
Purwa yang memegangi kepalanya yang sakit, mengikuti Sakha yang berlari menuju sungai. Mereka menceburkan diri ke dalam sungai yang agak dalam.
"Awas ada buaya!" teriak seorang entah dari arah mana. "Minggir ada dua buaya. Lari jauhi sungai!" lanjutnya.
Suara teriakan seseorang dari balik semak-semak, membuat Purwa dan Sakha panik. Keduanya terburu-buru berenang ke tepian. Dengan cepat, mereka tidak berpikir tubuh mereka masih kotor, karena lumpur itu masih menempel.
"Lari!" pekik Sakha dengan nafas ngos-ngosan. Ia berlari dengan tersenggal. Karena terlalu panik, tidak bisa berlari dengan benar.
"Waah ... buaya!" Sama seperti Sakha, Purwa pun berlari walau sudah ngos-ngosan. Rasa takutnya semakin menjadi setelah mendengar ada dua buaya di sungai.
"Awas, dua buaya darat keluar dari sungai!" teriak seseorang lagi dari semak-semak.
Tentu mereka yang mendengar pun berlari semakin cepat, hingga Sakha menyadari sesuatu. Di sungai tempat mereka mandi, tidak ada buayanya. Mengapa ada orang yang berteriak demikian? Dan suara itu tidak asing bagi mereka.
"Sialan! Nehan, kau menipu kami!" umpat Sakha yang berhenti berlari. Ia menyadari kalau dirinya telah ditipu lagi. Maka ia semakin menaruh dendam terhadap Nehan.
"Dimana ada Nehan? Ayo lari!" ajak Purwa yang belum menyadarinya. Ia berusaha menarik Sakha yang berhenti berlari. "Ayo cepat! Nanti kita dimakan buaya darat!" seru Purwa.
Selain memiliki Nehan yang menjadi musuhnya, Sakha juga memiliki teman yang pelupa seperti Purwa. Ia merasa dunianya dipenuhi orang-orang aneh di sekitarnya. Amarahnya semakin menjadi karena ia hanya bisa bermain dengan Purwa untuk mengerjai Nehan.
"Tidak ada buaya di sungai ini, bodoh! Kita telah ditipu tabib gila itu!" makinya pada Purwa yang belum paham juga.
"Hah?" Purwa belum mengerti, tetapi ia berhenti dan melihat ke belakang. Tentu saja ia tidak melihat buaya di sekitar tempat tersebut. "Di mana buayanya?"
__ADS_1
"Sialan! Entah mengapa aku memiliki teman yang bodoh sepertimu, sih?" umpat Sakha dengan kesal. Ia kesal sekesal-kesalnya hingga ingin membenturkan kepala Purwa ke batu.
"Apa kau bilang, aku bodoh? Jangan menghinaku! Kau yang bodoh," balas Purwa dengan kesal juga. "Kalau bukan karena kamu, kita tidak mungkin dibodohi oleh Nehan."
"Hahaha ... kalian berdua memang bodoh. Hahaha!" ejek Nehan sambil mentertawakan keduanya.
Sakha dan Purwa mencari sumber suara. Melihat kearah Nehan yang berdiri tidak jauh dari mereka. Mereka berdua merasa geram karena telah dibodohi oleh seorang tabib gila seperti Nehan. Terbukti mereka telah kalah. Dalam ilmu jebak-menjebak, lebih ahli Nehan daripada kedua bocah usil tersebut.
Nehan meninggalkan kedua pemuda yang memendam amarah kepadanya. Meskipun Nehan tahu, kedua orang itu akan kembali membuat ulah padanya. Dilain kesempatan, ia harus lebih waspada lagi. Bukan tidak mungkin, dilain waktu, ia yang mengalami kekalahan selanjutnya.
"Eh, ada dua gadis cantik, di sini? Hehehe ... akhirnya aku mendapatkannya," ucap Nehan dengan senyum mengembang.
Dua orang pendekar wanita sedang berjalan menyusuri jalan setapak. Mereka terlihat sebagai pendekar yang hebat dengan pedang yang ada di tangan. Terlihat wajah mereka juga cukup cantik. Sehingga mampu membuat Nehan tertarik.
"Hei, hei, hei ... kalian berdua?" sapa Nehan dengan tatapan menggoda. "Bolehkah saya temani dalam perjalanan cinta kalian, dua gadis manis?" Nehan mengeluarkan kata-kata sebagai rayuan mautnya.
