Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 73 Janji Nindiya


__ADS_3

Chapt 73


"Kau jangan terpengaruh. Aku janji, akan menemukan ayahmu. Kamu jangan khawatir lagi"


Kata kata Nehan terngiang di telinga Nindiya. Yah, dengan adanya Nehan, cukup membuat hidupnya lebih baik. Setidaknya masih ada orang yang menyayanginya dengan tulus. Sebagai seorang suami, bukankah ini tugasnya? Yaitu membimbing dan saat saat diperlukan, akan selalu ada?


"Kau benar, Nehan!" Nindiya merasa lebih baik sekarang. Walau hatinya belum sepenuhnya baik. Ia tersenyum lembut kepada Nehan. Ia tidak ingin membuat pria di hadapannya memikirkan banyak hal. Termasuk dirinya yang sedang mengalami kesedihan.


Namun waktu mereka lengah, Wirata sudah ada di depan mereka sambil menghunuskan pedang. Pedang tersebut, ia tusukan pada Nindiya.


"Percuma!" Wirata sudah berada di dekat mereka dan menusuk Nindiya.


"Awas!" Nehan secara refleks, membalikan tubuh Nindiya, sehingga dialah yang terkena tusukan pedang itu.


"Tidak! Nehan," tusukan pedang tersebut mengenai perut Nehan. Nindiya pun kaget dan langsung memeluk Nehan yang sudah tidak berdaya.


"Kurasa kalian akan menyusul orang tua kalian. Nehan Hadinata, bertemulah dengan Wardana di neraka!" Wirata tersenyum sinis, ia merasa sudah berhasil membunuh anak orang yang dibencinya. Dan Nehan adalah ancaman yang besar menurutnya.


Wirata tidak ingin ada penerus untuk mengendalikan pedang bumi. Karena pedang bumi, hanya bisa digunakan oleh orang orang tertentu. Salah satunya adalah Nehan. Nehan adalah keturunan Wardana. Karena Wardana adalah satu satunya orang yang dapat menggunakan pedang bumi. Tentu, anaknya juga akan mewarisi ayahnya. Bukankah begi ucaptu? Dan memang kenyataannya, Nehan bisa menggunakan pedang bumi tersebut tanpa kehilangan kekuatannya.


"Tenanglah Nindiya. Aku tidak mati semudah itu." Walaupun luka Nehan sudah mengeluarkan banyak darah, tetapi ia masih tersenyum kepada Nindiya.


"Tunggu sebentar!" Nindiya segera membawa Nehan menjauh dari tempat mereka.


Tubuh Nehan semakin lemas, tetapi berkat kecepatan Nindiya, mereka berhasil lolos dari wirata dan rombongannya. Mereka saat ini belum berhasil menyusul. Karena mereka sudah cukup jauh dari rombongan aliran hitam tersebut. Nindiya yang panik, kebingungan harus berbuat apa. Ia hanya membaringkan tubuh Nehan di tanah.


"Katakan. Apa yang harus kulakukan?" ia mencoba bertanya. Karena tekanan batin itu, membuatnya tidak tahu harus bagaimana.


"Kau jangan khawatir. Aku akan baik baik saja. Tetapi dengarkan dan ingat baik baik." Nehan menatap Nindiya. Ia menyentuh wajah Nindiya dan mengusap air mata yang mulai turun.


"Kau tidak akan meninggalkanku bukan? Hiks ...,'' Nindiya tidak sanggup meneruskan ucapannya. Cukup sudah ia merasa kehilangan. Pertama ibunya, kedua ayahnya, dan ia tidak ingin kehilangan suaminya.


"Apa kau mendengarkan ku?" tanya Nehan memastikan. Ia merasa tidak punya banyak waktu.


Balas Nindiya."Iya. Aku dengar ...,"


"Sampai saat ini, aku sudah menuruti kakekmu untuk tidak menyentuhmu. Dan aku sudah berjanji pada kakekmu, aku akan mengajarkanmu ilmu pengetahuan padamu. Tetapi saat ini, mungkin aku tidak bisa mengajarimu lagi. Tentu aku tidak akan mati dengan mudah ....," Ia mengucapkan itu dan meyakinkan Nindiya, kalau ia baik baik saja.

__ADS_1


"Tunggu! Aku akan mengikat perutmu, biar darahnya nggak keluar lagi ...." Nindiya berniat merobek lengan bajunya, tetapi Nehan mencegatnya.


"Tidak perlu ... yang kuinginkan, kau hiduplah dengan baik. Tunggu aku kembali. Dan jangan pernah tergoda oleh rayuan lelaki lain. Karena kamu hanya milikku. Sampai kapanpun."


"Nehan?"


"Berjanjilah ..."


"..." hanya anggukan sebagai balasan dari ucapan Nehan.


"Kalau ada seseorang yang menyentuhmu, bolehkah aku memintamu, untuk membunuhnya?"


"Iya ..." balas Nindiya. Apapun yang dikatakan Nehan, ia akan melakukannya.


"Dan ...," tubuh Nehan semakin lemah, karena banyak bicara, membuat darah mengalir semakin cepat.


"Kau hanya perlu mempercayai dirimu sendiri. Jangan percaya pada lawan atau kawanmu!" setelah mengatakan itu, Nehan semakin lemas, tangan yang berada di wajah Nindiya, turun ke bawah.


Nehan memejamkan matanya. Ia terlihat tanpa beban di raut wajahnya. Sekarang, Nindiya semakin bingung. Ia melihat sungai yang mengalir di sebelah kanannya. Hanya berjarak lima puluh meter, tetapi terdengar suara air mengalir dari sana.


