Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 126 Cintya menjemput Cindy


__ADS_3

Cindy menangis.


Cindy terisak tangis tapi mulutnya dia tutupi dengan selimut agar tidak terdengar oleh Bu Marni dan Dea.


Dia menahan cemburu selama ini, melihat begitu dekatnya Dea dan Azam, apalagi mereka akan menikah, rasa sesak terasa hinggap di dalam hati Cindy.


Dia juga memikirkan anak-anaknya, Cindy merasa rindu kepada Rara dan Reza, yang sudah lama tidak berjumpa.


Cindy memejamkan matanya, teringat dulu sebelum dia mengalami kecelakaan, Azam mau menikahinya, hati Cindy saat itu sangat senang sekali, dunia terasa hidup kembali semenjak dia di sakiti oleh Bram, yang kemudian meninggalkannya.


Tapi semua yang dia rencanakan tidak sesuai yang di harapkan, Azam tidak ada kabar berita, mungkin karena tahu dia lumpuh dengan memakai kursi roda jadi Azam, seakan tidak mau peduli dan menjauh dari pergi dari Cindy.


Cindy menghela napas panjang.


Kehidupan cintanya penuh liku, itu karena ulahnya sendiri.


Tiba-tiba suara pintu ada yang mengetuk dari arah depan rumah.


"Assalamualaikum," terdengar suara perempuan, mengetuk pintu.


Cindy tertegun sejenak sepertinya dia mengenal suara tersebut, dan terdengar di telinganya, sudah tidak asing lagi.


Kemudian suara ketukan terdengar lagi, mungkin tidak ada yang membuka pintu. Cindy berpikir dalam hatinya, "Apakah, Bu Marni dan Dea sedang tidak ada di rumah, jadi tidak ada yang membukakan pintu."


Dengan rasa penasaran, lalu Cindy bergegas keluar kamar, lalu dia berjalan menuju pintu depan rumah untuk membukakan pintu.


Krekkkk..


Pintu depan terbuka lebar.


Sontak Cindy terkejut, karena yang tengah berada di depan matanya yaitu adiknya sendiri yang tidak lain adalah Cintya. Bisik hatinya berkata, mengapa sang Adik tahu keberadaan dirinya di sana.


"Kakak..." ucap Cintya, matanya berkaca-kaca, melihat Cindy terlihat kurus, dan pakaian yang dia gunakan sangat sederhana, hanya memakai daster lusuh mungkin itu, daster yang diberikan oleh Bu Marni.


Cindy mukanya pucat pasi, seperti menahan rasa malu dan sedih. Dia tidak seakan tidak bisa berkata sedikitpun dan pandangan tertunduk.


Cintya matanya berselancar melihat ke arah dalam rumah, nampak tidak ada siapapun di sana. Lalu dia membelai rambut sang Kakak.


"Kak Cindy, pemilik rumah ini, pada kemana?" tanya Cintya.


Cindy menggelengkan kepalanya.


"Oh, Iya, aku tahu Kak Cindy, ada disini, dari Azam, dia cerita banyak tentang Kakak. Aku senang sekali, pas tahu Kakak aman tinggal disini," Cintya mencoba menerangkan kepada sang Kakak. Karena Cindy seperti bertanya-tanya dalam hatinya, bahwa sang adik tahu darimana dia berada di rumah tersebut.

__ADS_1


***


Tiba-tiba Bu Marni datang dari pasar.


"Eh, ada tamu. Pasti keluarganya Cindy ya?" Bu Marni mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Cintya tersenyum lebar.


"Iya, Bu, aku Cintya. Aku adik dari Kakak Cindy, terima kasih sudah mau menerima Cindy disini," ucap Cintya.


"Iya, semalam Nak Azam, menelepon katanya akan ada saudara Cindy, datang kesini untuk menjemput," sambung lagi Bu Marni.


Cindy terlihat cemberut, nampak mukanya seakan tidak senang atas kedatangan sang adik. Dia menundukkan wajahnya, seakan tidak merespon Bu Marni, dan adiknya yang sedang berbicara.


***


Bu Marni pamit ke dapur untuk membuatkan air teh, sementara Cindy, membereskan pakaian yang berada di kamarnya.


Satu jam kemudian.


"Yu, sudah siap?" Cintya memandang sang Kakak, untuk segera beranjak pergi dari tempat itu. Cintya berpikir jangan terlalu lama untuk tinggal di rumah itu, karena merepotkan.


