Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 89 Lupakan Sejenak Masalah


__ADS_3

Chapt 89


Menatap wajah Nindiya yang ada di pangkuannya, Narendra merasakan sakit di kepalanya. Ia memegangi pelipisnya dan meringis di balik topengnya. Saat itu, kepala Nindiya berada di paha Narendra. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di hati Narendra.


Narendra menepuk-nepuk wajah perempuan itu dengan telapak tangannya. Ia memejamkan mata sejenak, untuk menikmati perasaan aneh tersebut.


"Sepertinya aku mengenalnya lebih dalam?" Dalam heningnya, Narendra merasakan kedekatan dengan Nindiya. Tapi entah apa yang membuatnya merasa dekat.


"Orang itu kenapa?" tanya Indera menatap rekannya satu persatu.


"Entahlah ..." jawab Bayu sekenanya. Ia hanya mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi tidak tahunya.


"Mungkinkah ia pemuda gila, yang ingin berbuat sesuatu pada Nindiya?" tebak Jumantara dengan menaikan satu alisnya.


Namun anggapan Jumantara salah besar. Ketika itu, Narendra tidak berbuat lebih jauh. Pemuda bertopeng tersebut, membiarkan Nindiya terbaring di tanah. Ia duduk menatap ke atas langit.


"Tahukah kamu? saat kamu terbaring lemah di tanah, kamu saat ini sedang lemah. Bagaimanapun seorang pendekar hebat sepertimu hanyalah seorang wanita. Pada dasarnya sifat wanita itu lemah lembut. Iya ... kamu sangat lemah, wahai cantikku." Narendra mengedarkan pandangan, melihat beberapa pemuda dan seorang gadis di belakangnya.


"Kenapa orang itu?" Rasa penasaran muncul dalam hati Jumantara. Ia tidak tahu selanjutnya apa yang akan dilakukan pemuda bertopeng di depannya.


"Apa kalian akan diam, dan tidak mau menolong gadis muda ini, hmm?" ucap Narendra membuyarkan lamunan mereka.


"Eh ... apa yang harus kami lakukan?" tanya Bayu hati-hati.


"Bisakah kalian ambilkan air untuk gadis cantik ini?"


"Ooh baiklah," jawab Bayu.


Bayu menarik tangan Indera untuk mencari air yang diminta Narendra. Mereka pun bergegas pergi untuk mengambil air yang letaknya berada di sungai. Tidak terlalu jauh dari lokasi mereka berada.


Narendra duduk santai. Sementara Jumantara dan Gemani tidak berani mendekat. Karena kekuatan mereka banyak terkuras dari pertarungan tadi. Mereka merasa, Narendra bukanlah ancaman besar, tetapi mereka harus tetap waspada.


"Apa kalian teman dari Nindiya?" tanya Narendra kemudian.


"Iya," jawab Jumantara singkat.


Jumantara dan Gemani duduk di tanah tanpa alas. Karena tanah disekitar berumput, tidak akan membuat pakaian mereka kotor, walaupun badan mereka telah kotor karena debu dan tanah yang menempel saat pertarungan. Serta keringat mereka yang kini sudah berhenti bercucuran.

__ADS_1


"Baiklah ... kuharap aku percaya dengan kalian. Tolong jaga dia! saya harus pergi." Narendra berdiri. Pemuda bertopeng itu melihat sejenak Nindiya sebelum ia benar-benar pergi.


Narendra menjauhi tempat tersebut. Busur panah yang dikalungkan di pundaknya, serta membawa anak panah di punggungnya.


"Oh iya ... sebaiknya kalian jangan bertindak gegabah! sebelum masuk ke markas Tengkorak Abadi, kalian harus memiliki kekuatan cukup, dan persiapan yang matang. Saya mohon bantuannya, untuk menjaga Nindiya-ku!"


Ucapan Narendra membuat Jumantara dan Gemani bertanya-tanya dalam hati. Merela sampai harus berpikir untuk mencerna ucapan Narendra.


"Sebenarnya apa hubungan diantara mereka?" Gemani memandang Jumantara. Namun Jumantara tentu tidak tahu menahu.


"Sudahlah. Tidak perlu dipikirkan. Mungkin saja mereka teman dekat. Lagian juga, dia sudah menolong kita bukan?"


"Iya sih." Gemani termenung. Ia melihat ekspresi senyum Jumantara. Ia pun tersenyum juga.


Gemani berjalan kearah Nindiya. Rasa penasarannya membuatnya harus tahu apa yang telah terjadi. Ia ingin tahu lebih banyak tentang perempuan yang telah terbaring lemah di atas tanah.


Gadis tersebut duduk di tanah dan mengamati wajah Nindiya dengan seksama. Ia menyentuh wajah itu dengan jemarinya.


