Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 18 Serangan Ninja2


__ADS_3

Chapt 18


Tentu saja mereka berani mempertaruhkan nyawa mereka. Beberapa senjata terlempar. Para ninja pun maju dengan cepat. Walaupun jumlah mereka hanya dua puluh orang, sanggup menghadapi seratus orang lebih.


Kini hanya tersisa sekitar setengah prajurit yang tersisa. Dan dari semak semak, beberapa anak panah melesat dan mengenai beberapa ninja. Dan banyak juga yang mampu menghindarinya.


"Ninja ninja itu sedikit merepotkan." Bayu maju dengan menggunakan rajah yang dia ciptakan dari elemen angin yang ia kuasai.


Sementara Indera dan Raditya masih menggunakan anak panah. Tetapi tak terasa anak panah mereka pun telah habis.


"Sial. Bagaimana ini?"


"Lebih baik kita hadapi dengan pedang."


"Baik."


Mereka berdua pun maju membantu Bayu yang sedang bertarung kewalahan. Karena para prajurit tidak menganggapnya rekan. Ia harus menghadapi para prajurit dan para ninja sekaligus.


"Tunggu! Kami berniat membantu. Kami pengawal rahasia yang khusus ditugaskan melindungi sang Puteri!" Teriak Bayu.


"Wah. Benarkah? Mengapa tidak bilang dari tadi?" Prajurit yang mendengarkannya langsung berhenti menyerang Bayu.


Dan kini berkat bantuan ketiga pendekar, posisi mereka imbang. Mereka saling bertukar jurus. Indera menggunakan pedang dan berhasil melukai beberapa ninja. Raditya selain pedang, dimulutnya ia juga membawa biji bijian. Tangan kanan memegang pedang. Tangan kiri memegang sumpit yang ia tembakan.

__ADS_1


"Enyahlah kalian. Hyaaa!" Dengan semangat membara, indera berhasil melumpuhkan para ninja. Walau beberapa luka didapatnya karena tidak dapat menghindari serangan dari berbagai arah.


"Sial. Merepotkan sekali." Bayu kini mulai kehabisan tenaga. Karena ia menggunakan kekuatan penuhnya untuk menggunakan kekuatan angin. Senjata lempar berbalik ke pemiliknya. Namun pemilik senjata dapat menangkapnya kembali.


Dan para prajurit semakin banyak yang tewas karena ilmu silat dan tenaga dalamnya tidak cukup.


"Tuan Puteri, sebaiknya kita tinggalkan tempat ini."


"Baiklah." Puteri Padmasari menghembuskan nafas gusar. Ia tidak menyangka, kebebasan yang di idam idamkan ya terancam sirna.


Kepala pengawal dan beberapa prajurit tetap siaga melindungi junjungan mereka. Sang Puteri naik ke kereta kuda, kepala pengawal yang menggantikan tugas kusir, karena kusir telah meregang nyawa saat melindungi sang Puteri. Hanya ada sedikit pengawalan untuk sang Puteri, membuat mereka selalu bimbang dan selalu waspada.


Pertarungan mereka berlangsung sampai larut malam. Ninja ninja itu belum mengalah. Dan tiga ninja, berhasil mendekat sang putri. Dan para penjaganya telah tergeletak di tanah. Sang pemimpin prajurit kerajaan kini tidak dapat bergerak. Ia terkena senjata lempar dan mengenai kedua kaki dan tangan kanannya.


"Kau merepotkan. Tetapi tenang saja. Kami hanya akan membawa tuan putri. Dan sisanya? Yah kalian tidak perlu khawatir."


"Sial!" Umpat pemimpin.


Pemimpin prajurit melemparkan cakram yang ia dapat dalam pertempuran.


"Shuuut..." Namun cakram itu seperti mainan bagi para ninja. Dan berhasil ditangkap dan dikembalikan lagi ke pemimpin prajurit.


"Srraakkk." Kepala terpisah dari tubuhnya. Pemimpin prajurit tidak bernyawa lagi.

__ADS_1


"Aaahhh!" Puteri Padmasari berteriak ketakutan. Ia menutup telinga dan menutup matanya.


"Puteri yang cantik. Tapi tenang. Kami tak akan membunuhmu. Kami hanya akan membawamu."


"Wuzzz..." Angin kencang membuat para ninja terlempar.


"Pengendali elemen." Ucap salah satu ninja.


"Baiklah. Teknik pengendalian tanah. Tembok pelindung." Salah satu ninja merapalkan jurus. Seketika tembok tanah tercipta melindungi kelompok ninja yang tersisa lima orang.


"Sial. Pengendali tanah." Bayu yang menyadari lawannya tidak mudah dihadapi. Sementara dirinya tahu. Elemen angin miliknya tidak dapat menembus tanah.


"Serahkan padaku!" Raditya berlari menuju tembok dan melompat.


Raditya melompat, dan dari udara, ia tahu tembok yang diciptakan oleh ninja ninja itu hanya mengelilingi tanpa tertutup bagian atasnya. Ini memudahkan Raditya masuk ke dalam.


"Kau pikir kau bisa masuk kedalam, kami akan kalah?" Ninja tersebut tersenyum di balik cadarnya.


"Tutup omonganmu nanti sampai nyawamu tak ada lagi." Raditya sinis


"Cihh... Pendekar rendahan sepertimu beraninya menghadapi kami."


***

__ADS_1


__ADS_2