Cindy hanya menganggukkan kepalanya.


Cintya pun pamit kepada Bu Marni, nampak Bu Marni memeluk erat Cindy.


Cindy pun terlihat menahan air mata, dia seakan tidak sanggup untuk berbicara kepada Bu Marni, yang sudah menolongnya.


*****


Akhirnya Cindy dan Cintya berlalu dari rumah tersebut. Di dalam mobil nampak Cindy termenung dia tidak berbicara sedikitpun.


"Aku ingin bertemu dengan anak-anakku," ucapnya tanpa menatap sang adik.


"Boleh Kak, nanti aku, akan menelepon Mas Haris ya," kemudian Cintya menekan nomor telepon Haris.


Cukup lama telepon tidak diangkat oleh Haris, ketika Cintya, hendak menutup sambungan telepon kepada Haris. Tiba-tiba ada suara wanita yang sangat merdu terdengar di sana.


"Assalamualaikum.."ucapnya


"Wa'alaikum salam. Teh Friska, sehat? Mas Harinya ada?" tanya Cintya.


"Sedang mandi, ada apa ya," tanya Friska, terdengar ramah ketika berucap.


"Oh, nggak apa-apa, bentar lagi saya telepon ya Teh, maaf mengganggu ya," ucap Cintya.

__ADS_1


Bola mata Cindy langsung mengarah ke Cintya, dia seakan bertanya, siapkah wanita yang baru saja mengangkat telepon Haris.


"Apakah dia pegawai Haris, atau...!" Cindy terlihat penasaran.


Melihat raut muka Cindy, seperti ingin tahu siapakah yang tadi mengangkat telepon Haris, kemudian Cintya tersenyum tipis.


"Mas Haris sudah menikah, dia menikah dengan seorang dokter asal Bandung," ucap Cintya melirik ke arah Cindy.


Degh..


Cindy terlihat menatap ke arah depan dengan tatapan kosong, entah mengapa jantungnya berdetak lebih kencang. Mungkin itu pertanda rasa cemburu karena Haris telah menemukan pasangan yang jauh lebih baik dari dia.


Melihat perubahan sikap dari sang Kakak, yang terlihat tiba-tiba melamun, sang adik seakan tahu perasaan hati sang Kakak seperti apa.


Cindy melamun.


Dia di tinggal menikah oleh Azam kekasihnya, sekarang sang mantan telah menikah juga, orang-orang yang dahulu menyayanginya dan mencintai sekarang sudah punya tambatan hati dan mereka pergi meninggalkannya.


Friska memberitahu Haris ada telepon dari Cintya. Haris pun lalu menelepon balik kepada Cintya.


Haris terdengar dari nada suaranya sangat senang sekali. Kemudian Haris mengijinkan kalau anaknya, tidak apa-apa datang untuk bertemu dengan Cindy.


{"Kalau Cindy, rindu sama anaknya, nanti adikku Hana dan suaminya, biar yang mengantarkan anak-anak ke sana. Aku tidak bisa mengantarkan ke Bogor, karena istriku sedang hamil,"} ucap Haris.


{"Wah, selamat ya Mas, istrinya sedang hamil, aku turut bahagia,"} ucap Cintya.


Cindy semakin cemberut mukanya, nampak dia cemburu dan menyimpan rasa sesal.


****


Sampai di rumah


Setelah sampai di rumah, Cindy langsung memasuki kamarnya, dia merasa lega karena selama tinggal di rumah Bu Marni, keadaan kamar begitu sumpek dan sempit, beda dengan kamar yang di isi sekarang olehnya, begitu leluasa dan nyaman.


Cindy menghempaskan badannya di kasur, Dia memandang langit-langit kamar. lalu memejamkan matanya, bayangan Azam dan Haris yang sudah mendapatkan tambatan hatinya masing-masing, kian menghinggapi pikirannya.


Rasa cemburu terasa sesak merasuki jiwanya, dia seakan ingin berteriak.


Kemudian pandangan Cindy, mengarah ke laci lemari, terbesit dalam dirinya, ada obat didalam laci tersebut yaitu obat agar dia lebih tenang pikirannya.


Lalu dia membuka laci itu, dan mengambil beberapa butir obat yang jumlah dosisnya tidak seperti biasanya.


Sejam kemudian obat mulai bereaksi, entah mengapa dia terasa pusing kepalanya, dan Cindy pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2