"Ciih ... kenapa ada orang tidak waras di desa seperti ini? Merepotkan saja!" ejek salah seorang pendekar wanita yang bernama Kenanga.
"Tenang, Kak. Bagaimana jika aku yang membereskannya?" usul seorang pendekar gadis yang terlihat lebih muda. Dia adalah adik perguruan Kenanga yang bernama Sekar Arum.
"Hemmm ... membereskannya? Kau pikir aku apaan? Aku hanya seorang musafir yang tersesat, di gurun asmara yang kering tanpa air surga yang membasahi tenggorokan yang ditempuh untuk mencerna rasa cinta ini. Baru saja aku melihat dua bidadari datang padaku." Nehan mendekati keduanya.
"Dasar pemuda gila! Otaknya pasti sudah gila!" umpat pendekar wanita yang terlihat lebih tua dari Nehan. Dia adalah salah seorang pendekar wanita dari perguruan Bukit Lebah Hitam.
__ADS_1
Sebuah perguruan yang berada di atas bukit yang dipenuhi dengan lebah berwarna hitam. Perguruan tersebut, adalah perguruan pencak silat yang hanya memiliki sembilan anggota, termasuk guru dan murid. Tidak banyak orang mengetahui rahasia perguruan tersebut. Hanya saja, konon perguruan itu hanya berisi wanita yang masih terjaga kesuciannya. Apabila wanita itu melepaskan kesuciannya, maka lebah-lebah itu akan menyerangnya sampai mati jika mendekati bukit lebah tersebut.
"Sepertinya kau salah satu manusia yang bosan hidup, hemmm?" telisik Kenanga dengan geram. Ia memandang tabib gila itu dengan perasaan marah dan benci. Apalagi ia sebelumnya tidak pernah melihat lelaki selama di perguruannya belajar bela diri.
"Hei ... kau salah besar. Aku masih ingin menikmati hidup yang indah bersama kalian tentunya ..." balas Nehan dengan senyum mengembang. Pikiran liarnya kini telah dipenuhi hasrat untuk kesenangannya. Menggoda wanita adalah hobinya saat ini.
Tidak disangka, kedua pendekar itu adalah pendekar yang mampu membuat Nehan tertarik. Apalagi jika keduanya masih terlihat muda. Nehan akan maju terus tanpa takut mundur. Walau ilmu Nehan tidak bisa digunakan untuk bertarung, otak cerdas yang dimiliki, menjadi senjata utamanya.
"Maka, kau sudah bosan hidup!" umpatnya sambil menghunuskan pedang ke arah Nehan.
"Andaikan kamu tahu, aku hanya ingin hidup bahagia. Menaungi setiap lembah dan bukit cinta yang kita jalani. Ku terdiam meniti sepi malam, menyambut dua orang gadis berparas jelita mendekap tubuhku mesra, oohh betapa indahnya dunia ini." Nehan seakan-akan memeluk kedua wanita itu sambil terpejam.
"Selain gila, ternyata kamu juga mesum! Lelaki seperti kamu, memang pantas untuk mati. Biar buat makanan lebah hitam kami, hahaha!" tawa lantang Kenanga.
"Oh, aku mau dibunuh? Tapi jangan kamu bunuh perasaan ini untukmu. Karena aku tiada mungkin bisa merelakan hidup tanpamu. Mungkin kah takdirku harus mati? Oh, bukankah kalian membutuhkan pelukan cintaku? Marilah kita bercinta, Sayangku!"
"Benar-benar bosan hidup. Orang ini memang pantas mati, Kak!" seru Sekar yang memandang ke arah kakak seperguruannya.
"Kamu benar, Adik. Dia memang harus mati di pedang kita!" Dengan kekuatan mereka, tidak sulit untuk membunuh, walau mereka bukanlah pembunuh. Mereka hanya terpancing emosi sampai ada niat untuk membunuh seseorang. Seseorang itupun merupakan orang biasa tanpa bisa bertarung.
Nehan semakin tersenyum sumringah, melihat kedua wanita tersebut menghunuskan pedang ke arahnya. Tidak ada rasa takut sama sekali, bahkan ia semakin semangat untuk menggoda kedua pendekar wanita, yang bisa dengan mudah mencabut nyawanya.
Kedua pendekar tersebut melayangkan serangan dengan pedang mereka, dan mengarahkan ke tubuh Nehan. Tapi pemuda itu tidak bergerak sama sekali, bahkan ia mempersilahkan serangan itu jika menembus tubuhnya.
__ADS_1
***