
Chapt 52
Pagi hari, Bayu yang baru bangun dari tidurnya. Semalam ia tidur sangat nyenyak. Tidak seperti hari hari sebelumnya. Bayu membangunkan indera.
"Indera, bangun. Ini sudah pagi."
"Hoamm..." Indera menguap.
"Dasar."
Keduanya keluar dari tenda. tampak para prajurit tiduran di tanah. Bayu dan indera mendekati mereka. Dan ternyata mereka benar benar tidur. Mereka segera dibangunkan.
"Puteri!" Teriak salah seorang prajurit yang memasuki tenda Puteri Padmasari.
"Ada apa?"
"Puteri hilang. Ayo cari."
Mereka semua panik mencari keberadaan Puteri berada. Mereka saling berpencar untuk mencarinya sampai menyebar di seluruh desa.
Seharian mereka mencari sang Puteri, namun mereka tak kunjung menemukannya. Mereka lupa akan diri mereka untuk makan minum. Seluruh desa mereka cari cari, namun hasilnya tetap nihil.
"Sepertinya ini penculikan. Tetapi kemana tuan Puteri akan dibawa penculik itu?" Duga pemimpin prajurit.
__ADS_1
"Apakah tidak ada petunjuk? Mungkin benda yang ditinggalkan penculik itu?" Bayu memastikan, mungkin para prajurit menemukan sesuatu.
"Kurasa tidak? Tetapi mengapa para prajurit tidur begitu saja di tanah? Selain itu, mereka tidak terluka sedikitpun. Mungkin pelakunya menggunakan asap penghilang kesadaran, atau sejenisnya." Indra berpendapat.
"Yah. Itu mungkin saja." Sahut Bayu.
"Tetapi untuk saat ini, kami belum menemukan sesuatu yang mencurigakan. Penculik tuan Puteri ini sungguh merepotkan." Kepala prajurit itu berpikir sambil mondar mandir.
Ketiganya sudah lelah. Apalagi para prajurit yang sudah mencari keberadaan Puteri Padmasari dari pagi hingga sore hari. Entah apa tujuan mereka menculik Puteri Padmasari. Mungkin dendam kah? Atau memang mencari keuntungan pribadi? Emas atau barang berharga lainnya.
Yang jelas, mereka akan tahu hal sebenarnya. Ini hanya menyangkut soal waktu. yah, biarlah waktu yang akan menjawab semua itu.
"Bagaimana kita menjelaskan pada raja kita? Aku tidak ingin raja, kecewa padaku dan prajurit. Kami sudah lelah." Keluh sang kepala prajurit.
Kehilangan Puteri kerajaan adalah sesuatu yang menghebohkan. Tidak begitu lama, kabar itu gonjang ganjing tersebar ke warga sekitar. Tentu ini akan menjadi pukulan telah bagi raja, jika ia mendengar putrinya telah diculik.
"Kita tidak mungkin bisa menyembunyikan kebenaran. Tetapi aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan. Mungkin hukuman telah menanti kami. Kami hanya prajurit biasa. Kami memiliki anak isteri juga." Keluh salah satu prajurit.
"Iyah... Kita orang rendahan begini. Kita harus bertahan hidup juga sulit." Tambah lainnya.
Bayu dan indera yang mendengarnya pun merasa iba. Hei, bukankan mereka juga terlibat? Apalagi mereka adalah orang yang juga bisa dikatakan bertanggung jawab atas semua ini.
Bayu dan indera masuk ke dalam tenda. Mereka melihat Raditya yang belum bangun juga. Sahabat mereka ini adalah yang tercerdas diantara mereka. Jika ia bangun, mungkin bisa mencari solusi. Akan tetapi ia pun terluka. Seharusnya perkataan Nehan itu benar. Hari ini Raditya akan bangun.
__ADS_1
"Bukankah tabib itu mengatakan, kalau Raditya akan bangun hari ini?" Bayu menatap Raditya. Ia bergumam sendiri yang tentu didengar sahabatnya, indera.
"Yah. Mungkin ia salah mengira. Tabib sekalipun, dia juga manusia. Setidaknya aku berharap, ini akan baik baik saja."
"Sampai kapan kita harus menunggu? Ah sepertinya kita pun tidak bisa terlepas dari masalah ini. Karena kelalaian kita ini."
"Jangan salahkan diri. Lebih baik kita berusaha." Ungkapnya, namun hatinya resah.
"Yah. Kau bisa mengatakan demikian. Tetapi kita tidak bisa berbuat apapun. Kutahu kau juga gusar. Kita tahu semuanya begitu."
"Aku hanya ingin menyemangati diri sendiri. Apa salah?" Indera bertanya, entah pada siapa. Lebih tepatnya pada diri sendiri.
Keduanya terduduk lesu memandangi wajah Raditya yang tenang dalam keadaan begini, ia tetap tenang. Yah dianya nggak tahu masalah yang mereka hadapi.
Perlahan jemari Raditya mulai bergerak. Indera yang paling dekat dengan Raditya pun melihatnya.
"Hei lihat." Tunjuk indera pada Raditya.
"Iyah... Aku lihat harapan." Saat itu juga, Bayu tersenyum kecut. Setidaknya satu harapan muncul perlahan.
Mungkinkah Raditya akan segera siuman? Terlepas dari luka lukanya yang amat parah itu, siapa yang bisa bertahan sampai saat ini?
Jika orang lain yang mengalaminya, mungkin ia sudah kehilangan nyawanya. Keberuntungan juga bagi Raditya. Mereka menemukan tabib yang sangat hebat, walaupun Tabib itu tidak terkenal. Tetapi yang penting, karena bantuannya, membuat Raditya masih bisa lolos dari maut.
__ADS_1
***