"Aku pasti akan menyembuhkanmu. Kamu jangan menyerah." Nin diya merobek lengan bajunya, untuk membalut luka di tubuh Nehan.


"Aku tidak tahu cara mengobati orang. Tetapi kamu pernah mengatakan, kalau kain bisa menutup luka, walau tidak sepenuhnya. Kita pun meninggalkan obat obat itu."


Nindiya mencoba mencari cari sesuatu di tubuh Nehan. Saat ia merogoh ke dalam kantung, ia menemukan sebuah pil. Ia tidak tahu pil apa yang ada di kantong yang berada di saku Nehan.


"Apa ini obat? Ah ... Maaf, Nehan. Aku tidak tahu. Semoga saja, ini obat yang bisa menyembuhkanmu." Nindiya membuka mulut Nehan, dan meminumkan pil tersebut kepada Nehan. Ia berlari ke arah sungai meninggalkan Nehan.


"Haiy!" tiba-tiba, Wirata sudah ada di dekat mereka.


Nindiya yang tidak menyadari kedatangan Wirata, hanya bisa menahan amarah, ketika ia baru tahu, Wirata sudah membawa Nehan ke arah sungai.


"Tidak! Lepaskan Nehan!" teriakan Nindiya, tidak digubris oleh Wirata. Malah, ia terlihat senang. Dan ia melempar tubuh Nehan ke dalam sungai.


"Tidak!! Nehan!!" dengan emosi yang menggebu, Nindiya melesat dengan kecepatan tinggi.


"Apa ini? Dia tidak terlihat?" ia nampak kebingungan. Wirata tidak mengerti, tetapi ia yakin, Nindiya menggunakan ajian sepi anginnya.

__ADS_1


Alhasil, Wirata yang tidak bisa melihat Nindiya, pun hanya menjadi bulan bulanan Nindiya. Saat ini, sudah puluhan pukulan yang diterima oleh Wirata.


"Ternyata perempuan ini berbahaya." sebuah senyuman, tersungging di bibirnya. Ia akhirnya menggunakan pedangnya untuk melindungi dirinya.


Dengan beringas, ia terus menyerang udara di sekitarnya. Ia tidak peduli, mengenai Nindiya atau tidak. Karena ajian sepi angin, sangat sulit untuk dihadapinya dengan cara biasa. Jadi, ia berusaha untuk melakukan apa yang ia bisa.


Waktu terus berlalu. Saat ini, beberapa pendekar aliran hitam tersebut, sudah berada dimana Wirata sedang menjadi bulan bulanan Nindiya. Seorang pendekar yang tahu, ajian tersebut amat berbahaya, tidak berani ikut campur. Tetapi Nindiya tidak ingin melepaskan mereka.


"Kalian harus bertanggung jawab atas perbuatan kalian!!!" suara itu terngiang ngiang di udara.


Udara di sekitar menghitam. Tidak terlihat keberadaan Nindiya, tetapi mereka yakin. Perempuan itu amat berbahaya. Sehingga saat ini, belum ada yang ingin menyerahkan nyawa mereka. Mereka tidak ingin mengambil resiko. Apa jadinya jika mereka membantu Wirata?


"Aaaahhhh!!!" terdengar suara erangan Nindiya, namun tidak ada wujudnya.


Mereka yang masih berada di sekitarnya, merasakan aura hitam yang sangat pekat. Itu membuat tubuh mereka tidak bisa digerakan. Tiba tiba, suara itu memenuhi gendang telinga mereka.


Bukan hanya darah yang mengalir dari telinga mereka. Tetapi tubuh mereka mengalami hal yang aneh. Dan seketika mereka kehilangan nyawa mereka. Mengingat ilmu tenaga dalam mereka yang tidak terlalu tinggi.


"Cepat tinggalkan tempat ini!" bagi mereka yang masih sempat, meninggalkan tempat tersebut. Tetapi tidak sedikit dari mereka yang mati mengenaskan.


"Merepotkan!" seorang pendekar dengan golok merah besarnya, melempar golok tersebut ke suatu arah.


"Bughh!" tubuh Nindiya yang terkena hantaman golok tersebut.


"Tuan Ubhaya." Mereka yang menyadari, Ubhaya yang datang dan menumbangkan Nindiya dengan mudahnya.


"Bahkan, aku tidak bisa membalaskan semua ini." Nindiya terlihat pucat. Ia sudah mengeluarkan sampai batas kekuatannya. Saat ini, ia tidak bisa berbuat apapun lagi.


"Kau anak Daniswara? Ohh ... tentu kau puterinya. Jika kau ingin membalaskan dendam kedua orang tuamu dan suamimu, datanglah padaku! Aku menunggumu melampaui ayahmu." Ubhaya mengambil golok tersebut. Ia meninggalkan tempat tersebut.


"Ayo pergi semua. Aku sudah mendapatkan pedang bumi itu." Ubhaya membawa semua orang orangnya.


Nindiya mencoba berdiri, tetapi ia masih belum bisa berdiri karena ia sudah kehabisan tenaga. Ia hanya menangisi nasibnya. Saat ini, ia seorang diri. Ia mencoba duduk dan mengusap air matanya.


"Nehan ... Aku berjanji. Aku akan belajar. Tapi kamu jangan tinggalkan aku." Nindiya merangkak ke arah sungai, sebelum akhirnya, ia tidak sadarkan diri.


***

__ADS_1


__ADS_2