Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 76 Sepak Terjang Ubhaya


__ADS_3

Chapt 76


"Bodoh!" umpatan keras, keluar dari mulut Ubhaya. Permasalahannya karena Wirata tidak mematuhi perintahnya. Untuk tidak membunuh.


"Maaf, tetapi jika kita ingin menguasai pedang bumi, kita harus menyingkirkan semua yang bisa mengendalikan pedang itu?!" belanya pada diri sendiri. Menurutnya ia tidak bersalah. Tetapi kenapa Ubhaya mempermasalahkannya.


"Saya tidak menyuruhmu untuk membunuhnya! Kenapa kau membunuhnya juga? Yang kuinginkan, mereka hidup menderita! Kau beraninya melawanku Wirata!" Ubhaya sampai kehilangan kesabarannya atas Wirata. Lelaki tersebut seringkali menghianatinya. Bahkan sering tidak mematuhi perintahnya.


Meskipun Ubhaya adalah pendekar golongan hitam terkuat, tetapi saat ini, ia kehilangan banyak kekuatannya. Ini karena kejadian masa lalunya, yang membuat ilmu yang dimilikinya terserap hampir habis oleh pedang bumi. Saat ini, yang menjadi kekuatannya adalah golok besar yang selalu berada di tangannya. Yah, golok tersebut sudah menyatu dengan jiwanya.


Sebuah golok yang memiliki panjang satu setengah meter, dengan lebar, hingga setengah meter tersebut, terlihat besar dan juga berat. Berat golok tersebut bisa mencapa dua ratus kilogram. Dan hanya orang orang dengan kekuatan hebat yang menguasainya. Bagi Ubhaya, golok itu adalah penyelamatnya. Karena saat tenaganya terserap oleh pedang bumi, makhluk yang mendiami golok tersebut, yang menyelamatkannya.


Untungnya, pedang bumi, hanya akan menyerap kekuatan orang yang menggunakannya, hanya sekali saja. Setelah itu, pedang bumi tidak akan menyerap kekuatan orang tersebut kedua kalinya. Tetapi kebanyakan orang yang menggunakan pedang bumi, akan mati mengenaskan. Karena seluruh kekuatannya akan terkuras habis. Termasuk energi kehidupannya.


Satu satunya yang dapat mengendalikan pedang bumi, hanyalah Wardana. Dan Wardana mempunyai anak bernama Nehan. Karena Nehan telah dibunuh oleh Wirata, maka hanya tersisa Wardana. Ini membuat Ubhaya marah terhadap Wirata.


Ubhaya tidak menginginkan kematian Nehan. Karena ia bosan dengan lawan lawannya yang mati di tangannya. Satu satunya harapannya adalah menemui lawan yang seimbang dengannya. Karena setiap ia bertarung, ia akan selalu menang. Meskipun kekuatannya tidak seperti dulu lagi.


Ia teringat, dahulu ia bertarung dengan beringas. Dan mengalahkan lawan lawannya dengan kekuatannya sendiri. Sebelum menemukan golok tersebut. Namun setelah menemukan golok pusaka, yang ia beri nama Golok darah, adalah golok yang senantiasa haus darah. Setiap digunakan, golok itu harus bermandikan darah kawannya. Jika tidak, golok tersebut akan mengendalikan Ubhaya. Dan akan mengambil darah siapapun yang berada di dekatnya. Walaupun rekan sendiri.


Ditemukannya golok darah, adalah awal dari perguruan golok darah didirikan. Adalah sebuah penghianatan Ubhaya terhadap gurunya. Karena Daniswara lebih disayang oleh gurunya sendiri, Mahadri.


Setelah menemukan golok darah, emosinya semakin tidak setabil. Ia tidak bisa mengontrol emosinya. Dan cenderung lebih kejam dan egois. Karena rasa cemburunya semakin besar, setelah Daniswara menerima pedang langit. Pedang yang Ubhaya incar dari dahulu. Tetapi Mahadri malah memberikannya pada Daniswara.

__ADS_1


"Aku tidak terima. Awas kau Daniswara!" sejak saat itu, dendamnya kepada Daniswara, membawanya dalam kehancuran. Ia dipengaruhi makhluk yang berada di dalam golok darah.


Setelah bertapa di bukit Lima Gerbang Iblis, ia berhasil mendapatkan golok darah tersebut. Tetapi ia harus mengorbankan dirinya. Kesadarannya kadang akan diambil alih oleh iblis yang berada di dalam golok darah.


Dan dari sini lah awal dari balas dendamnya. Ia juga menemukan kitab Lima Gerbang Iblis. Ia mempelajari ilmu tersebut dan menjadi pendekar yang tidak terkalahkan.


