
Chapt 90
Seorang pemuda melompat dari pohon ke pohon. Dengan ilmu meringankan tubuh, ia dengan cepat menuju di tempat yang jauh. Setelah mendapatkan informasi tentang keadaan sebenarnya, Raditya pun bergegas menjari dimana Bayu dan Indera berada.
Sudah sebulan berlalu, Raditya kini sudah sembuh total. Bahkan ia merasa lebih baik dari biasanya. Tenaganya meningkat dengan baik dan pesat. Saat ini ia sudah tidak terlalu jauh dari markas Tengkorak Abadi.
"Semoga ini belum terlambat." Raditya mengedarkan pandangannya saat berada di atas pohon paling tinggi. Dan ia melihat kepulan asap yang lokasinya tidak terlalu jauh.
Setelah mengukur jarak yang harus ditempuh, ia memastikan senjata yang ia bawa. Diantaranya adalah dua busur panah dan anak panahnya juga. Ia juga membawa pedang untuk berjaga-jaga, jika anak panahnya habis.
Tidak perlu waktu lama, Raditya telah sampai di lokasi asap putih yang mengepul. Pandangannya tertuju pada seorang perempuan cantik yabg sedang duduk sendiri di atas batu. Perempuan itu pun melihat Raditya. Yah, dia Nindiya. Walaupun Raditya baru bertemu dengan Nindiya dua kali, ia pun masih mengingatnya. Bagaimana ia bisa lupa dengan perempuan yang dianggap gila itu. Perempuan yang bahkan membuatnya gila. Karena selalu berada di pikirannya.
"Kau?" tunjuk Raditya pada Nindiya. Ia bahkan hanya terpana dengan penampilan Nindiya yang lebih cantik dari sebelumnya.
"Iya?" jawabnya dengan penuh tanya. 'Bukankah pemuda itu sedang berada di perguruannya? kenapa ada di tempat seperti ini?' batin Nindiya.
"Kau bukannya ..." ucapnya tertahan karena ia menyadari, Bayu dan Indera telah melihatnya.
"Heh, Raditya! kenapa kau ada disini?" Indera melihat arah tatapan mata Raditya. Ia tahu, Raditya sedang bernostalgia dengan masa lalu.
Bayu yang melihatnya pun berpikiran sama dengan Indera. Kedua sahabat Raditya itu sudah tahu, dan merasakan ada hati yang mungkin akan tersakiti. Entah hati siapa itu. Mungkin hati Raditya, atau hati Tantri nantinya. Mengingat Tantri adalah perempuan yang selalu mengejar-ngejar Raditya. Sedangkan Raditya mungkin menaruh hati dengan Nindiya. Tetapi bagaimana jika ia tahu kalau Nindiya telah berstatus sebagai seorang isteri?
"Kalian beraninya membohongiku!" Raditya menunjuk dua sahabatnya dengan geram. Ia tidak menyangka, mereka meninggalkannya sendiri. Sementara biasanya mereka selalu bersama. Tetapi selama sebulan ini, ia berada dalam perguruan untuk menyembuhkan diri.
"Jadi kau sudah tahu yah?" jawab Indera polos. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ini semua untuk kebaikanmu juga. Kami tidak ingin kau memikirkan ini semua. Tetapi kulihat kau sudah sembuh bukan?" elak Bayu dengan senyum bersalahnya.
"Baiklah ... tapi jangan ulangi lagi. Kalian membuatku khawatir. Dan tolong kalian jelaskan semuanya!" pinta Raditya.
"Baiklah! mari kita bergabung. Aku perkenalkan dengan teman baru kami." Bayu merangkul Raditya. Dan ia sedikit terganggu dengan dua busur panah yang dibawa Raditya.
__ADS_1
Mereka pun mengenalkan Raditya dengan Jumantara, Gemani dan juga Nindiya. Mereka pun nampak akrab sebagai kawan baru. Terlihat saat Jumantara dan Raditya saling menyapa. Namun tidak untuk Raditya dan Nindiya. Mereka hanya saling memberi senyuman. Tidak menyangka, Raditya bisa berjumpa lagi dengan Nindiya.
"Eh ... bagaimana kau bisa tahu keberadaan kami?" tanya Indera kemudian.
Raditya yang hanya fokus melirik Nindiya pun terperanjat. Ia sadar, ada temannya yang tersenyum karena tingkahnya itu.
"Hayo jangan ngelamun!" goda Indera dengan senyum menyeringai.
"Eh enggak! oh kau ngomong apa tadi?" sergahnya. Ia merasa gugup dan sedikit menahan malu.
"Kamu kenapa bisa tahu keberadaan kami?" ulang Indera dengan pertanyaan yang sama.
