Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 11 Gelisah


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul satu siang dan rapat pun telah selesai. Bola mata Cindy seakan tidak mau diam, pandangannya terus tertuju keluar jendela kantor. Samar terlihat dari luar jendela terdengar bunyi klakson, dan dengan cepat detak jantungnya seperti di pompa berdetak tidak karuan dag-dig-dug. Sesosok lelaki tampan keluar dari dalam mobil memakai kemeja warna biru muda penampilannya sangat rapih sekali.


Mata Cindy seakan tidak bisa berkedip melihat ketampanan dan kerapihan lelaki tersebut. Lalu lelaki tersebut bersalaman dengan Samuel teman kantornya terlihat mereka sangat begitu dekat.


"Siapakah lelaki itu?" gumam hatinya. Beribu tanya ada dibenaknya Cindy.


"Bu.., Bu!" Clara sahabat Cindy mengagetkan Cindy yang sedang asik, fokus melihat keluar jendela. Dan Cindy pun terperanjat mendengar suara yang memanggilnya.


"Clara!' Cindy tersenyum seperti menahan malu, karena di hinggapi rasa penasaran lalu Clara pun pandangannya melihat ke jendela dimana Cindy baru saja sedang asik matanya melanglang buana keluar jendela.


Clara tertawa terkekeh lalu telunjuknya mengarah ke lelaki yang berada diluar yang baru saja dilihat oleh Cindy sahabatnya itu.


"Itu pegawai baru kita yang nantinya akan menggantikan Pak Bram," ucap Clara matanya lekat ke bola mata Cindy sambil menepuk pundak sahabatnya itu. spontan Cindy terperanjat mendengar ucapan yang baru saja dia dengar dari sahabatnya itu.


"Pegawai baru, yang menggantikan Pak Bram! maksud kamu apa?" ucap Cindy seakan tidak percaya. Kali ini Clara tertawa terbahak melihat sahabatnya itu yang terlihat gugup. Clara sebagai sahabat Cindy seakan tahu isi hati sahabatnya itu karena Bram adalah kekasih gelap dari Cindy, dan jika di pindah tugaskan kerja oleh kantor pasti Cindy akan kaget menerima kabar tersebut.


"Kamu tidak sedang bercanda kan?" tanya Cindy dihinggapi rasa khawatir. Dibenaknya berpikir takut kalau harus di tinggalkan oleh kekasih gelapnya itu. Pandangan Cindy kosong mukanya seketika lusuh.

__ADS_1


Clara pun akhirnya tertawa lebar dan dia pun memeluk sahabatnya itu.


"Aku becanda ko," Clara kemudian mencium pipi sahabatnya itu dan berlalu dari hadapan Cindy.


"Gila, kamu! Claraaaa!!' Cindy pun berteriak sambil melempar gumpalan kertas, dan tiba-tiba.


Tukkk.....


Gumpalan kertas itu tidak sengaja mengenai kepala lelaki yang dengan tiba-tiba datang ke dalam ruangannya.


Tanpa malu Cindy langsung memeluknya dan mencium punggung tangan kekasihnya itu. Mungkin sudah tidak ada rasa malu yang di rasakannya cinta buta bagi mereka. Bram kemudian membalas dengan kecupan di kening Cindy.


"Aku rindu," Bram berbicara lekat ke kuping Cindy, sang wanita pun tertunduk malu dan matanya berkaca-kaca.


"Aku juga, Mas," jawabnya.


Kemudian mereka ijin dari kantor untuk makan siang.

__ADS_1


____


Berkali-kali Haris menelepon istrinya itu tapi sayang ponsel istrinya itu tidak aktif. Terlihat Haris kesal lalu dia menelepon kantor Cindy tapi tidak ada jawaban disana.


"Nak, Papa mau ke kantor Mama ya, kamu tunggu di rumah," ucap Haris kepada Rara sang Anak. Rara pun mengangguk.


Dalam perjalanan menuju kantor istrinya itu Haris dihinggapi rasa resah dan gelisah keringat dingin bercucuran.


Tittt.....Tittt....


Tiba-tiba Haris membunyikan klakson mobilnya berkali-kali ketika berada di lampu merah, karena yang berada di depannya tidak mau maju mobilnya. Dan betapa kagetnya karena nampak terlihat jelas yang berada di dalam mobil adalah istrinya yaitu Cindy.


Lalu Haris membunyikan klakson mobil yang di dalamnya ada Cindy dan Bram. Dan dengan cepat dia menyusul laju mobil itu.


"Mah..!" Haris berteriak dalam mobil sambil membuka pintu kaca mobil itu.


Sontak Cindy kaget dibuatnya ketika mendengar suara Haris memanggilnya.

__ADS_1


__ADS_2