Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 66 Penginapan Desa Papringan


__ADS_3

Chapt 66


"Apakah kita akan mencari Puteri, tanpa mereka?" Tanya Gemani memastikan.


"Kurasa kita harus meninggalkan desa ini." Putus Jumantara.


"Ini bahkan sudah malam. Bagaimana kalau kita ke penginapan di desa ini?" Usul Bayu.


"Baiklah. Kau yang menunjukkan jalan." Titah Jumantara.


Bayu menurut. Ia menunjukan dimana rumah yang kerap menjadi tempat mereka menginap tempo hari. Yang sebenarnya itu bukan penginapan. Tetapi rumah pribadi yang cukup luas.


Tentu pemilik rumah atau penginapan merasa sangat senang. Ia mengingat Bayu dan indera yang membawa rejeki baginya. Apalagi mengingat mereka bersama Puteri Padmasari. Pemilik penginapan merasa bangga. Rumahnya pernah disinggahi seorang Puteri kerajaan.


Pemilik penginapan pun melayani para tamunya dengan baik. Pagi harinya, mereka telah dijamu dengan berbagai masakan buatan pemilik penginapan.


Pagi hari yang cerah. Tetapi tidak secerah harapan mereka. Setelah mereka sudah mengisi perut mereka dan membayar tagihan mereka seusai menginap dan makan, mereka pun pergi dari desa Guntur. Langkah mereka terasa berat, karena tidak mendapatkan persetujuan Nehan.


"Huhhh... Kurasa perjalanan ini akan menegangkan. Tapi bagaimana kita tahu dimana keberadaan Puteri? Kerajaan Lokapraja kan sangat luas. Sementara kita tidak tahu, apakah Puteri Padmasari masih berada di wilayah kerajaan Lokapraja atau malah berada di wilayah kerajaan lain?" Keluh Gemani.


"Kita harus pergi kemana?" Kini Bayu yang bertanya pada Jumantara.


"Sepertinya kita harus ke kerajaan Lokapraja. Setidaknya kita bisa bertanya pada pihak kerajaan. Apa sang raja memiliki musuh atau tidak. Bukan tidak mungkin kan?" Saran indera.


"Tidak! Yang namanya raja, tidak harus punya musuh. Mereka bisa saja orang yang menculik tuan Puteri, bisa saja karena mencari kekayaan." Sergah Bayu.


"Kalian salah." Ucap Jumantara.


"Jadi apa?" Tanya mereka berdua.


Mereka berempat nampak berpikir. Pikiran mereka kosong. Begitupun dengan Jumantara, ia berusaha menjelaskan apa yang kemungkinan bisa terjadi.


"Tetapi masalahnya tidak sesederhana itu? Jika ini kaitannya dengan musuh kerajaan atau raja, maka penculiknya akan segera menghubungi kerajaan. Jika mereka membutuhkan kekayaan, mereka juga akan menghubungkan pihak kerajaan." Terang Jumantara, yang tidak dimengerti oleh para pendengarnya.


"Tapi masalah apapun bisa terjadi bukan? Bisa karena kekayaan, bisa karena dendam, atau mungkin karena tahta?" Sekali lagi, Bayu mengemukakan pendapatnya.


"Yah, sebaiknya kita cari petunjuk. Kita akan memulai dari lokasi kejadian." Jumantara memandang Indera dan Bayu.


"Desa Papringan." Jawab Indera dan Bayu bersamaan.


"Tapi kita baru saja kesana." Ujar Gemani.

__ADS_1


"Baiklah. Biar aku yang memutuskan. Bagaimana kalau kita ke desa Papringan?" Ungkap Jumantara dengan ekspresi bodohnya.


"Sudah kami katakan tadi." Sahut indera kesal.


"Ooh baiklah baiklah. Mari ke desa papringan." Jumantara melangkahkan kakinya keluar dari desa Guntur.


Bayu dan Indera mengikuti Jumantara dengan dongkolnya. Tidak menyangka, kalau pemimpinnya lebih bodoh dari mereka. Tidak seperti Raditya yang pintar, dengan semua ide ide brilliannya.


"Andaikan pemimpinnya Raditya." Gumam indera yang hanya didengar Bayu.


"Tenanglah... Jika dalam sebulan kita tidak menemukan keberadaan tuan Puteri, kita kembali ke perguruan. Kita akan mengajak Raditya."


"Sebaiknya memang begitu. Baru dua hari, rasanya sangat tidak nyaman." Keluh indera kembali.


Namun Jumantara yang menyadari Indera dan Bayu yang berjalan dengan lambat, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti. Ia melihat Bayu dan indera yang sudah tertinggal jauh.


"Heiy... Apa yang kalian bicarakan? Apakah ketampanan ku?" Ungkap Jumantara menepuk dadanya.


"Br*ngs*k!" Ucap Bayu.


"Tidak Sudi!" Umpat Indera.


Bayu dan Indera, akhirnya menyusul Jumantara dan Gemani yang sudah jauh. Mereka tidak mau kehilangan pemimpin mereka. Meskipun pemimpin itu lebih bodoh dari mereka berdua.