Beberapa bulan setelah berhasil menguasai ilmu hitam dari kitab tersebut, ia membawa golok darahnya, untuk menantang dan mengalahkan Daniswara. Tetapi sayangnya, karena Mahadri yang menolong Daniswara, membuat Ubhaya semakin murka.


(Pertarungan Daniswara dan Ubhaya, ada di chapter 1)


Ubhaya membawa pasukannya dengan terlebih dahulu menaklukan perguruan aliran hitam untuk menjadi bawahannya. Setelahnya, ia membawa bawahannya untuk menyerang desa Banyuasih.


Ubhaya membawa pasukannya untuk menyerang desa hingga mereka mati mengenaskan. Para wanita diperkosa lalu di bunuh. Rumah rumah dibakar, para pria pun dibunuh dengan keji. Saat itu, Daniswara hanya sendirian untuk mengalahkan pendekar pendekar yang menyerang desanya.


"Kenapa kau menghancurkan desa kita, Ubhaya?"


"Desa kita? Maaf Daniswara. Sepertinya kau salah paham. Ini bukan desa kita. Tetapi ini adalah tanah kuburanmu bersama orang orang desa. Hahaha!!!" Ubhaya tertawa dengan lantangnya. Ia menatap Daniswara dengan tatapan penuh rasa amarah.


Rasa sakit hatinya terhadap warga desa Banyuasih, juga yang mengakibatkannya menyerang desa tersebut. Di desa Banyuasih, ia tidak dipandang baik. Karena perlakuannya yang kadang usil dan sering membuat kekacauan di desa.


"Sepertinya, hatimu telah tertutup awan hitam," gumam Daniswara. Saat ini, ia sudah merasa lelah akibat pertarungannya yang menghabiskan tenaga dalamnya.


Daniswara memang memegang pedang langit di tangannya. Tetapi pedang tersebut juga menyerap kekuatannya. Pengguna pedang langit, harus memiliki ilmu Kanuragan dan tenaga dalam dalam jumlah besar. Saat ini, Daniswara sudah membunuh lebih dari lima ratus pendekar golongan hitam dengan pedangnya. Itu cukup untuk membuat kekuatan Daniswara terkuras habis.

__ADS_1


"Tidak perlu banyak bicara. Akan kubunuh kau saja." Ubhaya maju menyerang Daniswara yang sudah tidak mungkin bertarung.


"Baiklah, mungkin ini pertarungan terakhirku. Kuharap puteriku hidup dengan baik dan bahagia." Bagaikan ucapannya yang terakhir, ia membuka jalan Ubhaya untuk menyerangnya.


Daniswara menggunakan sisa sisa tenaganya untuk mengangkat pedang langitnya. Tetapi Ubhaya yang sudah sangat dekat, membuat Daniswara tidak bisa berkutik. Ia harus menerima serangan Ubhaya dan mengalami luka parah. Ia menangkis serangan golok darah Ubhaya dengan pedang langit. Tetapi ia terlempar jauh.


Saat itu, pedang langit terlepas dari tangannya. Pedang tersebut terlempar jauh. Hingga seorang pendekar paruh baya mengambil pedang tersebut.


"Pedang langit? Sepertinya keberuntungan berada di pihak perguruan pedang dewa." Yah, seorang guru dari perguruan pedang dewa lah yang mengambil pedang tersebut. Lalu ia pun meninggalkan tempat tersebut, dan membawa pedang tersebut ke dalam perguruan pedang dewa.


Karena sudah digunakan untuk bertarung, pedang tersebut, sudah tidak memiliki kekuatan besarnya lagi. Itulah sebabnya, seseorang bisa memegang pedang tersebut tanpa menggunakan kekuatannya. Tetapi dalam waktu beberapa hari, pedang tersebut akan menyerap energi alam, untuk mengisi kembali kekuatannya.


Ubhaya yang tidak tahu, pedang tersebut sudah terlepas dari tangan Daniswara, berniat membunuh Daniswara. Tetapi karena ia tidak menemukan pedang tersebut di tangan Daniswara, Ubhaya merasa kecewa. Ia menancapkan goloknya ke tanah.


"Dimana pedang itu?" Ubhaya mendekati Daniswara. Ia pun menggenggam pundak Daniswara.


"Terlepas ...," Daniswara tidak dapat meneruskan kata katanya. Ia sudah terlihat lemah.


"Baiklah! Akan kuserap saja kekuatanmu. Sehingga kau tidak bisa mengumpulkan tenaga dalam lagi. Hyaa!!" dengan ajian yang dimilikinya, Ubhaya menyerap sisa sisa kekuatan Daniswara. Sehingga Daniswara bahkan tidak bisa menghadapi pendekar lemah sekalipun.


Sejak saat itu, Ubhaya menyuruh Wirata untuk mengurung Daniswara yang sudah tidak bisa berbuat apapun Daniswara dikurung di dalam goa bersama dengan Wardana.


***

__ADS_1


__ADS_2