Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 67 Reksadana Vs Wirata


__ADS_3

Chapt 67


Desa Papringan sedang ramai dengan beredarnya berita bahwa ada seseorang pendekar hebat yang memiliki kesaktian luar biasa. Sayangnya ia adalah seorang pendekar dari golongan hitam. Pendekar itu berada di atas panggung dan menantang siapapun yang bernyali melawannya


Seorang pendekar yang mendapati julukan 'Pendekar Lengan Satu' bernama Wirata. Ia merupakan anak buah dari Ubhaya. Ia sedang mencari lawan yang hebat dan desa Papringan adalah salah satu desa dengan para pendekar pendekar hebat.


Di desa Papringan ini, banyak pendekar pendekar hebat yang melakukan pertemuan. Baik dari golongan hitam atau putih. Desa ini memiliki luas yang setara dengan tiga atau empat desa secara umum. Itulah mengapa para pendekar lebih tertarik pada desa ini. Selain itu, di desa Papringan, tidak ada perguruan silat sama sekali.


"Siapapun yang merasa hebat. Naiklah ke arena pertarungan ini." Wirata mengedarkan pandangannya. Ia menatap tajam dan mengamati para penonton dari atas panggung.


"Bukankah itu pendekar lengan satu?"


"Wah... Dia berada di desa ini."


"Akhirnya bisa melihat secara langsung, pendekar lengan satu."


"Aku takut. Aku lebih baik pulang."


Mereka yang mengetahui sepak terjang pendekar lengan satu itu, banyak yang merasa takut, sebagian memilih tidak ikut campur, ada bagian lain yang merasa takut, ada juga yang ingin menjajal ilmunya.


"Aku menantangmu!" Seorang pemuda menggunakan cambuk, memasuki arena.


Pendekar tanpa lengan tersebut hanya menatap pemuda itu dengan tatapan meremehkan. Siapa yang tidak kenal dengan putera dari pemilik dan pemimpin perguruan 'Kobra Api' yang bernama Reksadana? Yah saat ini ia sudah belajar dari kekalahan sebelumnya dengan Jayasetya.


Bagi Wirata, Reksadana adalah seorang pemuda yang biasa saja. Ia tahu pasti ia adalah salah satu murid perguruan kobra api yang memiliki kemampuan yang bahkan dapat mengalahkan para gurunya. Bagi Wirata, Reksadana adalah pemuda yang tidak akan mengalahkannya.


"Ayo anak muda. Majulah." Wirata tidak menggunakan pedangnya. Menggunakan tangan kanannya. Tanpa menggunakan senjata atau pelindung.


"Baik paman." Sahut Reksadana.


Reksadana maju dan menyerang dengan cambuknya. Namun Wardana dengan mudah mengelak. Tentu cambukan dari Reksadana tidak akan berpengaruh terhadap Wirata. Reksadana pun sudah tahu hal itu.


Reksadana terus menyabetkan cambuknya dari samping kiri, dan Wirata melompati cambuk tersebut. Namun cambuk tersebut mengeluarkan api yang sangat besar. Wirata menangkap cambuk itu.


"Bagaimana bisa? Cambuk api miliku bisa ditangkap tanpa kepanasan?" Pemuda tersebut merasa tidak percaya. Bagaimana bisa, seseorang menangkap cambuk apinya tanpa terbakar atau kepanasan?

__ADS_1


"Tidak berguna!" Wirata menarik cambuk itu, lalu melemparkannya ke udara.


"Apa yang kau lakukan?" Umpat Reksadana.


Wirata menghunus pedangnya. Cambuk api milik Wirata dipotong potong dengan mudah oleh pedang milik Wirata. Tentu saja penonton yang menyaksikan adegan tersebut menjadi terperangah. Begitupun Reksadana yang tidak bisa percaya. Cambuk itu adalah cambuk pusaka yang sangat berharga.


"Anak lemah, senjata ini pun tidak berguna." Ledek Wirata.


"Tidak! Itu senjata paling hebat yang dimiliki kobra api. Untuk membuatnya, membutuhkan harga yang tidak biasa. Dengan cambuk tersebut, kau bisa membeli satu desa." Ucap seseorang penonton yang ternyata adalah guru Reksadana.


Reksadana berlutut di tengah arena. Ia memunguti potongan potongan cambuk tersebut. Cambuk yang bahkan tidak mempan jika dibakar. Cambuk yang mampu menghancurkan batu. Cambuk tersebut juga bisa memotong pedang dengan kualitas terbaik. Namun dengan mata kepalanya sendiri, pedang yang digunakan Wirata dengan mudah memotong motong cambuk Reksadana dengan mudah.


"Kepar*t!" Umpat Reksadana. Ia menggenggam tangannya kuat kuat. Dengan kemarahan yang memuncak.


"Wah... Bagaimana ini?"


"Cambuk itu bisa terpotong dengan mudah?"


"Hebat hebat!"


"Kau hancurkan cambukku!" Kecam Reksadana.


Reksadana tidak dapat mengontrol emosinya. Ini pertama kali ia merasakan amarah yang membuat para penonton menahan nafas. Tidak seperti saat melawan Jayasetya, meskipun ia mengalami luka serius, tetapi ia belum mengeluarkan semua kemampuannya. Maka dari itu, ia belum mau menyerah melawan Jayasetya tempo dulu.