"Permisi paman, apakah di sini masih ada kamar kosong?" Bayu bertanya pada seorang pria paruh baya. Ia pemilik penginapan di desa papringan.


"Kisanak ini?" Sang pemilik penginapan seperti mengingat ingat sesuatu.


Pemilik penginapan memandang empat pendekar tersebut. Ia mengingat dua orang yang bersama Puteri Padmasari tempo hari. Ia mengangguk lalu tersenyum.


"Ada apa paman?" Tanya Bayu.


"Kebetulan kalian berdua datang kemari. Apakah kalian berniat mencari tuan Puteri?" Tanyanya dengan ramah.


"Iya benar. Apa paman mengingat kami?" Indera yang memberi pertanyaan itu.


"Kalian berdua, ohh iya. Kemarin kepala prajurit kerajaan Lokapraja datang kemari. Jika kami melihat kalian, hanya ini yang dititipkan kepala prajurit." Pemilik penginapan, menyerahkan surat kepada Bayu.


"Ini?" Bayu menerimanya dengan bingung. Lalu ia masukan surat itu ke kantongnya.


"Sepertinya mereka menemukan suatu petunjuk. Tetapi entahlah... Mungkin kalian bisa baca surat tersebut. Jika kalian akan menginap, silahkan. Ini kunci kalian. Pihak kerajaan sudah menanggung semua biaya kalian menginap dan makan tiga hari ke depan." Ungkap pemilik penginapan.

__ADS_1


"Baiklah paman. Terima kasih."


Masing masing dari mereka diberi kunci kamar yang berbeda. Mereka pun masuk ke dalam kamar untuk berberes dan mengistirahatkan tubuh mereka.


Malam harinya, tidak terjadi apapun. Mereka tidur dengan nyenyaknya. Dan pagi hari, mereka baru berkumpul di ruang makan. Karena selain penginapan, tersedia juga makanan makanan yang mereka siapkan. Apalagi mereka adalah para pendekar yang digadang gadang akan berhasil menyelamatkan sang Puteri.


"Kalian lihatlah surat ini." Bayu mulai membuka surat yang kemarin diberikan oleh pemilik penginapan.


"Ini?" Indera mengernyitkan matanya. "Ini bukan sebuah tulisan. Tetapi lebih tepatnya adalah sebuah peta. Dan disana terdapat tanda tanda di beberapa titik." Indera menunjuk beberapa tampar yang telah ditandai.


"Betul. Ini sebuah peta. Dan ini adalah markas markas para anggota Tengkorak Abadi." Jelas Bayu.


"Tengkorak abadi? Saya baru dengar itu. Siapa mereka?" Tanya Gemani.


"Tengkorak abadi adalah sebuah asosiasi golongan hitam. Mereka dibayar untuk melakukan kejahatan. Mereka biasa menculik, membunuh, atau membuat orang mengalami cacat permanen." Terang Jumantara.


"Kau tahu juga?" Selidik Bayu.


"Yah sedikit." Sahutnya.


"Kurasa tidak perlu ku jelaskan. Pasti Tuan Puteri berada di salah satu markas mereka." Bayu memandangi wajah datar para rekannya.


"Baiklah. Besok pagi, kita akan berangkat." Ucap Jumantara.


"Hei! Bukankah kita akan berangkat sekarang?" Protes Indera.


"Tidak. Kurasa kita belum memiliki persiapan apapun. Kita tidak tahu apa yang ada di markas mereka. Kita juga belum mempersiapkan rencana. Apakah kita akan kesana begitu saja?" Tanya Jumantara dikhususkan untuk Bayu dan Indera yang mungkin menolak.


"Tapi, bagaimana kita bisa memastikan, kalau tuan Puteri baik baik saja?" Bayu menatap Jumantara untuk memberi jawaban.


"Kau ingat perkataan Nehan kemarin? Ia mengatakan, tidak ingin terjadi apapun pada orang orang yang disayanginya. Untuk mencari keberadaan Puteri Padmasari, kita mungkin akan mengalami dalam bahaya. Dan taruhannya adalah nyawa. Saya sebagai pemimpin, tidak ingin kalian mati sia sia. Saya harus tanggung jawab pada orang tua kalian. Bagaimana cara saya bertanggung jawab?"


Bayu dan Indera terdiam. Omongan Jumantara ada benarnya. Mereka memang siap untuk mempertaruhkan nyawa mereka. Tetapi jika mereka mati, tetapi tidak menemukan sang Puteri, bukankah itu sia sia?


"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Bayu memberi pertanyaan.


"Kita persiapkan mental kita, kita siapkan senjata kita. Dan kita mulai rencana kita. Bagaimana kita masuk ke dalam markas mereka?" Terang Jumantara.


"Baiklah. Kalau begitu, kami akan menurut. Iyakan Bayu?" Indera memandang Bayu. Dan Bayu hanya bisa mengangguk.


"Tetapi, lebih baik, jika kita makan dulu." Jumantara melihat makanan yang datang. Ia tersenyum lebar melihat makanan makanan enak yang dihidangkan olah para pegawai penginapan.

__ADS_1


***


__ADS_2