Pendekar Sepi Angin

Pendekar Sepi Angin
Chapt. 46 Bom Asap


__ADS_3

Chapt 46


Dua pedang telah berada di dekat tubuh wanita tersebut. Namun asap putih membuyarkan pandangan mereka. Pedang yang terlanjur mereka tusukan ke arah Dewi Sukarti, tetapi tidak mengenai wanita itu. Karena wanita itu telah menghilang dari pandangan mereka.


Perlahan asap tersebut mulai berangsur menghilang. Dewi Sukarti sudah berada di samping kedua pendekar tersebut. Ia tersenyum dan kini tubuhnya semakin lemah. Ia baru saja mengeluarkan bom asapnya. Ini bukan senjata atau sebuah jurus. Tetapi bom asap yang ia ciptakan sendiri.


Bom asap memang tidak bisa digunakan untuk senjata. Yah setidaknya untuk hari ini. Bukan tidak mungkin bom asap itu bisa diberi racun mematikan.


"Akhh..." Kedua pria tersebut terjatuh setelah tubuh mereka tertusuk pedang.


Kejadian tersebut membuat penonton yang menyaksikan hanya bisa melongo. Para ketua tingkat tiga yang belum bertarung pun sudah kehilangan harapan mereka.


"Bagaimana ini? Mengapa dia pakai bom asap? Dia curang." Maki seorang ketua tingkat tiga yang belum bertarung.


"Iya. Dia harus di diskualifikasi." Imbuh yang lainnya.

__ADS_1


"Tetapi tidak aturan yang mengatakan tidak boleh menggunakan bom asap bukan?" Bela yang lainnya.


Pergunjingan antara ketua dan para penonton semakin memanas. Mereka yang tidak terima tidak rela karena mereka bahkan belum bertarung sama sekali. Tetapi wanita itu sudah mengalahkan bahkan sebelas ketua tingkat tiga.


Bagaimana pendekar wanita itu melakukannya? Sederhana saja. Saat ini ia sedang meneliti temuannya sendiri. Ia menciptakan bom asap. Dan kebetulan ia membawa serta bom asap itu. Ia tidak pernah berpikir benda itu akan berguna. Tetapi saat saat kritis itulah bom asap malah berguna.


Bom asap memang bukan senjata. Bom asap diciptakan untuk mengelabuhi musuh ketika pengguna bom asap itu akan meninggalkan pertarungan.


Saat kedua pendekar pria tersebut menyerang Dewi Sukarti, Dewi Sukarti sudah mengambil bom asapnya. Lalu ia melemparnya ke tanah. Saat asap itu muncul, membuat pandangan dua pendekar terganggu. Maka saat itulah Dewi Sukarti melesat ke samping di sisa sisa tenaganya yang hampir habis.


Pertarungan malam hari juga membuat mata mereka tidak seperti siang hari. Mata mereka tidak bisa melihat jelas apa yang dilakukan wanita tersebut. Mereka tidak tahu kalau bom asap telah dipegang wanita tersebut.


Karena mereka tidak menyadarinya, maka merekalah yang saling menusuk satu sama lain. Kedua pendekar tersebut terluka cukup parah. Dan entah masih bernafas atau tidak. Karena keadaan malam hari itu tidak ada yang menolong kedua pendekar tersebut.


"Pertarungan selesai. Selamat Dewi Sukarti. Kamu akan menjadi ketua tingkat kedua. Kami akan memulai upacara pengangkatan ketua dua hari mendatang. Mengingat dua ketua yang sebelumnya baru saja meninggal." Ucap sang ketua tingkat satu.

__ADS_1


Karena yang mengatakannya adalah ketua tingkat satu sekaligus pemilik perguruan, yang tadinya berdebat pun menghentikan perdebatannya. Mereka mau tidak mau, rela tidak rela, harus menerima keputusan tersebut.


Malam itu menjadi saksi. Seorang ketua tingkat kedua pertama dalam perguruan. Memang banyak ketua tingkat tiga adalah wanita. Akan tetapi kekuatan mereka bertarung, tidak sehebat kekuatan pria. Sehingga sejarah mencatat, Dewi Sukarti adalah wanita pertama yang naik pangkat.


"Terima kasih ketua." Dewi Sukarti memberi hormat.


Namun setelah memberi hormat, Dewi Sukarti yang kehilangan banyak tenaga, kini harus menghadapi sesuatu yang tidak bisa dihindarinya. Yaitu pingsan.


"Ketua. Sepertinya dia sudah diluar kuasanya. Wanita ini telah bertarung sampai batas kekuatannya." Salah satu ketua memberi hormat menanti keputusan.


"Bawa dia. Bukankah dia berhak menjadi ketua tingkat dua?"


"Baik tuan. Ayo bawa wanita ini!" Titah seorang ketua tingkat satu.


Perintah tersebut pun ditanggapi pendekar perempuan. Mereka bangga, karena dari kaum mereka ada satu yang menjadi ketua tingkat dua. Mereka segera mengangkat junjungan barunya.

__ADS_1


Segera para penonton, para ketua dan murid, meninggalkan tempat tersebut. Hari yang melelahkan bagi mereka. Karena menunggu dan menyaksikan pertarungan dari pagi sampai malam hari. Bahkan mereka tidak makan dan minum.


***


__ADS_2