
Chapt 68
Wirata tidak bisa berjalan lagi setelah lama berjalan dengan sempoyongan. Ia terjatuh di jalanan sepi. Namun beruntung baginya. Ternyata ada seorang gadis yang melihatnya terjatuh. Gadis berusia enam belas tahun dengan tingkahnya yang periang. Namun ia memiliki sosial tinggi.
"Kak. Kak Nehan, tolong." Teriak gadis tersebut.
"Ada apa Kirana?" Nindiya yang mendengar teriakan tersebut melesat cepat meninggalkan Nehan yang berlari tidak terlalu cepat.
"Eh kak Nindiya. Tolong orang ini." Sahut Kirana. Keduanya memapah Wirata yang hampir tidak sadarkan diri.
"Orang ini pasti seorang pendekar. Ini pedangnya serem juga." Kirana memegang pedang berwarna hitam dan terulir gambar kalajengking di gagang pedang tersebut.
Sementara Nehan yang baru sampai, merasa ada sesuatu yang mengherankan. Ia melihat dia perempuan tersebut sedang memapah seseorang yang menurut Nehan tidak asing.
"Nehan. Ada apa?" Nindiya mencoba bertanya.
"Sebaiknya kita bawa ke rumah tabib." Ungkap Nehan.
Mereka bertiga membawa Wirata ke rumah tabib. Tentu jarak mereka sudah dekat. Membuat jalan mereka menjadi lebih singkat. Tabib yang melihat kedatangan Nehan, pun membuatnya bertanya tanya. Kerena biasanya, Nehan akan mengirim obat obatan setiap satu Minggu sekali. Ini baru kemarin, tetapi Nehan sudah datang lagi.
"Nehan?" Tabib melihat seseorang yang dipapah oleh Nehan dan Nindiya.
"Tabib, tolong orang ini." Pinta Nehan.
Tabib desa Papringan, lantas membuka pintu rumahnya. Kemudian Nehan membawa Wirata ke dalam rumah tabib. Wirata dibaringkan ke amben bambu (dipan).
"Kurasa ia terkena racun? Saya tidak pernah lihat racun seperti ini." Sang tabib itu memeriksa dada Wirata yang menghitam.
"Ini?" Sang tabib terkejut. Ia baru menyadari, bahwa pendekar yang ditolongnya memiliki satu lengan.
"Apakah tabib tahu siapa dia?" Tanya Nehan memastikan. Karena ia juga tidak merasa asing dengan Wirata.
"Ah. Entahlah. Saya pernah mendengar, ada seorang pendekar dari golongan hitam. Ia hanya mempunyai satu tangan. Karena satu tangannya terpotong saat pertarungan. Apakah ini orang tersebut? Kalau iya, berarti kita dalam bahaya." Raut rasa khawatir telah membuat tabib tersebut merasakan kengerian.
"Apa anda bisa mengobatinya?" Tanya Kirana pada tabib.
"Sebaiknya kau saja Nehan. Saya sudah tua. Lagian saya tidak tahu luka apa ini?" Tunjuk tabib pada dada Wirata uang menghitam.
__ADS_1
"Baiklah. Paman tenang saja. Saya akan mencobanya." Nehan mulai memeriksa dengan peralatan yang ada di rumah sang tabib.
"Ini racun." Gumamnya.
"Apa ini berbahaya?" Nindiya melihat Nehan yang datar tersebut ia tidak tahu apa yang ada di pikirkan Nehan.
"Kurasa racun ini berasal dari bisa ular kobra. Dan sepertinya ada luka bakar yang terus menyebar bersamaan racun kobra tersebut. Sepertinya ia terkena ajian kobra api." Nehan memandang Wirata yang melemah. Nehan ingin memastikan bahwa ia pernah melihat atau bertemu dengan Wirata.
Wirata masih sadar, tetapi tidak dapat berbicara. Ia hanya mengedipkan matanya. Ia berharap Nehan menangkap sinyal itu. Bahwa anggapan Nehan memang benar, ia terkena racun kobra api.
"Baiklah, aku membutuhkan lidah buaya, untuk mendinginkan luka bakarnya, lalu daun lamtoro. Untuk mengobati racun ini, kita bisa menggunakan kunyit. Mohon paman bantu siapkan semua itu." Perintah Nehan.
"Baiklah. Saya akan siapkan semua itu." Jawab sang tabib. Lalu ia pun melaksanakan perintah Nehan.
"Apa obat ini akan berhasil?" tanya tabib tersebut, setelah ia mendapatkan bahan bahan tersebut.
"Harusnya ini berhasil." Sahutnya.
Nehan mencampur ketiga bahan yang telah didapatkannya. Setelah bahan ditumbuk halus, ia membalurkannya pada luka dada Wirata. Dengan telaten, Nehan melakukannya.
Setelah selesai mengobati Wirata, Kirana dan Nindiya, sebenarnya ingin memberitahukan pada Jumantara dan yang lainnya, bahwa Nehan sudah memutuskan untuk bergabung, untuk mencari Puteri Padmasari. Namun mereka mengurungkan niatnya, karena tabib memberitahukan informasi yang mereka perlu mengetahui.