"Cantik," gumamnya.


"Eh ... tidak apa. Aku penasaran, bagaimana keadaannya sekarang? apa dia sudah menemukan suaminya atau belum? atau apa yang terjadi," lirihnya terdengar rasa simpati dalam dirinya.


"Iya, kasihan juga dia." Pemuda itu mengamati Gemani yang sedang memperhatikan Nindiya.


Tak lama setelah itu, Bayu dan Indera sudah berada di belakang mereka. Mereka membawa air yang dibawa dengan daun jati. Mereka berdua berjalan mendekati Nindiya dan kedua orang yang sedang menunggunya.


"Bagaimana keadaannya?" Bayu membawa air ke Nindiya. Ia tidak mengerti, mengapa dengan kedua orang yang sedang duduk menatap Nindiya.


"Oh iya ... dimana pemanah itu?" Indera memeriksa sekeliling. Ia tidak melihat Narendra lagi.


"Dia sudah pergi," jawab Jumantara.


"Ooh."


"Gemani ... tolong bantu saya untuk meminumkan air ini padanya. Kalau bisa, bangunkan dia!" pinta Bayu.


"Baik."

__ADS_1


Keadaan mereka sudah lebih baik. Mereka kini sudah tidak terlalu lelah, dan kekuatan mereka telah berangsur membaik. Walau dalam kondisi kurang prima, tetapi mereka tetap bersyukur. Mereka berhasil lolos dari maut, berkat bantuan Nindiya dan juga Narendra.


Gemani mencoba membangunkan Nindiya dengan menepuk dan menggoyangkan Nindiya. Akan tetapi usahanya tidak berhasil. Lantas, ia melihat air yang di pegang Bayu.


"Coba kau percikan sedikit air pada wajahnya!" pinta Gemani pelan.


Bayu menurutinya. Ia meneteskan air sedikit ke tangannya. Lalu mencipratkan air tersebut ke wajah Nindiya. Berharap itu bisa membangunkannya.


"Nehan ..." gumam Nindiya sebelum akhirnya membuka matanya.


"Dia sadar," ucap Gemani.


"Ohh syukurlah." Bayu yang melihatnya, menyunggingkan senyum.


"Dimana Nehan?" Matanya menerawang ke berbagai arah, saat ia tidak menemukan apa yang ia cari.


Nindiya yakin, ia baru saja bertemu dengan Nehan. Tetapi ia harus kecewa, karena ia tidak melihat seseorang yang terasa dekat dengannya. Ia barusan merasakan Nehan berada di sisinya. Tetapi ketika bangun, ia tidak melihat wujudnya.


"Tenanglah ... sebaiknya kau minum dulu." Gemani menengok kearah Bayu, agar Bayu meminumkan air pada Nindiya.


Gemani membangunkan Nindiya untuk duduk. Karena ia merasakan tubuh Nindiya sangat lemah, Gemani pun menopang tubuh perempuan itu dengan tangannya.


"Ayo minumlah ...." Sembari memberikan air kepada Nindiya, Bayu pun melihat kesedihan terpancar di wajahnya.


Butuh waktu lama untuk mencairkan suasana canggung mereka. Akhirnya mereka bisa mengatasinya. Ketika malam telah tiba. Bayu Indera dan Jumantara telah menemukan bahan makanan untuk mereka santap. Kini mereka sedang membakar ikan dan beberapa ubi jalar yang mereka temui di sekitar sungai dan hutan.


Gemani dan yang lainnya tidak berani bertanya tentang Nindiya dan Nehan. Mereka khawatir akan membuat kesedihan bagi Nindiya. Cukup melihat ekspresinya saja, membuat mereka yakin. Ini bukan sesuatu yang baik. Jadi, sebisa mungkin, mereka menjauhkan rasa ingin tahunya itu.


Bagi mereka, sudah lolos dari kematian pun sudah jauh lebih baik. Mereka beruntung karena mereka masih memiliki kesempatan untuk hidup. Walau mereka kini harus menghadapi situasi sulit.


Mereka memperbincangan sesuatu yang lain. Tidak membahas tentang Puteri Padmasari atau tentang Nehan. Mereka hanya ingin berpaling sejenak dari beban mereka. Yang di bicarakan mereka pun hanya sesuatu tidak penting.


"Kulihat bulan itu tersenyum padaku. Mungkin esok aku akan mendapatkan jodohku." Indera menatap bulan yang bersinar terang saat ini. Sambil rebahan di atas rumput, ia bersama Jumantara menatap bulan.


Bayu yang baru saja selesai membakar ikan dan ubi, memilih ikut bergabung dengan mereka. Ia duduk dan menikmati makanannya.


***

__ADS_1


__ADS_2