Mungkin dulu Reksadana masih menahan untuk tidak mengeluarkan semua kehebatannya. Tapi sekarang ia merasa kali ini ia harus membunuh Wirata. Reksadana mengalirkan tenaga dalamnya. Menggunakan ilmu yang sangat berbahaya.


Dari tangannya ia mengeluarkan api yang sangat panas. Ia berlari menyerang Wirata. Namun serangannya itu tidak mengenai Wirata. Api yang dikeluarkan lebih berbahaya dari api yang dikeluarkan oleh cambuknya. Karena api ini tercipta dari racun ular kobra yang telah dimasukan ke dalam tubuh Reksadana. Racun tersebut telah menyatu dengan darah Reksadana. Api yang dikeluarkan seiring dengan darah yang mengalir karena Reksadana telah menggores tangannya.


"Kalian para pengguna racun memang sangat aneh." Ungkap Wirata. Ia tidak tahu ilmu apa yang digunakan Reksadana. Tetapi ia tahu, ia harus menghindari serangan Reksadana yang tidak terkendali.


Reksadana menggunakan banyak tenaga dalam dan dengan terbakarnya darah yang telah tercampur dengan racun kobra yang telah menyatu di tubuhnya, ia akan kekurangan banyak darah, jika ia terus menggunakan teknik tersebut.


Sebenarnya yang dilakukan oleh Reksadana adalah menggunakan tenaga dalamnya untuk mengeluarkan api dan membuatnya semakin besar. Darah yang bercampur dengan racun kobra yang telah terkontaminasi itu, membuat api yang diciptakan memiliki daya rusak lebih, dan api itu malah beracun.


"Yaakkh!" Teriak Reksadana menghantam perut Wirata.

__ADS_1


Wirata termundur dengan pukulan dari Reksadana. Kini terasa panas di dadanya, dan baju yang digunakan telah terbakar. Terlihat luka berwarna hitam yang akan menyebar dan bisa mengakibatkan kematian karena racun tersebut telah menyebar di tubuhnya.


"Ini ajian milik perguruan kobra api. Dan ajian ini namanya pun ajian kobra api. Sungguh ajian yang merepotkan." Senyuman bangga tercetak dari seorang pria tua. Ia meninggalkan tempat itu dengan tongkatnya untuk berjalan.


Pria tua tersebut, ternyata menyaksikan pertarungan tersebut. Dan kini ia merasa sesuatu yang menarik. Karena untuk menggunakan ajian tersebut, seseorang harus rela darahnya tercampur racun.


"Matilah kau!" Reksadana tidak memberi ruang pada Wirata. Ia masih menggunakan api di tangannya.


Reksadana kembali menyerang Wirata yang sudah terkena racun yang terus menyebar. Membuat Wirata menghunus pedangnya. Lalu mengarahkan serangan ke arah Reksadana. Namun Reksadana berhasil menghindar. Ia dengan mudah menghindar karena gerakan Wirata melambat karena efek racun telah bereaksi.


Badan Wirata mulai lemah. Sementara racun ditubuhnya terus melebar. Meskipun racun tersebut hanya diluar, efeknya sangat menyakitkan. Kulit Wirata menghitam, dari bagian dadanya dan menyebar ke bagian depan tubuhnya.


Serangan serangan Wirata pun semakin melambat. Ia menyerang sambil menahan rasa perih yang teramat. Namun pendekar satu lengan tersebut masih menyembunyikan kekuatan besar.


Reksadana yang melihat gerakan lawannya melambat, membuatnya semakin senang. Reksadana menyerang dengan api di tangannya. Dan kini ia juga sudah kehabisan banyak darah untuk untuk menggunakan ajian tersebut.


Gerakan kedua pendekar tersebut semakin melambat. Mereka sudah tidak bisa melakukan serangan cepat. Karena mereka sama sama kekurangan banyak tenaga dalam.


"Kau akan mati dengan apiku ini." Reksadana tersenyum senang. Walau ia sudah kehilangan banyak darah, tetapi ia sudah merasa kemenangan ada dipihaknya.


"Jangan senang dulu anak muda." Wirata mendekati Reksadana dan melempar pedangnya ke tanah.


"Apa!" Sebelum berkata lebih lanjut, tubuh Reksadana mematung.


Reksadana merasa tenaganya semakin berkurang dengan pesat. Api yang ditangannya pun sudah sirna. Dan tubuh Reksadana semakin melemah. Dan akhirnya, tubuh pemuda tersebut pun ambruk.


"Ini ajian Waringin sungsang." Ungkap salah satu penonton yang juga tahu mengenai ajian tersebut.


"Tuan!" Seseorang penonton masuk ke dalam arena dan membawa Reksadana dari tempat tersebut.


Sementara Wirata sudah berdiri dengan tegak. Ia sudah menyerap banyak tenaga dalam Reksadana. Namun ia masih merasakan racun ditubuhnya masih bereaksi. Meskipun tidak terlalu cepat seperti sebelumnya.


Racun tersebut masih terus melebar dengan perlahan. Wirata memutuskan untuk keluar dari arena tersebut. Ia terbang dan menuju rumah tabib berada namun rasa sakitnya itu, membuatnya semakin tersiksa.


***

__ADS_1


__ADS_2