Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 91 Hari Eksekusi Penyelamatan


__ADS_3

Chapt 91


Dengan rencana matang, mereka telah menyiapkan semuanya. Mereka menggunakan perangkap untuk menjebak anggota Tengkorak Abadi. Disekitar hutan Tengkorak Abadi itu, mereka telah menyiapkan jebakan. Terdiri dari beberapa dahan kayu yang terpasang dengan tali dari akar-akaran. Adapula beberapa anak panah yang mereka siapkan. Kebetulan mereka melihat tebing tinggi. Maka mereka telah mengumpulkan batu-batu besar, juga kayu-kayu besar keatas tebing.


Inilah hari eksekusi mereka. Rencananya, Bayu dan Indera akan menjadi umpan. Mereka akan mengambil perhatian dari anggota Tengkorak Abadi. Gemani dan Nindiya bertugas menjemput Puteri Padmasari. Sedangkan Raditya dan Jumantara akan mendorong batu dan kayu besar, jika mereka sampai di pinggir tebing.


"Mengapa kita yang harus menjadi umpan sih?" gerutu Indera, saat mereka telah berada di depan markas Tengkorak Abadi.


"Sudahlah, Ndra! daripada kita harus mendorong kayu dan batu besar itu ... pasti batu-batu dan kayu-kayu besar itu sangat berat. Kita hanya memancing mereka untuk sampai di lembah." Bayu melihat kearah markas yang kini dipenuhi penjaga.


Sementara di atas pohon, dua pendekar perempuan, sedang menunggu giliran mereka beraksi. Jika Bayu dan Indera berhasil menarik perhatian para anggota Tengkorak Abadi, mereka akan menyelamatkan Puteri Padmasari.


Bayu dan Indera akan berpura-pura bertengkar dalam semak-semak. Mereka akan bertengkar karena perbedaan pendapat. Dan saat itu, diharapkan para penjaga itu akan fokus kepada Bayu dan Indera. Dan kemungkinan para penjaga tersebut akan mengejar mereka yang berlari, setelah mereka ketahuan.


"Hei! sudah kubilang, kita langsung saja masuk!" teriak Indera yang cengengesan dan berpura-pura bertengkar.


"Hei! apa kau bodoh? kalau kita ketahuan gimana?" sahut Bayu dengan suara kerasnya. Ia pun menutup mulutnya yang tidak bisa menahan tawanya.


"Hihihi ..." tawa Indera dengan suara dibuat sekecil mungkin.


"Hustt ... jangan berisik!" pinta Bayu yang juga menahan tawa karena tingkah sahabatnya itu.


Dan seketika, para penjaga itu pun mendengar teriakan kedua pemuda tersebut. Mereka pun bisa dengan jelas, para penjaga itu sedang mencari keberadaan mereka.


"Cepat cari! mereka mungkin akan menyelamatkan Puteri Padmasari!" perintah kepala penjaga.


"Baik tuan!" jawab beberapa penjaga.


"Hei! dengar yah!" teriak Bayu dengan nada membentak.

__ADS_1


"Aku yang memutuskan semuanya!" lanjutnya dengan nada yang sama tinggi.


"Hei, hei, hei! kau bukan pemimpinnya! aku akan membebaskan tuan Puteri sendiri!" sahut Indera dengan lantang.


Dan benar saja. Akhirnya para penjaga itu menemukan Bayu dan Indera. Seakan masuk jebakan, lebih dari sebagian prajurit telah mengepung Bayu dan Indera.


"Hahaha ... kalian memang sangat bodoh!" ejek salah satu pemimpin mereka. Tetapi bukan pemimpin tertinggi. Lebih tepatnya adalah wakil pemimpin. Karena pemimpin sebenarnya sedang berada di dalam markas.


"Ini semua karena salahmu!" bentak Indera pada Bayu untuk membuat mereka yakin. Mereka sedang bertengkar karena perbedaan pendapat.


"Tidak! ini gara-gara ulahmu!" balas Bayu dengan lantangnya.


"Hei ... bukankah kalian yang berteriak-teriak? berarti kalianlah yang telah menyerahkan nyawa kalian pada kami!" ucapnya dengan senyuman liciknya.


"Habisi mereka!" perintahnya pada para penjaga.


Dan inilah yang telah direncanakan mereka. Karena lebih dari separuh orang telah bersiap-siap menghabisi Bayu dan Indera. Bayu dan Indera pun berlari dengan cepat. Dan saat itu pula, puluhan orang yang tersisa saat pembantaian kemarin, dengan nafsu membunuh mengejar Bayu dan Indera.


Namun langkah Bayu dan Indera belum terhenti sebelum memancing mereka ke lembah. Puluhan orang tersisa pun masih tetap mengejar mereka. Karena mereka sudah tahu, Bayu dan Indera akan terjebak di tebing. Mereka tidak tahu, jika tebing itu telah diberi jebakan. Ketika Bayu dan Indera telah sampai di depan tebing, mereka akan melihat tali, yang bisa membantu mereka naik ke atas tebing. Dan saat mereka berhasil sampai di puncak, para anggota Tengkorak Abadi telah berada dalam jebakan mereka. Karena Jumantara dan Raditya akan menggulingkan batu dan kayu besar.


