
Chapt 20
"Bertahanlah!" Indera membawa Raditya yang berlumuran darah dengan berlari melewati tembok besar itu.
Karena kehabisan banyak darah, Raditya tidak sadarkan diri. Melihat rekannya mendapatkan luka yang memprihatinkan ia segera menuju ke tempat Bayu dan sang Puteri berada.
"Apa yang terjadi?" Jelas Bayu melihat Raditya yang dibawa indera.
Indera meletakan Raditya ke tanah. Ia segera menyobek kain bajunya sendiri juga melepaskan baju Raditya. Langsung saja luka Raditya langsung dibalut dengan bajunya.
Tanpa diberitahu, Bayu paham dan ia lakukan adalah menyalurkan tenaga dalam untuk menghentikan pendarahan. Namun itu hanya sementara. Tubuh Raditya terus mengeluarkan darah.
"Bagaimana ini? Tubuhnya tembus tertusuk pedang. Kita harus secepatnya mencari desa terdekat untuk mencari tabib." Ungkap Indera.
"Baiklah. Mari kita segera bawa dia. Untuk sementara, kain ini dan tenaga dalamku hanya bisa mengurangi darahnya keluar. Kita harus cepat sebelum terlambat."
"Ayo bawa ke kereta." Sang Puteri yang melihat keretanya memberi usul.
"Baiklah ayo." Setuju Indera. Mereka membawa Raditya dengan kereta. Dengan cepat, Indera mengendarai keretanya. Sementara sang Puteri berada di dalam bersama Raditya.
Bayu yang berada di dekat indera pun sedikit gusar. Ini pertama kalinya menyaksikan temannya mengalami luka yang begitu serius. Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada sahabatnya itu.
Menyesal bukan pilihan bijak. Hanya saja ia tidak bisa bersikap santai seperti ini. Tentu semuanya begitu terpukul. Yang bisa mereka lakukan adalah berusaha yang terbaik. Mereka tidak akan membiarkan Raditya mati begitu saja. Ia harus hidup. Inilah harapan mereka.
__ADS_1
Malam berganti dengan pagi. Mereka pun sampai di perumahan. Bayu turun dari kereta begitu melihat rumah pertama. Ia berlari dan segera mencari seseorang. Dan dilihatnya seorang wanita paruh baya. Ia menghampirinya.
"Maaf bibi. Mengganggu sebentar."
Bayu menemukan seseorang. Berarti ini sebuah harapan. Berharap ada bantuan. Dan benar saja. Wanita paruh baya itu tersenyum karena melihat pria tampan yang memegang tangannya.
"Ahh aku sudah tua. Tapi aku mau.. " jawabnya.
"Eh...?" Tentu Bayu bingung.
"Ayo kerumahku saja. Suamiku sudah ke ladang pagi pagi sekali."
"Eh.. tidak. Aku tidak punya banyak waktu."
"Aku mau bertanya. Dimana tabib terdekat di desa ini?"
Wanita itu diam. Lalu pandangannya menuju ke arah kereta kuda yang semakin mendekat. Dilihatnya pria tampan lagi menjadi kusir. Dan seorang wanita muda menengok kan kepalanya ke luar kereta.
"Ooh... Sayang sekali. Isterimu itu lebih cantik dariku. Tapi tidak apa apa. Mungkin dia lagi hamil." Ucap wanita itu melirik ke arah Puteri Padmasari.
Wanita itu berpikir, kalau mereka sepasang suami isteri yang tersesat di hutan. Bukan tidak mungkin karena desa ini memang terletak di sekitaran hutan. Desa ini letaknya jauh dari desa lainnya.
"Jadi dimana aku bisa menemui tabib." Tanpa pikir lagi, Bayu tidak memperdulikan wanita itu. Yang terpenting ia harus menyelamatkan Raditya secepatnya.
__ADS_1
"Hmmm... Yaudah. Walaupun aku kecewa. Tetapi akan kuberitahu. Tapi nanti kau harus janji."
"Apa?"
"Setelah urusan selesai. Kalian harus membayar ku."
"Baiklah. Apapun itu. Cepat beritahu dimana tabib."
"Kalian masuk ke perumahan itu. Setelah melewati rumah ke lima, belok kiri lalu lurus. Sampai diujung jalan
Rumah tabib ada di paling ujung."
Bayu menatap yang ditunjuk wanita tersebut. Ia melihat rumah rumah yang berjejer rapi. Desa ini terlihat tenang. Masih banyak pepohonan dan udaranya sangat segar. Yah penduduknya tidak banyak yang terlihat. Hanya beberapa orang yang tengah bekerja di pagi hari.
"Baiklah terima kasih." Ucapnya lalu naik kereta kembali. Kali ini Bayu yang mengendarainya.
"Apa wanita itu sudah mengatakannya?" Indera tidak mendengar percakapan Bayu dan wanita paruh baya tersebut. Karena memang letaknya jauh.
"Iya kurasa kita sudah dekat."
Mereka pun segera menuju tempat tabib berada. Dan disinilah mereka. Tiba di rumah tua tetapi kokoh. Di pelataran rumah mereka melihat seorang gadis sedang menjemur beberapa bahan obat obatan. Tentu saja mereka tahu ini memang rumah tabib. Tapi gadis itu sungguh cantik. Sehingga kedua pria tersebut hanya bisa menganga dan melongo melihat pemandangan indah tersebut.
***
__ADS_1