Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 35 Racun Di Tubuh Nehan


__ADS_3

Chapt 35


Nindiya membantu Nehan untuk berjalan dengan memapahnya. Tangan kanannya ia gunakan untuk memapah, namun kanan kirinya membawa pedang.


"Nindiya." Nehan menengok kearah Nindiya.


"Iya." Ia memperhatikannya lalu tangan kirinya yang memegang pedang diarahkan ke pundak Nehan.


"Kau bisa mengangkat pedang ini?" Nehan melihat, pedang bumi berada di atas pundaknya karena tangan Nindiya memegang pundaknya.


"Ehh... Bukankah ini hanya pedang? Maaf, apa aku nggak boleh?" Tanyanya. Karena mungkin pedang tersebut adalah pedang yang istimewa.


"Tidak tidak. Bawa aku ke kamar. Aku harus beristirahat. Racun dalam tubuhku masih tersisa."


"Iya."


Nindiya tidak tahu apa apa. Racun atau apalah itu. Yang dia tahu, Nehan wajahnya terlihat pucat. Entah racun apa yang membuat Nehan seperti itu. Nehan berbaring di tempat tidurnya. Nindiya duduk disebelahnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Nindiya meletakan pedang bumi di tempat yang Nehan biasa meletakkannya.


"Iya. Aku perlu mengidentifikasi racun ini. Tolong panggilkan Kirana. Eh tidak. Mereka sedang terluka. Apa kau bisa menyalurkan tenaga dalam?"


"Bagaimana caranya?" Nindiya nampak bingung. Ia belum berlatih menyalurkan tenaga dalamnya. Ia hanya belajar menyerap tenaga dalam dari kakeknya.


"Sudahlah. Tubuhku sangat lemas. Kau buatkan saja teh untukku." Lirihnya pelan.


"Baiklah." Nindiya menyelimuti Nehan yang kini terlihat sangat pucat.


Nindiya keluar dan mencari teh ke arah dapur, dilihatnya orang orang yang terluka. Mereka nampak kelelahan karena bertarung dengan para ninja yang tiba tiba menyerang. Tetapi mereka yang melihat Nindiya masih segar bugar, membuat mereka bertanya tanya.

__ADS_1


"Bagaimana Nehan?" Pertama kali Gayatri yang bertanya. Ia paling mengkhawatirkannya. Namun sayangnya. Ia tidak bisa berbuat apapun.


"Entahlah bibi. Aku tidak tahu."


"Tapi ini aneh. Kau tidak nampak lelah sama sekali." Dewandaru, sang tabib terhebat menyadarinya.


Dewandaru tidak pernah melihat pendekar manapun yang setelah bertarung lama namun tenaganya masih segar. Dan sebelumnya ia hanya mengenal seseorang yang memiliki tenaga dalam bahkan ilmu Kanuragan yang berbeda dari orang lainnya.


"Mahadri. Tolong jelaskan sesuatu." Tabib sepuh itu menatap seseorang yang mungkin tahu alasannya. Ia menduga duga seseorang ada hubungannya dengan Nindiya.


"Yah seperti dugaanmu. Aku tidak bisa menyembunyikannya darimu." Ungkapnya lalu memalingkan wajahnya.


"Sudah kuduga. Dan ini sangat kebetulan. Benar benar pasangan yang sempurna. Akhirnya pedang langit dan pedang bumi akan bersatu. Kuharap harapanku ini bukanlah semu belaka." Ia menerawang menatap langit langit rumah. Yang terlihat, beberapa sarang laba laba yang belum sempat dibersihkan.


"Kau yang mengatakannya. Aku tidak tahu apa apa." Mahadri bangkit dari duduknya.


"Baiklah baiklah. Lebih baik kita periksa muridmu itu. Kuharap dia baik baik saja."


Yang berada di ruangan itu yang tidak tahu apa apa, hanya bisa diam. Mereka lebih memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Kirana memilih untuk mengantarkan Gayatri ke kamarnya. Sementara Indra dan Bayu menuju ke tempat Raditya bersama putri Padmasari. Nindiya meneruskan langkahnya menuju dapur.


"Benarkah ini hanya luka dari racun? Bukan dari pedang itu?" Mahadri menunjuk pedang yang berada tidak jauh dari tempat tidur.


"Kurasa demikian. Karena aku tidak merasakan keanehan dari tubuhnya. Hanya ada racun yang telah menyebar. Menurut perkiraan ku, pedang itu pun ikut berkontribusi dengan racun."


"Maksudmu?"


Dewandaru melihat luka yang ia yakini dari senjata yang mengandung racun.


"Sebelumnya mungkin ia terkena racun. Lalu ia menggunakan pedang itu. Tetapi pedang itu malah mempercepat racun menyebar."

__ADS_1


"Apa dia tidak apa apa?"


"Yah untuk saat ini, dia tidak apa apa. Racun ini pun tidak terlalu berbahaya jika kita menolongnya segera. Kau jaga disini. Tetapi jangan salurkan tenaga dalammu. Karena akan berbahaya."


"Baiklah." Mahadri menghela nafas kasar. Ia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu.


Tabib sepuh itu keluar untuk meracik obat guna menawarkan racun yang telah menyebar di tubuh Nehan.


'Apakah dunia sesempit ini? Atau ini sudah takdir? Sudahlah... Ini mungkin takdir Sang Maha Kuasa.'


"Kakek." Nindiya berdiri di belakang Mahadri.


"Iya." Ia segera bangun dari duduknya yang berada di tepi ranjang.


"Apa Nehan baik baik saja?" Tanyanya. Ia memandangi kakeknya yang terlihat gusar karena merasa tidak bisa melakukan apapun.


"Dia baik, cucuku. Bagaimana denganmu?"


"Aku baik kek." Nindiya segera menghampiri Nehan.


"Ah iya. Kau seperti ayahmu."


"Kakek."


"Sudah. Jangan diingat. Kalian harus saling menjaga. Sekarang kau tanggung jawab suamimu. Kau jaga dia."


Mahadri keluar dari kamar. Nindiya duduk dan menatap wajah pucat milik pemuda yang telah menjadi suaminya itu. Ia menyentuh wajah Nehan dengan lembut.


"Suami." Nindiya tersenyum, ia tidak menyangka harapannya telah terwujud. Memiliki seorang suami adalah harapannya dari dulu.

__ADS_1


***


__ADS_2