Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 72 Tekanan Batin


__ADS_3

Chapt 72


Setiap pertarungan, mungkin akan menimbulkan luka. Baik dari luka sayatan, hantaman atau luka dalam. Seperti saat ini, keadaan Jumantara cukup lemah. Tubuhnya dipenuhi luka cabikan. Gemani dengan telaten membaluri tubuh Jumantara dengan obat yang diberikan Kirana.


Sementara Bayu dan Indera, mengalami pendarahan di telinganya. Karena efek auman harimau. Atau ajian macan putih milik Jumantara. Untuk sementara, pendengaran mereka berdua terganggu. Jadi telinga mereka tidak akan berfungsi sebagai mana mestinya, dan entah sampai kapan akan sembuh.


"Apakah ada obat untuk menyembuhkan telinga kami?" tanya Bayu sambil menatap Nehan dan Gemani.


"Maaf, aku tidak tahu. Mungkin kendang telinga kalian sudah rusak." Nehan memberikan penjelasan pada mereka berdua. Namun mereka berdua hanya saling menatap.


"Sepertinya, mereka tidak bisa mendengarnya, Nehan." Nindiya mendekati Nehan dan memberikan air minum untuknya.


Nehan menerima air minum tersebut dan meminumnya dengan segera. Karena ia tidak tahu, ia kali ini tidak bisa membantu mengobati Bayu dan Indera. Tetapi harusnya pengguna ajian tersebut bisa menyembuhkannya.


"Apa yang mereka bicarakan?" Indera bertanya pada Bayu. Tetapi sama saja. Bayu tidak mendengarnya.


Kedua pemuda tersebut sadar, mereka tidak bisa mendengar lagi. Nehan hanya bisa mengeluarkan sisa sisa darah yang mengalir di telinganya. Tetapi tidak bisa menyembuhkan gendang telinga yang sudah rusak.


"Apakah aku akan tuli selamanya?" ucap Bayu dengan raut wajah yang sedih. Ia tidak menyangka, karena kebodohan Jumantara, membuatnya dan sahabatnya tidak bisa mendengar.


"Ini gara gara orang ini." Indera menggeram dan menatap Jumantara dengan menahan amarah.


"Sudah sudah. Kalian jangan begini!" tapi ucapan Nindiya, tidak mungkin bisa didengar kedua temannya itu.


Kedua pemuda yang terlanjur emosi, bersamaan menyerang Jumantara. Tetapi dengan sigap, Gemani tangan mereka berdua. Kedua pemuda tersebut tidak mampu melepaskan genggaman tangan Gemani. Namun mereka menggunakan tangan kiri mereka untuk melepaskan diri mereka.


"Kalian berhenti!" dengan berteriak keras, tidak membuat keduanya berhenti. Mereka sudah tidak mendengar lagi. Dan kedua pemuda tersebut sudah terlalu emosi.


"Nindiya," Nehan menatap Nindiya, berharap isterinya tersebut paham apa yang dimaksud Nehan.


"Iya."


Tanpa diketahui mereka, Nindiya sudah memukul kedua pemuda yang sudah hampir mengamuk, karena dengan memukul mereka, berharap keduanya kehilangan kesadaran. Dan tentu saja, sekali pukulan mereka pun telah tidak sadarkan diri.


"Maaf ... ini gara gara kecerobohanku." Jumantara mengatakan itu, setelah keadaan tenang. Dari tadi, ia tidak berani berbicara. Karena kelalaiannya itu, membuat rekannya terkena efeknya.


"Apakah ada cara untuk menyembuhkan mereka?" tanya Nehan memastikan, bahwa ada kemungkinan seseorang bisa menyembuhkan Bayu dan Indera. Karena ia pikir, Jumantara tidak bisa menyembuhkannya.


"Aku bisa saja menggunakan tenaga dalamku untuk menyembuhkannya." ucapannya yang membuat Nehan dan Nindiya berpaling.

__ADS_1


"Saat saat seperti ini, kau hanya bisa becanda!" maki Gemani dengan suara keras. Membuat telinga Jumantara berdenging.


"Aww ... sakit telingaku." ia menutup telinganya dengan kedua tangannya.


Mungkin bagi Gemani, ini hanya lelucon belaka. Tetapi berbeda dengan Nehan. Jika ini hanya candaan, tidak mungkin ekspresi Jumantara tidak senang. Ia merasa Jumantara belum mengatakan selengkapnya. Ini tidak sesederhana itu.


"Kau kenapa?" Nindiya mendekati Nehan. Mereka berdua berjalan menjauh dari mereka.


"Ayo ikut denganku!" ajak Nehan pada Nindiya, yang masih bingung.


'Apa yang sedang dipikirkannya?' batin Nindiya.


Nindiya memang belum lama mengenal Nehan lama, tetapi rasanya, ia nyaman berada di sisinya. Nehan adalah sosok suami yang baik untuknya.


"Ayo temani saja." ajaknya lagi, Nindiya berjalan dan dikuti Nehan di belakang.


"Eh. Kok kamu yang di belakang?" Nindiya merasakan keanehan yang terjadi. Karena perasaannya tidak enak.


"Ada apa?" Nehan melihat Nindiya yang mematung di tempat.


