
Reza anak dari Cindy sudah menginjak dewasa, meskipun Reza, Anaknya pendiam tapi di sekolahnya dia sangat aktif dan selalu jadi juara kelas. Pada umumnya masa-masa anak seusia dia lagi masa puber, sesekali Reza bersama teman-temannya nongkrong di Kafe atau Mall. Usia Reza sekarang menginjak tujuh belas tahun, suatu sore Reza bersama temannya nongkrong di sebuah Kafe. Hujan lebat saat itu jadi Reza bersama Hadi mengurungkan niatnya untuk pulang karena dia bersama temannya memakai kendaraan beroda dua.
Di ujung Kafe tepat dekat jendela tidak sengaja pandangan Reza tertuju ke sosok wanita, setelah dia membuka mata lebar betapa terkejutnya karena wanita itu adalah Cindy. Beberapa kali Reza melirik ke meja yang di duduki Cindy dan dia terus pandangannya lelaki yang berada di sebelah Cindy.
Melihat Reza yang tidak fokus ketika sedang mengobrol lalu sang teman di hinggapi rasa penasaran.
"Za, pandangan kamu kenapa melirik terus ke arah ujung jendela sana?" tanya Hadi teman dari Reza. Mata Hadi pun lalu tertuju ke meja yang sedang di duduki oleh Cindy namun Hadi tidak menyadari bahwa yang dia lihat adalah Mamanya Reza. Dia malah asik beralih pandangannya ke sang biduan yang sedang bernyanyi.
"Itu Mamaku, Di!" ucap Reza, dan Reza tidak ada rasa curiga sedikitpun terhadap Mamanya yang sedang berduaan dengan lelaki lain. Kemudian Hadi menyuruh Reza untuk menghampiri Mamanya, tapi entah mengapa Reza mengurungkan niatnya, dia malah ingin mengajak Hadi keluar dari Kafe tersebut meskipun hujan diluar lebat.
Hadi sahabat Reza yang baik, dia teman curhat Reza, dan ketika melihat raut muka Reza yang menyimpan kesal dan mukanya tertunduk Hadi seakan tahu isi hati sahabatnya itu.
"Atau kita duduknya pindah saja, yu?" Hadi menarik tangan Reza. Lalu mereka pindah tempat duduk. Reza terlihat gelisah sekali, melihat reaksi temannya tersebut yang seakan gugup lalu Hadi mencoba menenangkannya. Reza pernah bercerita Mama dan Papanya sedang tidak akur karena Mamanya sering telat pulang kerja dan sewaktu Reza masuk rumah sakit Hadi tahu Mamanya Reza tidak tepat waktu datang menemui anaknya.
Lima belas menit kemudian terlihat dari jauh Cindy berjalan ke arah kasir bersama lelaki itu , Nampak wajah Cindy dan lelaki itu sumringah seakan tidak ada jarak di antara mereka, raut muka Reza berubah menjadi kesal lalu dia memalingkan pandangannya.
"Di, malam ini aku menginap di rumah kamu ya, boleh?" Reza terlihat memohon kepada sahabatnya itu. Hadi sang sahabat tersenyum pertanda mempersilahkan temannya untuk menginap di rumahnya. Kebetulan Papanya Hadi teman dari Haris, Papanya Reza.
Cindy pun keluar dari Kafe tersebut lalu sang lelaki yang tidak lain adalah Bram memegang tangan Cindy ketika memasuki mobil.
Pikiran Reza seakan bercabang antara percaya dan tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Lalu dia menghela napas panjang, dan membuang napas kasar secara perlahan
"Aku tidak boleh berpikir negatif," Reza mencoba menenangkan hatinya sendiri.
__ADS_1
"Za!"
Reza terkejut ketika Hadi menepuk pundaknya, Reza hanya tersenyum menatap sahabatnya itu dan tersenyum tipis.
"Sudah reda hujannya, ayo, kita pulang!" ajak Hadi sambil berlalu ke kasir dan dengan cepat pula pandangan Reza kembali keluar Kafe tapi disana tidak terlihat Mamanya. Cindy sudah berlalu dari Kafe tersebut.