***


Nindiya dan Gemani yang melihat semua penjaga pergi jauh, saling mengangguk dan terjun dari atas pohon.


"Apakah kita akan berhasil?" ucap Gemani meminta pendapat Nindiya.


"Kita pasti akan berhasil!" jawab Nindiya yakin. Ia berlari mengimbangi Gemani.


Keduanya berhasil sampai di markas Tengkorak Abadi. Namun mereka melupakan sesuatu. Pemimpin Tengkorak Abadi ternyata masih ada di dalam. Gemani juga Nindiya baru menyadari ketika sang pemimpin Tengkorak Abadi telah berada di depan mereka.

__ADS_1


"Mau apa kalian, gadis-gadis manis? mau mencoba menyelamatkan tuan Puteri kalian? hehh ..." ejeknya dengan senyuman menyeringai.


"Ternyata dia ada di sini!" Gemani mengedarkan pandangan ke segala arah. Dan ternyata ada belasan orang bertubuh kekar bermunculan.


Nindiya dan Gemani saling berpandangan. Mereka menganggukan kepala. Bersiap bertahan maupun menyerang. Seorang pria berotot menyerang dari depan Nindiya. Nindiya menepis tendangan tersebut dengan tangannya. Saat kaki pria tersebut berada di genggaman Nindiya, seorang lagi datang menyerang. Kemudian Nindiya melemparkan pria yang dipegang pergelangan kakinya ke arah penyerang, yang belum sempat mengenainya. Alhasil, dua orang telah tersungkur ke tanah.


Dua pendekar menyerang Gemani dari samping kiri dan samping kanan. Mereka melancarkan serangan dengan pisau kecil. Gemani mengelak dan hanya mengenai udara kosong. Gemani mencoba menendang seorang pendekar, tetapi pendekar pria itu menghindar.


"Hayo gadis-gadis manis ... menyerahlah kalian! mungkin dengan menyerah, kalian akan mendapatkan hidup dengan baik," ucap seorang pendekar yang membawa tongkat besi.


Baik Gemani dan Nindiya terus bertarung dengan mereka. Bertukar beberapa jurus tendangan, tinjuan dan beberapa tusukan senjata tajam yang tidak mengenai sasaran.


Nindiya dengan mudah mengalahkan para pendekar pria. Sedangkan Gemani nampak kesulitan, karena lawannya menggunakan senjata tajam. Ditambah lagi, seorang yang membawa tongkat besi yang berhasil mengenai tangan Gemani.


"Ini tidak bisa di biarkan." Nindiya bergerak lebih cepat. Ia bergerak sampai tidak terlihat oleh mereka.


Para pendekar yang kebingungan pun, terkena beberapa serangan Nindiya tanpa bisa mengetahui arah serangan itu. Tiba-tiba saja, mereka telah tersungkur di tanah. Dengan beberapa bagian tubuh mereka yang sakit.


"Ajian Sepi Angin? ternyata ada seseorang yang mampu menggunakan ajian tersebut." Nampak tercengang salah seorang yang mengetahui ajian yang digunakan Nindiya.


"Dia bukanlah lawan kita!" teriak seorang yang telah mengalami tulangnya remuk, karena serangan cepat di persendiannya.


Beberapa umpatan kasar pun terdengar dari mulut mereka. Karena mereka tidak mengetahui lawannya sebelumnya. Memang beberapa orang yang bertugas menjaga Puteri Padmasari akan berada di markas. Mereka tidak ingin kehilangan tawanan mereka. Sehingga mereka yang ada di markas, belum melihat kemampuan Nindiya.


Kini mereka yang mengetahui bahwa salah memilih lawan pun sudah pasrah. Jika mereka mati pun sampai tidak bisa membuat rasa penasaran itu terjawab.


Sebagian orang menyangka, kalau ajian Sepi Angin adalah ilmu yang digunakan untuk melarikan diri. Tetapi jika pengguna ajian tersebut adalah orang yang cerdas, mereka akan mengembangkannya, sehingga menjadi serangan yang mematikan. Apalagi jika ada seseorang yang berhasil menggabungkan ajian Sepi Angin dan ajian Lembu Sekilan. Siapapun orangnya, adalah orang yang tidak mudah dikalahkan. Karena selain memiliki kecepatan luar biasa, ia juga akan memiliki kekebalan dan juga kekuatan pukulannya yang mampu membuat lawan mati seketika.


Namun Nindiya sudah sangat hebat, walaupun hanya menguasai ajian Sepi Angin. Cukup dengan itu, sudah membuatnya sangat ditakuti oleh pendekar hebat sekalipun.

__ADS_1


Semua pendekar yang terluka pun lebih memilih untuk melarikan diri. Mereka tidak ingin berurusan lagi dengan pengguna ajian tersebut. Hanya tersisa seseorang yang merupakan pemimpin mereka. Dengan memanfaatkan kalung tengkoraknya, ia yakin akan bisa menghadapi Nindiya.


***


__ADS_2