Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 10 Cinta mengalahkan segalanya.


__ADS_3

Pagi itu cuaca sangat cerah, Cindy sudah berpakaian rapih, dan wangi sekali, dia hendak segera bersiap untuk pergi kerja. Dalam hatinya di hinggapi rasa gembira karena dia berpikir hari ini Bram akan masuk kantor. Melihat wajah istrinya nampak berseri sang Suami dihinggapi rasa penasaran.


"Mah, tumben pagi buta udah menampakkan muka sumringah biasanya Mama cemberut," Haris menatap mata Cindy itu sambil memegang jemari istrinya yang lentik. Cindy hanya membalas dengan senyuman tanpa ada kata.


"Pah, jadi enggak nanti sore kita nonton film ke Bioskop?" Rara sang Anak tiba-tiba masuk kedalam kamar. Mendengar ucapan Rara yang mengajak nanti sore untuk pergi menonton langsung dengan spontan Cindy mendekati Anaknya itu.


"Mama mau ada rapat nanti sore, dan pulang malam, jadi di undur besok ya, Sayang?" ucap Cindy mencoba mengambil hati Rara, sambil mencium pipinya. Padahal Cindy sepulang kerja ada niat untuk pergi bersama Bram karena dalam hatinya di selimuti rasa rindu yang sangat dalam.


Haris sang suami tiba-tiba raut mukanya berubah, terlihat sangat kecewa mendengar ucapan istrinya itu yang membatalkan pergi bersama Anaknya itu, padahal semalam sudah berjanji akan pergi bersama Anak-anak nya. Melihat raut muka suaminya yang kecewa langsung Cindy tersenyum renyah dan memeluk suaminya itu.


"Papa, Mama kan sibuk jadi Papa harus mengerti keadaan Mama, kan tahun depan kita mau jalan-jalan keluar negeri jadi harus mengumpulkan uang banyak," Cindy berusaha mengambil hati Haris, dan bergelayut manja. Papa hanya tersenyum tipis dan menatap Rara yang menyimpan rasa kesal kepada Cindy, Mamanya itu.


Rara kemudian berlari keluar dari kamar, melihat Anaknya yang di hinggapi rasa kecewa, Haris pun berlalu dari dalam kamar untuk mengejar Rara.

__ADS_1


Brukk...


Mendengar suara pintu terdengar sangat keras seakan di banting, sontak Cindy terkejut dan keluar kamar mengikuti Haris.


"Sayang, buka!" Papa mengetuk-ngetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban disana. Cindy tertunduk dia merasa dihinggapi rasa bersalah. Pikirannya tidak karuan memikirkan Bram dan Anaknya. Jika dia membatalkan pertemuan dengan Bram nanti sore dia takut Bram akan kecewa dan dia pun sudah di hinggapi rasa rindu terhadap kekasih gelapnya itu.


"Mah, batalkan saja rapatnya, dan tunda saja besok!" ucap Haris membuang napas kasar.


Drett...Drett...Drett...


Kemudian pesan muncul di ponselnya Cindy, setelah dia membaca isi pesan tersebut lalu Cindy berpamitan kepada Haris karena Bosnya memberi pesan agar Cindy segera datang ke kantor karena ada tamu dari kantor cabang.


Tangan Haris mengepal dia seakan kesal terhadap istrinya itu dengan mudahnya dia pergi begitu saja meninggalkan Anaknya yang sedang kecewa di dalam kamar.

__ADS_1


"Mengapa aku tidak bisa marah terhadap istriku!" gumam hatinya.


Haris menghela napas panjang lalu dia mengetuk pintu kamar kembali kali ini suaranya sangat pelan.


"Ra, ini Papa. Buka pintunya, Sayang!" Haris berharap pintu dibuka oleh Anaknya itu.


Krekk....


Lalu pintu pun terbuka nampak terlihat Rara sang Anak menekuk wajahnya dan air mata bercucuran.


"Mama kerja Sayang, sibuk. bagaimana kalau Rara nontonnya sama Papa berdua saja," ucap Haris sambil mengusap air mata Anaknya itu dan memeluknya. Rara hanya menggelengkan kepala. Haris mencoba membujuknya kembali dan meyakinkan bahwa Mama sedang mengumpulkan uang untuk liburan keluarga keluar negeri, dan biaya yang di keluarkan itu nanti tidak sedikit.


Haris sangat perhatian terhadap Anak-anaknya di bandingkan Cindy. Apalagi sekarang semenjak Cindy mempunyai kekasih gelap perhatian semakin berkurang dan Rara pun sangat merasakan itu.

__ADS_1


__ADS_2