Setelah Hadi membayar ke kasir lalu mereka berdua menuju rumah Hadi tapi sebelumnya Reza menuliskan pesan kepada Papanya untuk bisa menginap di rumah Hadi sahabatnya itu.
Dret...
Dret ..
Dret...
Tiba-tiba telepon masuk ke ponsel milik Reza, disana nampak terlihat nomor Haris sang Papa muncul dan Haris kemudian menanyakan keberadaan sang anak sedang berada dimana, Haris di hantui.rasa khawatir karena sudah hampir malam sang anak tidak menelepon sesudah mengirim pesan. Kemudian Reza kembali meminta ijin kepada Haris untuk menginap di rumah sahabatnya itu, dan Haris pun di hinggapi rasa penasaran mengapa sang anak tiba-tiba ingin menginap di rumah sahabatnya itu. Haris sudah tahu karakter anaknya seperti apa, dan Haris menduga pasti anaknya lagi dalam masalah. Sifat dari anaknya itu jika ada masalah dia ingin menyendiri tidak mau di ganggu oleh siapapun.
{"Pah, Mama sudah pulang?"} tanyanya kembali. Haris di hinggapi rasa heran, mengapa tiba-tiba anaknya menanyakan Mamanya.
{"Belum, Nak!"} jawab Papa. Reza terkejut ketika sang Papa memberi kabar Mamaya belum pulang padahal sejam yang lalu Mamanya sudah keluar di Kafe. Kemudian Haris bertanya kepada anaknya itu, mengapa tidak biasanya dia menanyakan Mamanya.
{"Reza kangen saja,"} jawabnya singkat. Reza berusaha menutupi semua. Reza tahu Haris sang Papa sangat peka perasaannya jika dia berbicara yang sebenarnya tentang Mamanya.
Ini untuk kedua kalinya Reza melihat Mamanya sedang berjalan berdua dengan lelaki lain, tapi Reza berusaha menutupi semua dari Papanya. Ketakutan Reza sang Papa akan bertengkar dengan Mamanya.
__ADS_1
Setelah menutup telepon dari Papanya kemudian Reza menelepon Mamanya, sangat lama Cindy mengangkat telepon dari anaknya, membuat sang Anak kesal, Reza mengepalkan tangannya lalu dia mengigit bibirnya.
{"Hallo! Iya Nak, ada apa?} akhirnya tersambung juga telepon Reza kepada Mamanya. Lalu Reza menanyakan keberadaan Mamanya sedang dimana, dan terdengar jelas ada suara lelaki tertawa tapi sangat pelan dengan di iringi suara musik, kemudian sunyi sepi dan hanya terdengar suara mobil sedang melaju dengan ada semilir AC dalam mobil saja.
Cindy terdengar gugup ketika berucap.
"Ini Mama, dalam perjalanan pulang, kamu mau dibawain oleh-oleh apa?" tanya Cindy dengan suara lirih. Kemudian Reza bertanya kepada Mamanya, dia sedang sama siapa dan dengan sigap Cindy berkata, lagi sendiri.
Nampak terlihat muka Reza sesak ada rasa kecewa dan kesal terhadap Mamanya itu.
"Sampai kapan Mama akan berubah?" gumam hati kecilnya, dan tanpa mengucap salam lalu Reza menutup ponselnya.
"Kenapa, Za?" tanya Hadi menatap sahabatnya itu yang baru saja keluar kamar mandi, Reza hanya menggelengkan kepala dan tersenyum tipis.
Tok...
Tok...
Tok...
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar kamar terdengar sangat kencang.
"Di, makan dulu sekalian ajak Reza juga ya!" ucap Ibunya Hadi berteriak. Hadi pun dengan cepat menjawab.
__ADS_1
"Iya, Bu," kemudian Hadi mengajak Reza ke ruang makan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi keroncongan, karena hujan lebat dan mereka di Kafe hanya memesan kopi saja.
Di ruang makan Reza menatap lekat Ibunya Hadi, seakan terharu melihatnya karena sudah lama Mamanya tidak melakukan hal yang sama di lakukan oleh Ibunya Hadi. kemudian Ibunya Hadi mengelus rambut anaknya itu lalu dengan spontan menyuapi anaknya, melihat adegan itu air mata Reza terlihat berkaca-kaca.