"Ooh ... itu. Kemarin dapat info dari seseorang yang memakai topeng. Sebenarnya aku sudah dua hari mencari kalian. Tetapi tidak ketemu juga. Dan tiba-tiba, kemarin pemuda bertopeng, memberi tahuku. Kalau kalian berada di daerah ini." Raditya menerangkan dengan seksama.
"Oh, baiklah. Tetapi kenapa kau tidak langsung menemui kami?" tanya Bayu.
"Kemarin hari sudah malam. Jadi saya memutuskan untuk menemui kalian pagi ini. Tidak mungkin kan, malam-malam mencari orang?"
"Sudah, Bay. Aku sudah bisa membantu kalian. Ayo kita cari tuan Puteri bersama!"
"Eh, apa kalian tidak melihat, ada pria tampan di sini? hello ... ini saya masih pemimpin kalian, bukan?" Jumantara yang merasa dikucilkan pun menyuarakan aspirasi yang tidak berharga itu.
"Maaf, pemimpin kita secara resmi diganti! sekarang Raditya yang memimpin kita." kata Indera dengan bangga.
"Si*lan!" umpat Jumantara.
Namun mereka tidak peduli. Jumantara pun merasa diabaikan oleh Bayu dan Indera yang memilih untuk memihak pada Raditya sebagai pemimpin baru.
"Sudahlah. Lebih baik kau yang memimpin. Jadi apa rencana kita selanjutnya?" Raditya menatap Jumantara. Berharap mendapatkan jawaban darinya.
Jumantara yang bingung pun tidak bisa menjawab. Ia teringat ucapan Narendra kemarin. Dimana ia harus menyusun rencana yang baik. Sementara rencana sebelumnya mereka tidak pernah gagal. Hanya saja, saat ini mereka berhadapan dengan pemimpin Tengkorak Abadi secara langsung. Dimana kekuatannya lebih hebat dari para pemimpin cabang yang telah mereka bantai sebelumnya. Sebelumya mereka berhasil memenangkan beberapa pertarungan hanya dengan mengandalkan kemampuan bela diri mereka. Namun tidak untuk saat ini. Keadaannya masih belum pulih total. Sehingga mereka pun tidak bisa berbuat banyak.
__ADS_1
Melihat Jumantara terdiam, Raditya berpikir kalau Jumantara tidak memiliki rencana apapun. Sementara ia teringat dengan ucapan pemuda bertopeng yang memberinya sebuah botol berisi ramuan.
"Oh ... mungkin kalian belum pulih dari cidera yang kalian alami. Tetapi ini mungkin bisa membantu." Raditya mengambil botol kecil tersebut dari sakunya.
"Apa itu?" sahut Bayu.
"Ini adalah ramuan herbal yang diberikan oleh pemuda bertopeng itu. Dia mengatakan, dengan ramuan ini, kalian akan segera pulih."
"Orang itu bahkan punya ramuan seperti itu? apakah dia sebenarnya ...." Bayu tidak meneruskan kalimatnya. Karena ia teringat dengan Nindiya. Ia tidak ingin mengatakan kemungkinan pemuda bertopeng itu adalah Nehan yang mengubah namanya menjadi Narendra.
"Sebenarnya dia siapa?" tanya Nindiya tiba-tiba.
"Ehh ... tidak. Mungkin dia orang yang tahu tentang ramuan," jawab Bayu dengan tampang bersalahnya.
"Ooh ...."
Singkat cerita, mereka pun memutuskan untuk mendiskusikan rencana mereka. Semenjak adanya Raditya, rencana mereka terkesan bijak dan tidak terlalu bar-bar. Mereka berniat membuat jebakan di daerah hutan ini. Mereka akan memancing anggota tengkorak abadi untuk mereka jebak.
Diskusi mereka berakhir setelah merasa yakin, usaha yang disusun akan berjalan dengan sempurna. Mereka akan segera mendapatkan hasil rencana mereka.
"Baiklah! mari kita lakukan! ikuti saya ke sungai!" ajak Jumantara kepada Gemani. Karena ia tahu, hanya gadis itu yang mau mengikutinya. Ia sadar, kalau Bayu dan Indera telah menemukan panutannya.
Bayu dan Indera pun segera pergi dengan membawa pedang yang mereka minta ke Raditya. Sementara Raditya bingung, sekarang hanya tinggal dirinya dan Nindiya. Suasana canggung terasa diantara keduanya.
"Benar ... namamu Nindiya?" tanya Raditya gugup.
"Iya," jawabnya singkat.
Baik Bayu, Indera, serta Jumantara tidak memberitahukan status Nindiya yang telah menjadi seorang isteri. Sehingga Raditya saat ini masih menganggap Nindiya sebagai seorang gadis. Ia juga bingung, bagaimana harus membuang kecanggungan mereka. Hingga pada akhirnya, mereka bekerja secara diam.
***
__ADS_1