"Kurasa kalian tidak perlu terburu buru. Saya melihat mereka masih ada disini. Mereka sempat membeli obat obatan dari tempat ini. Jika kalian ingin menemui mereka, besok pagi di penginapan dekat pasar. Mereka akan berangkat besok pagi." Sang tabib menjelaskan pada Nehan agar tidak terburu-buru.
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih paman." Nehan memberi hormat.
Sementara Nindiya dan Kirana, menuju ke luar rumah tabib. Mereka melihat beberapa aktivitas warga. Tentu kehidupan mereka hampir sama dengan kehidupan desa Guntur. Yang membedakan adalah, di desa papringan lebih ramai. Rumah rumah di desa Papringan berjarak lebih dekat. Berbeda dengan di desa Guntur. Disana, rumah rumah dibangun dengan jarak masing masing rumah, bisa dua atau tiga kali dari desa Papringan.
"Sebenarnya, kalian baru menikah. Tetapi mengapa kalian malah mengurus urusan yang bukan urusan kalian? Harusnya kalian bersenang-senang dan menikmati waktu berdua. Maafkan aku kak Nindiya." Ungkap Kirana. Ia sedang duduk di lincak bersama Nindiya.
"Tidak apa apa. Sebenarnya saya juga salah. Saya yang membujuknya. Tetapi kalau sudah seperti ini? Aku merasa salah padanya." Nindiya merenungi kesalahannya.
"Yah. Mungkin kita selalu membuat masalah untuknya. Tetapi saya tidak ingin terjadi apa apa terhadapmu dan kak Nehan." Sahut Kirana.
"Kenapa kalian tidak menyadarinya dari kemarin?" Tiba tiba Nehan berada di belakang mereka.
"Eh... Kak Nehan." Kirana menengok Nehan yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Nehan ikut duduk di lincak dengan mereka. Melihat dua perempuan yang saling pandang. Entah mengapa kedua perempuan tersebut kini hanya terdiam. Karena menuruti naluri hati mereka, mereka melupakan kebahagiaan mereka sendiri
Bagi Nehan dan Nindiya, mereka seharusnya bahagia sekarang. Tetapi Kirana yang menyesali dirinya sendiri. Perkataan Nehan kemarin ternyata benar. Mereka bisa saja kehilangan nyawa mereka. Apalagi saat salah satu dari rombongan terpisah. Bukan tidak mungkin mereka selalu bersama bukan?
Melihat seseorang yang terluka dan terkena racun itu, baru membuat Kirana dan Nindiya menyadari. Itu karena masih ada Nehan yang tahu ilmu pengobatan. Coba saja jika Nehan yang mengalaminya. Mereka tentu bingung bukan?
"Jika kalian terus bengong, kapan saya bisa makan enak?"
"Hah?" Nindiya sadar, ini waktunya mereka makan siang.
"Oh iya. Lupa hehehe... Kita makan dimana?" Tanya Nindiya.
"Kalian masaklah. Saya sudah minta ijin paman tabib. Ia memperbolehkan kalian menggunakan dapurnya. Tapi..." Nehan menggantung ucapannya.
"Tapi apa kak?'' selidik Kirana.
"Tidak ada bahan makanan. Apa kalian ke pasar dulu? Ini bawalah.'' Nehan menyerahkan kantong kecil berisi beberapa koin emas kepada Nindiya.
"Terima, Nehan."
"Kalian cepatlah. Saya sudah lapar." Nehan mengistirahatkan badannya.
Nehan memegang pedang bumi yang dari tadi digendongnya. Ia membuka bungkus kain berwarna merah tersebut. Pedang yang sudah menemani hidupnya. Hanya beberapa kali ia menggunakan pedang tersebut. Nyatanya hanya dia yang mampu mengendalikan pedang bumi tersebut. Walaupun itu belum sempurna.
"Nehan." Panggil sang tabib yang tidak pernah menyebut atau disebut namanya itu.
"Iya paman." Sahut Nehan. Ia menengok ke arah tabib tersebut.
"Kau masih memikirkan ayahmu?" Tabib tersebut memang tidak melihat raut wajah Nehan berubah. Ia akan tetap datar. Tetapi yang dilihat tabib itu adalah hatinya.
Tabib tanpa nama tersebut sudah mengenal Nehan sudah sepuluh tahun lebih. Selain belajar dengan tabib Dewandaru, Nehan juga belajar dari tabib tersebut. Tetapi kemampuan tabib Dewandaru lah yang masih belum bisa terkalahkan.
Tabib tanpa nama tersebut hanya tabib biasa. Ia tidak memiliki kemampuan hebat dalam mengobati. Tetapi satu hal yang dipelajari Nehan adalah membuat jebakan. Yah. Tabib tanpa nama tersebut adalah guru Nehan dalam membuat perangkap dan senjata.
Pekerjaannya sebagai tabib adalah untuk menutupi kemampuan sesungguhnya. Karena keberadaannya diincar banyak orang. Karena pembuat perangkap itu sangat langka, dan mereka mencarinya untuk kepentingan mereka sendiri.
***
__ADS_1