perunggu. Mereka yang setidaknya menguasai jurus jurus tangan kosong.
b. Tingkat perak. Mereka yang menguasai berbagai senjata. Setidaknya mereka harus menguasai jurus tangan kosong dan menguasai setidaknya lima jenis senjata dengan baik.
c. Tingkat emas. Mereka yang memiliki kemampuan menguasai lebih dari tujuh jenis senjata perguruan serta bisa menggunakan senjata apapun dari pertempuran. Senjata lawan atau senjata yang diambilnya dari alam. Seperti batu, kayu, ranting, daun. Dan lainnya.
d. Tingkat permata. Mereka yang dapat mengendalikan elemen. Seperti tanah, air, udara, api, kayu, batu atau petir.
e. Tingkat Legenda. Mereka yang mampu menggunakan ajian khusus seperti ajian gelap ngampar, sepi angin, waringin sungsang, pancasona, rogosukmo, gugur gunung, macan putih, lembu sekilan, dan masih banyak ajian lainnnya.
Untuk menjadi seorang guru di perguruan Pedang Dewa, setidaknya mereka memiliki semua tingkat tersebut. Mereka juga harus bisa menahan diri dari sifat manusiawi. Mereka harus bersemedi, berpuasa selama empat puluh hari empat puluh malam tanpa makan. (Tidak ada sahur dan bukanya yah pemirsah. Mereka benar benar hidup tanpa makan dan minum selama itu.)
***
__ADS_1