Nindiya merasakan kekuatan besar mendekati tempat tersebut. Masih di hutan warujati yang lebat, tetapi mereka tidak tahu, kalau mungkin saja, ada ancaman lain yang datang.


"Kamu ngomong apa?" Nehan mengikuti arah pandang Nindiya, tetapi yang dilihatnya hanya pohon pohon yang berjejer rapi. Selain itu, hanya rumput dan beberapa tanaman yang menjulang tinggi.


"Sepertinya ada beberapa orang menuju kemari."


"Siapa mereka?"


"Entahlah."


Mereka berdua, memutuskan untuk tidak menghiraukannya. Tetapi mereka sudah mendekati tempat tersebut. Mereka sekelompok pendekar yang terlihat seram dan cenderung memakai pakaian yang aneh.


"Hehehe ... Kurasa keberuntungan kita sudah ada di depan mata?" seseorang yang memegang golok besar, yang berada paling depan.


"Mereka dari perguruan golok darah. Mereka berasal dari golongan hitam." gumam Nehan yang di dengar oleh Nindiya.


"Ooh ... lihat, ada perempuan gadis di hutan ini. Sepertinya keberuntungan kita sedang berpihak pada kita." seseorang yang menggunakan cambuk.


"Mereka dari perguruan kobra api. Mereka memiliki racun di senjatanya."

__ADS_1


"Baik."


Sementara Nehan menjelaskan beberapa pengetahuan tentang beberapa perguruan yang sedang berhadapan dengan mereka.


"Sayang sekali. Kami akan mengambil perempuan itu, untuk melayani kami semua." Seseorang yang menggunakan golok besar tersebut tersenyum licik.


"Aku tidak mengijinkan kalian!" Nehan menatap rombongan pendekar aliran hitam yang terus bertambah. Jumlahnya mungkin ada ratusan.


Nehan memperkirakan jumlah mereka melebihi dua ratus atau tiga ratus orang. Tiba-tiba, muncullah seorang pendekar lengan satu, Wirata. Ia merasa senang, karena ia berhasil mengumpulkan bala bantuan. Karena ia tidak akan bertindak ceroboh untuk mendapat apa yang ia inginkan.


"Kau? Apa yang kau lakukan?" Nindiya mengenali wajah orang tersebut. Walau belum sempat mengetahui namanya, tetapi ia yakin, orang itulah yang merencanakannya. Dan tentu orang itu yang sudah ditolongnya bersama Nehan dan Kirana. Tidak habis pikir, mengapa seseorang yang sudah ditolong, malah berniat tidak baik kepada penolongnya.


"Hmmm ... Kau pasti yang bernama Nindiya? Saya ada sesuatu yang harus ku katakan padamu."


"Apa maksudmu?" Nindiya nampak bingung.


"Saya punya pesan dari seseorang yang ku bunuh. Dia berpesan, agar kau menemuinya di neraka. Dan orang itu adalah Daniswara!"


"Apa?! dimana ayahku?!" Nindiya merasakan dunianya seakan runtuh. Sudah semenjak lama, ia rindu dengan ayahnya. Tetapi ia tidak tahu kabarnya. Entah masih hidup atau tidak. Tapi ia berharap bisa bertemu dengannya.


"Nindiya ...?" Nehan memegang pundak isterinya itu.


Nindiya merasakan air matanya jatuh. Ia sedang lemah saat ini, itu membuat Wirata tersenyum. Hanya dengan membuat lawannya goyah, itu cukup untuk mempersingkat waktunya.


"Kuharap, kalian hati hati. Mungkin mereka tidak sendiri!" Wirata memperingatkan para pendekar dari golongan hitam tersebut.


Walaupun Nindiya tampak lemah untuk saat ini, mereka tidak berharap akan kecerobohan yang mengakibatkan kesia- siaan belaka. Hanya saja, ia tidak melihat sesuatu yang menjadi incarannya.


Gumam Wirata."Dimana pedang itu?"


Semua pendekar menyadari. Nehan maupun Nindiya tidak membawa pedang yang mereka cari. Karena Wirata tidak mungkin membohongi mereka. Mereka adalah kaki tangan Ubhaya. Jadi tidak mungkin berita yang disampaikan Wirata adalah kebohongan. Mungkin saja, pedang tersebut diletakan di suatu tempat. Tetapi apa tidak berbahaya, jika mereka meninggalkan pedang tersebut? Itu menimbulkan tanda tanya dari para pendekar aliran hitam.


"Nindiya, tenanglah. Kita dalam bahaya sekarang!" Nehan membisiki Nindiya. Bahkan Nehan merangkul Nindiya, berharap ia bisa tenang menghadapi tekanan tersebut.


Nehan tahu, pasti Nindiya sedang dalam tekanan besar. Dunia persilatan, adalah dunia yang kejam. Dan musuh musuh mereka bisa menyerang dari hal hal yang tidak terduga. Seperti Wirata yang mengetahui kelemahan Nindiya. Yaitu harus menyerang melalui hati. Seperti yang Wirata lakukan.


"Kau jangan terpengaruh. Aku janji, akan menemukan ayahmu. Kamu jangan khawatir lagi." Nehan mencoba menenangkan Nindiya yang terisak di pelukannya sekarang.


"Percuma!" Wirata, tiba tiba sudah berada di depan mereka, ia menghunuskan pedangnya.

__ADS_1


***


__ADS_2